Busway. matanews.com

Apa enaknya bekerja di Jakarta? Enaknya adalah kita bisa naik busway ke kantor! Hehehe… ! Bergelayutan dan terombang-ambing ke sana kemari ketika busway melaju dan mengerem adalah sebuah keasyikan tersediri. It’s Salsa on the bus. 🙂

Tak ada kota lain yang memiliki transportasi busway selain Jakarta jadi jika kita bisa naik busway ke kantor maka itu tentulah sebuah ‘kemewahan’.

Busway saat ini merupakan transportasi umum beroda empat yang paling cepat di belantara lalulintas Jakarta yang luar biasa macetnya itu. Bahkan Ferrari keluaran terbaru tidak bisa menandingi kecepatan busway untuk mengantarkan penumpangnya kesana kemari ketika Jakarta sedang membangunkan penduduknya untuk mulai bekerja. Berbagai macam kendaraan pribadi yang mewah dan mampu dilecut dalam kecepatan tinggi akan tersipu-sipu melihat busway melaju di jalurnya yang istimewa tersebut. Tak ada yang bisa menandinginya, kecuali ojek tentunya. Ojek ini sejenis kendaraan umum berpenumpang satu yang mampu melaju di tempat-tempat yang tidak masuk akal. Tak ada tanda ‘Dilarang Masuk’ yang mampu menggentarkan hatinya. Ia bisa masuk ke mana saja yang ia maui dengan lincahnya.

Jika Jakarta sedang bangun dan penduduknya sedang bekerja maka lalulintas akan mengalami kram. Jika anda pernah mengalami macet di kota lain maka kemacetan di Jakarta adalah sebuah pamuncak, an exstacy. 🙂 Saya pernah mengalami kemacetan ketika membawa kendaraan dari Surabaya ke Madiun dan sebaliknya pada saat lebaran tiba. Pada saat itu rasanya hampir semua penduduk mau mudik pada saat yang bersamaan sehingga jalanan lumpuh seperti terkena totok jalan darahnya. Jarak Surabaya ke Madiun yang biasanya ditempuh dalam 3 atau 4 jam menjadi 7 atau 8 jam. Dan itu lumayan membuat Anda stress. Tapi tentu saja hanya pada saat mudik saja.

Di Jakarta Anda mengalami stess tersebut setiap hari baik itu pada saat berangkat ke kantor mau pun pulangnya (Ah! Rasanya di hampir semua waktu. Bahkan jam 9 malam pun lalu lintas masih krodit) Jadi bayangkan betapa frustrasinya kita jika belum mampu menyesuaikan diri dengan irama Jakarta. Dari Sudirman ke Kuningan yang kalau sedang lancar biasanya 10 – 15 menit bisa menjadi 1 atau 2 jam bergantung seberapa hebat kekacauan di jalan.

Bayangkan jika Anda sedang punya janji penting dan Anda sudah memperhitungkan waktu Anda dengan cermat untuk tiba di tempat pertemuan dan tiba-tiba jalanan mengunci tanpa kita ketahui apa sebabnya. Jangankan kita, bahkan motor patroli polisi pun tak bisa bergerak kalau jalanan sedang chaos. Sungguh tak ada gunanya punya mobil Ferrari, Jaguar, atau Lamborghini kalau berada di jalanan Jakarta. Cuma menang nampang doang tapi Anda akan dilewati dengan semena-mena oleh busway. Kecian deh lu…! Hanya busway yang punya jalan khusus di belantara lalulintas Jakarta dan itu sebabnya ia merupakan kendaran umum yang paling bisa diandalkan saat ini. (tapi saat ini jalur busway pun sudah dirampok oleh para pengendara yang telah berubah menjadi tiran).

Karena ia merupakan kendaraan umum yang paling bisa diandalkan maka tentu saja transportasi ini diserbu oleh para komuter. Pada jam-jam sibuk berangkat dan pulang kantor busway semua jurusan akan menjadi kaleng sarden dengan kecepatan tinggi karena sesaknya. Jika Anda beruntung maka Anda akan dihimpit oleh gadis-gadis muda berparfum wangi dari depan, belakang, kanan dan kiri. Saya tidak akan mengeluh jika ini yang terjadi (they do). 🙂 Tapi kadangkala pada saat apes yang kita terima adalah muka kita persis berhadapan dengan ketiak penumpang lain yang telah bekerja di udara terbuka seharian. Kalau sudah begini saya hanya bisa bergumam dalam hati,” Teganya….teganya….!”

(Pakar transportasi perkotaan memperdiksikan, jalan-jalan di Jakarta akan mengalami kelumpuhan transportasi atau kemacetan total pada 2015.)
Who cares…?! I might not be there anymore at that time.)

Sayang sekali Jakarta tidak memiliki MRT (Mass Rapid Transport) seperti kota-kota besar dunia lainnya. Padahal MRT ini sebenarnya adalah solusi yang paling pas untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Saya sendiri sangat menikmati MRT di Singapura yang sangat efisien dan nyaman tersebut.

Kenapa MRT ? Karena hanya MRT yang mempunyai cukup kapasitas untuk memenuhi kebutuhan transportasi kota Megapolitan seperti Jakarta.

Per jalur MRT memiliki kapasitas 50.000 / penumpang / jam.
Jadi, setiap jalur MRT akan bisa melayani sekitar 500.000 penumpang / hari.

Ini JAUH diatas solusi lainnya. SELURUH jalur Busway yang ada baru hanya bisa melayani 200 ribu penumpang / hari (2). SANGAT sedikit dibawah kapasitas bahkan 1 jalur MRT.
Padahal, Singapura saja sudah memiliki 4 jalur MRT.

Lantas kenapa kita belum juga punya MRT…?! Auk ah elap…!

Sebagai orang yang mencari dan menikmati privasi dalam kehidupan sehari-hari tentu saja sesaknya busway merupakan siksaan bagi saya. Sebelum ini saya tidak pernah naik busway dan selau naik taksi ke mana-mana. Lagipula daerah ‘operasi’ saya sebelum ini hanya Sudirman dan sekitarnya. Saya mulai benar-benar bekerja di Jakarta ketika dikontrak sebagai konsultan pendidikan di Sampoerna Foundation. Dan sebagai konsultan saya mendapat fasilitas yang sangat menyenangkan. Karena saya berkantor di Sudirman maka saya menginap di hotel berbintang empat atau lima di sekitar Senayan. Kadang saya cukup berjalan kaki ke kantor dan kalau pun naik taksi paling banter saya hanya membayar argo sekitar 15 ribu saja. Jadi saya tidak pernah mengalami kehebatan macetnya Jakarta.

Tapi ketika saya tidak lagi bekerja di Sampoerna Foundation dan ‘bekerja’ sepenuhnya untuk IGI maka semua fasilitas itu tentu tak ada lagi. Saya tinggal di rumah adik di Pramuka Sari dan daerah kerja saya semakin luas. Di situlah saya diperkenalkan dengan nikmatnya ‘Salsa on the Bus’ oleh Mas Nanang. Ia yang mengajari saya bahwa busway itu akan menghemat banyak waktu (dan uang) saya untuk beredar dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta.

Saat ini saya sering bepergian dengan naik busway dan mulai menyukainya, terutama ketika bukan pada jam-jam sibuk seperti jam berangkat dan pulang kerja. Pada jam-jam tersebut padatnya luar biasa dan saya masih tidak bisa memaksakan diri untuk berdesakan di dalam bus. Bahkan antri panjangnya yang bisa mencapai jembatan persimpangan di Dukuh Atas bisa membuat hati saya langsung kecut dan turun naik taksi lagi.

Selain busway dan taksi ada banyak model transportasi umum lainnya yang tersedia di Jakarta. Ada bajay, ada metro-mini, ada ojek, ada kereta, ada Mikrolet, Kopaja, dan juga ojek sepeda! Rasanya baru di Jakarta saya melihat ada Ojek Sepeda (meski belum pernah mencobanya).

Saya mangkal disini 8 tahun dan masih banyak kok orang yang naik ojek sepeda, tapi memang dibandingkan tahun sembilan puluhan sekarang lebih sedikit penumpangnya,”kata Heri yang telah 15 tahun menjadi ojek sepeda.”

Semua jenis transportasi itu tumpah ruah berebut ruang untuk melaju di setiap jengkal jalanan di Jakarta meski beringsut sedikit demi sedikit. Sudah untung hal ini tidak diperparah oleh adanya becak! Becak sudah lama dirumponkan jadi sarang ikan di Jakarta. Ada olok-olok yang mengatakan bahwa dulu becak dijadikan rumpon, 50 th lagi mungkin mobil Ferrari dijadikan rumpon di laut Jawa. Becak itu memang sudah tidak masuk akal hidup di Jakarta meski sebenarnya kendaraan ini yang paling tidak menyumbangkan polusi.

(“Kalau meninjau dari segi kemacetan, yang bisa menghasilkan gas rumah kaca, Jakarta sekitar 44 persen gas rumah kacanya dari transportasi. Sekitar 19 juta ton per tahun. Berarti kalo tidak macet, itu bisa berkurang juga. Jalanan juga lancar,” kata Menteri Negara Lingkungan Gusti Muhammad Hatta.)

Enaknya kerja di Jakarta adalah kita tidak harus berada di kantor. Kita bisa ‘ngantor’ di mall-mall atau café-café yang bertebaran di mana-mana. Saya bahkan sudah lama tidak mendatangi kantor IGI di Pasar Minggu yang jauhnya naujubillah itu. Saya tinggal memilih ‘kantor’ mana yang paling nyaman bagi saya di sekitar Senayan dan Kuningan. Biasanya kami janjian untuk bertemu di fX Mall, di samping kantor Dikti, atau di Plaza Senayan, Pacific Place, Senayan City, Resto Mc Donald di samping STC yang buka 24 jam tersebut, atau di perpustakaan Kemdiknas sumbangan British Council tersebut. Pilih saja mana yang disukai. Saya bahkan pernah ‘ngantor’ di Muffin House di lantai dasar fX Mall mulai baru buka sampai selesai maghrib. Untungnya resto itu tidak pernah penuh sehingga keberadaan kami dan teman-teman yang berdatangan untuk menemui kami di resto tersebut justru menguntungkan bagi pemilik resto. Ketika harus membayar semua pesanan pada akhir jam ‘ngantor’ saya sempat kaget karena tagihannya hampir mencapai setengah juta rupiah! Mahal juga rupanya ‘ngantor’ seharian di Muffin House ini. 🙂

Yang lebih enak lagi sebenarnya adalah kalau ‘ngantor’ di lobi atau kamar hotel di Century. Hotel Century telah menjadi langganan saya bertahun-tahun dan hampir semua karyawan bell- boy dan room- boy hapal dengan saya. Mereka selalu menyebut nama saya kalau berpapasan dan itu cukup membuat heran teman-teman yang bersama saya. ‘Kok mereka hafal dengan namamu…?!” tanya mereka. “Itu policy hotel ini, to remember the name of all guests.” Jawab saya.

Kalau lama tidak nginap di sana mereka akan tahu dan akan bertanya,”Kok lama nggak ke sini, Pak Satria?”. Mereka tentu tidak tahu kalau saya sudah tidak lagi bekerja di SF. Itu artinya kalau saya masih nginap di sana pastilah pakai dana sendiri dan tentu saya akan pakai pertimbangan kalau mau nginap di sana. Kalau tidak terlalu urgen atau terlalu capek pulang saya tidak akan buka kamar di Century dan lebih baik naik taksi ke rumah adik saya di Pramuka Sari. Bagaimana pun biaya nginap di Century cukup besar bagi ‘pengangguran’ seperti saya dan rasanya lebih baik saya pakai untuk hal lain ketimbang selalu menginap di hotel Century.

Jika saya menginap di Century maka tentu saja saya lebih suka ‘ngantor’ di kamar hotel yang sangat luang tersebut. Kamar hotel Century sangatlah lega jika dibandingkan dengan kamar-kamar hotel lainnya, meski yang lebih tinggi kelasnya.

Saat ini saya selalu bepergian dengan seminim mungkin bawaan. Saya sudah melakukan ‘deposit’ pakaian dan dokumen penting saya di rumah adik saya. Dengan demikian saya bisa bepergian ke Jakarta cukup dengan membawa ransel backpack dan begitu urusan di jakarta selesai saya bisa pesan tiket pulang atau pergi ke mana saja cukup dengan SMS. Begitu ada konfirmasi berupa nomor booking tiket maka saya segera meluncur ke bandara Sukarno Hatta untuk meninggalkan Jakarta.

Meski demikian, kadang-kadang membawa ransel juga bisa merepotkan utamanya kalau kita mau naik busway yang berdesakan tersebut. Untuk itu saya punya strategi lain yaitu dengan menitipkan ransel saya pada petugas ‘concierge’ di hotel Century. Karena mereka sudah mengenal saya maka mereka tidak lagi bertanya saya dari kamar berapa. Mereka tentu berpikir bahwa saya menginap di hotel tersebut hari itu dan saya titip tas sebelum check-out seperti biasanya. 🙂 Did I cheat…?! Rasanya tidak karena tak ada aturan tertulis hanya tamu hotel HARI ITU yang boleh titip tas di concierge. I was a guest, too, wasn’t I! 🙂 Lagipula para petugas hotel tersebut selalu dengan senang hati menyambut saya karena mereka suka pada tips yang hampir selalu saya berikan pada mereka. Tak ada yang dirugikan (bahkan ini saling menguntungkan, saya rasa). Don’t you think so…?!

Balikpapan, 5 Juni 2011
Satria Dharma

Iklan