Source: wikipedia.org

Pagi ini saya ditinggal istri dan anak-anak mudik ke Surabaya. (Oh..I miss them already). Tiba-tiba rumah kami yang besar ini terasa ‘ngglondhang’. kosong. (Everything is still the same but part of my soul is away). Tinggal saya dan anak sulung saya di rumah (sekarang pun ia telah ke luar rumah). Semestinya kami semua memang mudik ke Surabaya tahun ini. Istri saya bahkan sudah membeli tiket untuk kami semua sebulan sebelumnya! Tahun ini memang ‘jatah’ kami mudik ke Surabaya (dan Madiun kota kelahiran istri saya). Tahun lalu kami sudah berlebaran di Balikpapan dan tahun ini adalah ‘jatah’ mudik ke Surabaya. Kami memang mengatur waktu berlebaran bergantian.

Tapi tiba-tiba terjadi perubahan. Tiba-tiba Bapak (ayah saya) meminta kami anak-anaknya untuk berlebaran di Balikpapan saja. Anaknya ada 11 (sebelas) orang dan kami semua diminta untuk berlebaran di Balikpapan saja. Dan itu tidak biasanya! Biasanya Bapak tidak pernah mengatur di mana kami akan berlebaran karena biasanya Mama yang mengaturnya. Tapi sekarang Mama telah tiada. Beliau telah meninggalkan kami beberapa bulan yang lalu dan Bapak ingin agar kami berkumpul berlebaran seperti biasanya di Balikpapan saja.

Akhirnya kami putuskan bahwa saya akan tetap di Balikpapan untuk berlebaran bersama Bapak dan saudara-saudara dan istri saya, bersama anak-anak , pulang ke ayahnya juga di Surabaya. Ternyata anak sulung saya juga membatalkan pulang ke Surabaya karena sepupu-sepupunya akan datang semua ke Balikpapan. Dan ia ingin berlebaran bersama sepupu-sepupunya. Suasana tentu akan meriah dan semarak dibandingkan pulang ke Surabaya dan Madiun. Dan tiketnya pun diberikan pada seorang kerabat yang ingin mudik.

Istri saya merengek untuk mengajak saya mudik ke Surabaya setelah lebaran H+2. Dan ketika saya menatap matanya yang berbinar-binar itu rasanya saya ingin langsung menyetujuinya (Oh..my! I love her so much. Each and everyday). Tapi satu-satunya tiket yang tersisa pada H+2 adalah Garuda dengan harga 3,6 juta! Itu baru tiket one-way, belum pp. ‘Sungguh harga yang tidak sopan..!’ omel saya. Saya juga belum punya tiket kembali nantinya dan tentu kalau ada harganya tentunya juga setinggi plafon. Tujuh juta untuk satu orang mudik…?! Terima kasih banyak tapi… tidak, terima kasih! Saya punya uang kalau hanya untuk tiket pp tapi saya sungguh tidak tega membelanjakan uang sebanyak itu untuk sebuah tiket BPN-SUB pp. (Biasanya saya dapat tiket promo seharga 400 ribuan saja lho!)

Saya mengantarkan mereka ke bandara dan melihat betapa penumpang tumpah-ruah. Rupanya gerakan mudik nasional sudah mencapai tingkat tinggi karena anak-anak sudah pada libur. Antrian check-in penuh tapi tetap tertib. Syukurlah! Dan rasa syukur menyelinap dalam hati saya. Bagaimana pun mereka mudik naik pesawat Garuda dan bukan kereta api atau kapal laut. Saya melihat bagaimana repot dan beratnya mudik dengan kereta api dan kapal laut di TV dan tidak bisa membayangkan jika keluarga saya harus melakukan hal yang sama. Dulu kami beberapa kali mudik naik kapal laut tapi sekarang tidak perlu lagi. Tiba-tiba saya teringat pada bacaan AlQur’an saya yang telah sampai di Surat Ar-Rahman dan ayatnya yang berulang-ulang disebutkan “Maka nikmat Tuhan mu yg manakah yang kau dustakan?” Tak ada nikmat Tuhan yang ingin saya dustakan. Saya ingin mensyukurinya.

Saya kembali ke rumah dan merasakan rumah begitu lengang. Anak sulung saya masih tidur dan tak ada bunyi-bunyi kecuali cicit burung di belakang rumah. Saya segera melakukan sholat dhuha dan kembali merasa bersyukur. Suasana pagi ini begitu damai dan tentram. Saya merasakan inner peace yang luar biasa dan tanpa terasa air mata saya bercucuran. Allah begitu penuh kasih dan sayang pada kami sekeluarga. Dicukupkannya kami dengan segala kebutuhan tanpa perlu bersusah-payah. Padahal saya tahu benar begitu banyak keluarga yang mendapatkan kesulitan bahkan untuk sekedar memperoleh nafkah yang layak. Mengapa Allah begitu ‘mengistimewakan’ saya…?! Tak henti-hentinya saya mensyukuri nikmat yang dilimpahkannya pada kami sekeluarga. It’s so special. Saya menggigil dan ayat dari surat ar-Rahman tersebut kembali terdengar di hati. Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?). ‘Tidak ya Allah! Kami tidak akan mendustakan nikmatMu. Ampunilah dosa-dosa kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.’

Saya sungguh bersyukur bahwa Ramadhan kali ini saya dapat menikmatinya dengan baik. Saya hanya ‘bertugas’ keluar Balikpapan tiga kali, sekali ke Bali, sekali ke Jakarta, dan terakhir ke Samarinda ketika melayat. Yang ke Jakarta pun saya lakukan pulang pergi di hari yang sama sehingga saya tidak perlu menginap. Sisanya saya menikmati Ramadhan dengan ritual rutin beribadah. Setiap malam kami bertarawih bergantian di rumah-rumah saudara yang tinggal berjejer di komplek kami. Sembilan orang dari kami tinggal di komplek Pupuk Baru berjejeran sehingga kami tinggal bergantian untuk melaksanakan sholat Tarawih. Kami juga bergantian menjadi imam dan ceramah kultum. Setelah itu kami membagikan paket minum dan kue untuk para tetangga yang ikut jamaah kami. Jamaah tarawih di rumah kami tidak banyak. Paling banter hanya 30-an orang dengan anak-anak. Sungguh nikmat rasanya tarawih di rumah sendiri seperti ini.

Selain tarawih dan sholat malam, mengaji juga saya lakukan dengan lebih banyak daripada biasanya. Pagi ini saya sudah memasuki Juz 27, di Surat Ar-Rohman. Itu artinya sebentar lagi saya akan menyelesaikan atau khatam dua kali dalam Ramadhan ini. Alangkah nikmatnya! Zakat, infak dan sedekah juga telah kami tunaikan. Semua orang yang ingin kami sedekahi sudah kami catat baik-baik. Sebagian besar sudah kami lakukan dan sisanya nanti pada saat lebaran. Keluarga-keluarga akan berdatangan dan mereka tentu akan menunggu ‘angpao’ dari kami. Kemarin saya dan istri juga berkeliling ke jalan-jalan untuk membagikan paket sembako pada para penyapu jalanan yang berseragam oranye itu. Parsel-parsel juga telah kami kirim ke rumah masing-masing sampai selesai. Kemarin saya juga telah melakukan transfer ke beberapa kerabat dan teman yang perlu kami kirimi. Rejeki kami bertambah tahun ini dan ‘angpao’ juga kami sesuaikan. Ini ritual yang menyenangkan bagi kami. Kami ingin menjadikan tahun ini sebagai Ramadhan dan lebaran terbaik untuk melakukan infak dan sedekah. Kami tidak ingin mendustakan nikmatMu ya Allah!

Semakin saya resapi semakin besar rasa syukur saya pada Allah dan itu membuat air mata saya semakin bercucuran memikirkannya. Ya Allah! Engkau begitu baik pada kami ya Allah. Engkau sungguh Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pemurah. Janganlah Engkau jadikan kami orang yang kufur setelah Engkau masukkan keimanan dalam hati kami ya Allah! Masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Anugerahi kami dengan derajat takwa pada Ramadhan ini ya Allah! Amin..!

Balikpapan, 24 Agustus 2011

Iklan