Bu Siami dan suami, Pak Widodo. Dok. Detik.com

Tiba-tiba saya disibukkan oleh kegiatan yang tidak saya sukai, terjebak dalam upaya advokasi yang tidak direncanakan di mana saya harus tampil berbicara di depan umum. Akhir pekan ini tiba-tiba IGI bersama-sama dengan ICMI Jatim dan IKA Unesa harus tampil untuk membela seorang ‘whistle blower’ kecurangan UN di SDN 2 Gadel, Tandes, Surabaya yang akhirnya sampai terusir dari rumahnya di daerah Gadel, Tandes karena melaporkan kecurangan UN di SDN 2 Gadel di mana anaknya bersekolah. Masyarakat Gadel tidak terima dengan tindakan skorsing yang dijatuhkan pada para guru yang melakukan kecurangan dan mereka bukan hanya tampil membela para guru yang curang tersebut dan bahkan berbalik mengusir si ‘whistle blower’ dari kampuang dan rumahnya sendiri. Sebuah kejadian yang sangat tragis, ironis, dan sangat menampar kesadaran dan hati nurani kita. Berita ini kemudian menjadi headline dengan judul ‘Jujur- Ajur’, yang jujur justru hancur. Sebuah pesan moral yang sungguh mengenaskan.

Ketika Susno Duadji dihancurkan karena menjadi ‘whistle blower’ dalam kasus korupsi di institusinya sendiri sebenarnya negara kita sudah menggali kuburannya sendiri. Saya bersedih dan berduka… sampai sekarang! Saya tidak pernah bisa menghapus rasa sedih saya karena kasus tersebut. Ini sebuah kekalahan moralitas bangsa yang telak! Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa pun. Bahkan seluruh bangsa Indonesia terpaku tak berdaya menghadapi pukulan balik para pelaku korupsi yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan Susno Duaji. Bahkan Susno Duaji, seorang Jendral Polisi berbintang 3, tak mampu melawan konspirasi para pelaku kejahatan yang hendak diungkapnya. Beliau bahkan harus masuk penjara karena terkena pukulan kasus balik dari koleganya sesama polisi. Bayangkan betapa gilanya! Bahkan polisi berbintang tiga tak mampu membersihkan korupsi dan konspirasi kejahatan yang ada di insititusinya sendiri dan bahkan ia harus mendekam di penjara sebagai konsekuensinya! Apa pesan yang kita terima…?! ‘Sing Jujur Ajur! Jika Anda berupaya untuk menjadi jujur di masyarakat yang tidak jujur ini maka Anda akan hancur berkeping-keping. Jangan coba-coba untuk bersikap jujur jika tidak inign terkena dampaknya seperti Susno Duaji… dan keluarga Ny Siami dalam kasus Ujian Nasional di SDN 2 Gadel ini.

Tapi ketika kasus SDN 2 Gadel ini terjadi saya kebetulan sedang berada di Surabaya dan saya tidak tahan untuk tidak melakukan apa-apa. Saya begitu gelisah membaca berita ini dan mondar-mandir menghubungi teman-teman untuk melakukan sesuatu. ‘Pada kemana semua para mahasiswa kita yang gagah berani dan selalu tampil dalam hal-hal seperti ini…? Kenapa tak ada satu pun saya baca ada BEM yang bereaksi terhadap kasus ini..?!!’, demikian tanya saya dalam hati. Kita harus melawan situasi ini dan tidak menyerah terhadap kejahatan. Kecurangan dalam UN sendiri adalah sebuah kejahatan apalagi jika itu dilakukan secara terstruktur oleh institusi sekolah tersebut secara massal dengan mengorbankan nilai-nilai pendidikan yang seharusnya dibangun oleh institusi pendidikan itu. Ketika kecurangan ini terungkap semestinya yang bersalah bersedia menerima hukuman atas kesalahannya dan masyarakat melakukan koreksi atas kesalahan tersebut. Ini semestinya yang terjadi dalam sebuah masyarakat yang sehat dan memiliki nilai-nilai moral kebenaran yang dijunjung tinggi secara kolektif. Tapi yang terjadi di Desa Gadel justru sebaliknya. Si pelaku kejahatan justru dibela dan si pelapor justru disalahkan dan dianggap menghancurkan nama baik sekolah. ‘Nama baik’ sekolah..?! Apakah kecurangan adalah ‘nilai baik’ yang harus dibela..?! Masyarakat rupanya menganggap bahwa tindakan sekolah untuk membantu agar semua siswa bisa lulus meski pun dengan kecurangan adalah sebuah sebuah hal yang ‘baik’. Mereka menganggap itu sebagai sebuah nilai kesetiakawanan yang patut diapresiasi. Masya Allah…! Kejahatan bersama adalah sebuah kebaikan bagi mereka dan siapa pun yang berani membongkar kejahatan bersama ini maka harus dihukum dengan dikeluarkan dari komunitas tersebut. Sungguh mengerikan! Benarkah bahwa ini nilai-nilai yang kita anut sekarang dan harus kita terima sebagai sebuah kenyataan…?! Tak salah jika para pakar menyatakan bahwa masyarakat kita sedang sakit (meski masyarakat itu sendiri samasekali tidak merasa sakit). Ini jelas lebih parah daripada sekedar sakit karena biasanya si sakit sadar bahwa dirinya sakit dan berupaya untuk mencari penyembuhan. Masyarakat Gadel yang melakukan pengusiran pada ‘whistle blower’ justru menganggap si ‘whistle blower’ (satu-satunya orang tua yang waras dalam kasus kecurangan UN tersebut) adalah pihak yang sakit dan bersalah sehingga harus dikeluarkan dari lingkungan mereka. Melakukan pengusiran dari rumah pribadi seseorang sendiri adalah sebuah kejahatan dan pelanggaran HAM. Jadi ini adalah kesalahan di atas kesalahan yang bahkan tidak disadari oleh masyarakat Gadel.

Melihat ini mau tidak mau saya harus melakukan sesuatu. Saya sedang berada di TKP dan kalau saya tidak melakukan sesuatu kali ini maka saya akan menyesali diri saya se umur hidup. Oleh sebab itu saya kemudian menghubungi kawan-kawan yang kemudian juga menghubungi kawan-kawan lain sehingga berkumpullah kami, IGI, ICMI Jatim dan IKA Unesa, yang kemudian bersepakat untuk melakukan aksi pembelaan dan dukungan bagi kejujuran yang dilakukan oleh Ny Siami Si ‘Whistle Blower’ . Kami buat pers-rilis dukungan kami dan kirim ke berbagai media yang langsung dimuat pada hari itu juga oleh media on-line. Kami datangi Radio Suara Surabaya dan kami langsung diberi waktu untuk menyampaikan sikap dan dukungan kami tersebut secara ‘live’ dan bahkan hari ini kami diberi kesempatan untuk tampil di televisi JTV, sebuah TV lokal di Surabaya milik Jawa Pos Group pada jam 22:00 malam nanti.

Saya tidak menikmati untuk menjadi sorotan publik dan selalu memilih untuk berdiri di belakang layar. I hate being heroic. Tapi nampaknya kali ini saya mesti maju sendiri untuk menyampaikan apa yang harus saya sampaikan. Saya harus sampaikan kembali penolakan keras saya pada Sistem Ujian Nasional kita yang bukan hanya tidak rasional tersebut tapi juga akan memakan nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat kita karena bersifat ‘very high stakes’. Ujian Nasional kita yang dijadikan seabgai syarat kelulusan akhirnya memang menjadi ‘very high stakes’ atau menjadi pertaruhan besar yang menentukan sukses dan gagalnya pendidikan baik siswa, sekolah, maupun daerah. Masa depan dan eksistensi pendidikan dipertaruhkan dalam Ujian Nasional yang seharusnya hanyalah sebuah sistem untuk memetakan daya serap proses pembelajaran. Ujian Nasional telah dijadikan sebagai penentu yang sangat berkuasa. Tak boleh ada yang gagal dalam Ujian Nasional ini karena menyangkut masa depan banyak pihak baik itu siswa, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, masyarakat, dan bahkan kepala daerahnya sendiri. Kegagalan dalam UNAS adalah aib besar bagi sekolah, masyarakat, daerah, maupun bangsa. Karena tak boleh ada yang gagal dan mendapat aib karenanya maka segala cara harus ditempuh untuk mencapai keberhasilan dalam Ujian Nasional ini, termasuk berbuat curang secara tersistem seperti yang terjadi di SDN 2 Gadel tersebut. (Baca artikel saya di sini)

Jadi Ujian nasional ini akhirnya mengalahkan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran. Kita menyaksikan betapa suksesnya Ujian Nasional kita yang mencapai 99 koma sekian persen tersebut (tak ada negara lain yang bsia mengalahkan Indonesia dalam sukses ujian nasional ini) tapi kita tahu bahwa itu sukses karena kita curangi secara bersama dengan diam-diam. Dunia pendidikan ini lebih memilih untuk sukses UNAS dengan menghancurkan nilai-nilai kebenaran.
Itu harga yang terlalu mahal untuk kita bayar. Bangsa kita adalah taruhannya. Jika kita biarkan maka masa depan bangsa akan hancur. Kasus SDN 2 Gadel ini adalah salah satu contohnya. Kita melihat betapa masyarakat Gadel lebih memilih untuk berkonsprasi pada kecurangan UN ketimbang bersikap dan bertindak jujur. Yang bersikap dan bertidakn jujur justru akan hancur. Bangsa kita sedang menuju bangsa yang curang dan membela kecurangan. Ini sebuah gambaran yang sangat mengerikan bagi saya. Dan saya lebih baik turun ke jalanan daripada membiarkan ini terus terjadi. Kasus SDN 2 Gadel ini adalah sebuah ujung dari gunung es yang muncul. Kita tahu bahwa kasus yang ada sudah berskala nasional dan ada di depan mata kita. Jika kita terus menerus menutup mata kita terhadap kecurangan demi kecurangan maka pada hakikatnya kita sendiri adalah pelaku kecurangan itu sendiri. Dengan melakukan ini semua saya hanya ingin menyatakan bahwa saya tidak terlibat dalam kejahatan ini dan juga tidak membiarkan kejahatan ini terjadi begitu saja. I do something.

Surabaya, 11 Juni 2011
Satria Dharma

Referensi Berita :
http://www.didiksugiarto.com/2011/03/susno-duaji-dihukum-3-tahun.html

http://berita.liputan6.com/hukrim/201001/258420/Susno.Duaji.Diancam.Dibunuh

http://masmintos.blogspot.com/2010/03/pengakuan-terbaru-susno-duaji-tentang.html
http://www.republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/06/05/lmbash-satu-sekolah-nyontek-massal-guru-pun-terancam-dipecat

http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/05/19391278/Izinkan.Nyontek.Massal.Kepsek.Terancam
http://www.siapbos.net/ada-gladi-resik-nyontek-massal-di-un-sd.html
http://www.suarasurabaya.net/v06/kelanakota/?id=a6b112dace372a95577e3c1b09550906201193562

http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=3796db20e4f4471eff0c6572511572df201193563

http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=26941e7fe6bc8bf7d1df871cfbf26a84201193565

http://www.koransuroboyo.com/2011/06/prof-dr-daniel-m-rosyid-masyarakat-ini.html

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=8e50134dc2d9e291fde5c0a5563fca18&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Iklan