Ilustrasi. SDIT Lukman Al Hakim Surakarta. http://sditlukmanalhakim.blogspot.com/

Ilustrasi. SDIT Lukman Al Hakim Surakarta. http://sditlukmanalhakim.blogspot.com/

Tiba-tiba saja kepala sekolah anak saya Tara di SD Luqman Al-Hakim menelpon dan bilang ingin datang berdiskusi ke rumah dan sekalian buka bersama. Kasek dan para guru Luqman Al-Hakim memang sering datang ke rumah untuk ngobrol, tentang sekolah tentu saja. Saya memang terlibat pada pembukaan sekolah tersebut sejak awal dan mereka menganggap saya sebagai salah satu Pembina Sekolah.

Karena istri saya sudah mudik dan anak sulung saya buka bersama temannya di luar maka praktis tinggal saya sendiri di rumah. Jadi saya tanyakan berapa orang yang akan datang karena saya mesti menyediakan ifthar sesuai dengan jumlah tamu yang akan datang. Untungnya bahwa pada Ramadhan banyak sekali warga yang berjualan bermacam-macam ta’jil dan makanan apa saja. Jadi saya keluar rumah berbelanja untuk keperluan ifthar tersebut. Untuk praktisnya saya belikan nasi kotak di Redsto padang saja. Karena yang akan datang katanya hanya 5 orang ya belikan sesuai itu karena saya tidak ingin ada makanan tersisa. Lha wong gak ada orang lain di rumah! Weladalah lha kok yang datang 7 orang sehingga terpaksa saya mengetok pintu ‘connecting door’ dengan rumah adik saya di sebelah sehingga bisa disuplai dari sebelah.

Singkat cerita kami pun ngobrol soal sekolah Tara dan mereka minta advis bagaimana agar sekolah tersebut bisa lebih baik daripada sekarang ini. Dan saya pun memberikan beberapa advis klasik seperti pentingnya menjaga mutu guru di sana, jangan segan-segan mengeluarkan dana untuk pelatihan guru, kalau perlu kirim pelatihan dan studi banding ke Singapura dan Malaysia, buat jaringan dengan sekolah-sekolah islam lainnya, things like thatlah!

Tapi ketika pertanyaan digiring apa kelemahan sekolah-sekolah Islam (khususnya di Indonesia) maka saya langsung bilang bahwa sekolah-sekolah Islam belum mengajarkan dan mengembangkan olahraga dan seni budaya di sekolah. Belum pernah saya lihat pesantren, SDIT-SDIT yang memiliki fasilitas olahraga dan seni budaya yang benar-benar layak untuk dibanggakan. Bahkan ada kesan bahwa sekolah-sekolah Islam ‘menghindari’ olahraga dan seni budaya. Mengapa demikian…?! Ya karena ‘mindset’ para pengelola sekolah-sekolah Islam hanya berpikir tentang bagaimana menanamkan aqidah dan keimanan pada anak-anak didiknya. Soal ilmu pengetahuan dan teknologi boleh diurus belakangan (dan Alhamdulillah kita cukup terkebelakang soal ini). Apalagi soal olahraga (Kan wanita Islam itu sebaiknya tinggal dan duduk manis di rumah dan gak perlu prestasi olahraga) dan seni budaya…!( bukannya lukisan mahluk hidup itu diharamkan..?!) 😀 Jadi bukan hanya sekolah-sekolah Islam itu ketinggalan dalam soal olahraga dan seni budaya tapi bahkan TIDAK MENGENALNYA (dan sebagian bahkan mengharamkannya). (Lho..! Kan masih ada marawis, qasidah, dan nasyid…?! OKlah kalau kita menganggap itu sebagai ‘capaian’ sekolah Islam di bidang seni budaya).

Faktanya sekolah-sekolah Islam memang tidak perduli pada dua hal tersebut. Dulu saya pernah membaca bahwa Rasulullah sendiri katanya menganjurkan agar setiap anak-anak muslim itu diajarkan tiga cabang olahraga yaitu : memanah, berkuda, dan berenang. Saya cek ternyata Rasulullah SAW menganjurkan setiap muslim berolah raga secara rutin sebagai upaya untuk menjaga kesehatan dan kesegaran jasmani. Sabda beliau : “Ajarilah anakmu (olah raga) berenang dan memanah” (HR.Dailami) (Berenang..?! Luar biasa Rasulullah ini! Apa beliau dulu sempat berenang dan tahu manfaat berenang sehingga menganjurkan agar umat Islam berenang ya…?!). Tapi toh sampai saat ini belum ada umat Nabi Muhammad yang juara dunia berenang dan panahan…! Padahal pesan ini sudah disampaikan 14 abad yang lalu. Ini (kata saya pada mereka) karena tak ada sekolah Islam yang benar-benar mengajarkan olahraga sebagai sebuah pencapaian prestasi bagi para siswanya. Seolah dunia Islam di masa kini dan di masa depan itu tidak bersentuhan dengan olahraga.

Tapi setelah saya sadari ternyata bukan hanya sekolah-sekolah Islam yang tidak perduli dengan dua hal tersebut. Sekolah publik kita juga tidak perduli. Sekolah-sekolah yang dibangun kini boleh dikata tidak dirancang untuk memiliki fasilitas olahraga dan seni budaya yang memadai. Kalau pun ada paling banter hanya lapangan bola basket yang merangkap lapangan bola volley. Tok til…!

Ah..! Tiba-tiba saya mengimpikan sebuah sekolah yang memiliki ‘outdoor dan indoor sport facilities’ dan gedung seni dan budaya agar siswa-siswa sekolah tersebut bisa ‘melampiaskan’ bakatnya di bidang olahraga dan seni budaya. Kemarin saya nonton TV tentang sekolah di Amerika yang punya guru musik yang bisa membuat pagelaran musik klasik setiap tahun bagi siswa-siswanya. Ini sekolah publik lho!

Ah..! Tiba-tiba saya teringat dengan ‘sekolah bertaraf internasional’ yang kita bangga-banggakan itu yang ternyata kagak nginternasional acan kalau ditinjau dari masalah olahraga dan seni budaya ini.

Ah..! Betapa saya iri melihat bagaimana para siswa SMU yang berprestasi di bidang olahraga begitu dihargainya sehingga dijadikan rebutan oleh para perekrut siswa berprestasi perguruan tinggi terbaik di Amerika. Mereka sudah dipantau prestasinya di turnamen-turnamen sekolah menengah dan kemudian jika punya prestasi akan diming-imingi beasiswa dan fasilitas bermacam-macam agar mau berkuliah di perti mereka. Mereka tahu bahwa para atlit tersebut adalah asset sangat berharga bagi perguruan tingginya. Bayangkan kalau mereka kemudian menjadi olahragawan terkenal dunia! Mereka pasti akan dicatat namanya sebagai alumni perguruan tinggi di mana ia kuliah. Tentu tidak rugi memberi mereka beasiswa berapa pun besarnya karena begitu mereka menjadi olahragawan top maka tentu ada kemungkin mereka juga akan menyumbangkan sebagian pendapatan mereka bagi almamater kelak.

Tahukah Anda penghasilan olahragawan terkenal dunia…?! Samuel Eto’o penyerang asal Kamerun (penyerang sepakbola maksudnya, bukan penyerang sesama) diberitakan akan bergabung dengan Anzhi, dan Eto’o akan menjadi pemain bergaji tertinggi di dunia. Nilai transfer Eto’o sebesar 27 juta euro atau sekitar Rp 332 miliar…! Klub asal Rusia itu akan memberikan gaji sebesar 20,5 juta euro (setara Rp 246 miliar) per tahun. Saya yakin sampeyan dan saya tidak akan pernah melihat uang sebanyak itu dalam hidup. Apalagi memperolehnya (lha wong nendang bola aja kagak gablek gitu..!) 😀

Bayangkan kalau Eto’o itu satu almamater dengan Anda. Anda tentu akan nggedabrus tidak habis-habisnya betapa Anda pernah kos bareng dengan Eto’o, teman satu tim di futsal kampus, pernah utang di warung sama Anda kemudian Eto’o lupa mbayar, dlsb. 😀 Pokoknya Anda akan bangga setengah mati pernah kenal dengan Cak To’o ini.

Bagaimana dengan seniman dan budayawan…?! Kabarnya Tukul Arwana (yang tidak mirip dengan ikan Arwana sama sekali itu) penghasilannya 15 M. Padahal pekerjaannya cuma membuat penonton tertawa di TV…! That’s all. Di bidang seni lukisan karya I Nyoman Masriadi berjudul “The Man from Bantul (The Final Round)”, terjual dengan harga Rp 10 miliar. Harga ini merupakan rekor harga tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Itu satu lukisan lho…! (Padahal masih banyak manusia di sekitar Bantul yang juga bisa dilukis. ‘The Man from Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, dll’ Tapi entah laku atau nggak itu masalah lain).

Intinya, sekolah-sekolah kita belum menghargai berbagai profesi yang justru bisa menjadikan siswa-siswanya menjadi pesohor sekaligus kaya raya di masa depan. Sekolah-sekolah Islam tidak perduli bahwa olahraga dan seni budaya adalah bidang-bidang yang juga harus dikuasai oleh para muslim di masa kini dan masa mendatang. Seolah sekolah-sekolah Islam ini hanya mempersiapkan siswa-siswanya untuk masuk sorga di akhirat saja dan perkara dunia biarlah umat lain yang mengambilnya (maafkan sikap sinis saya ini).

Balikpapan, 26 Agustus 2011
Satria Dharma

Referensi :
1. http://pariwisata-visitjember2009.blogspot.com/2009/05/olahraga-ala-rasul.html
2. http://bola.kompas.com/read/2011/08/21/23355258/Gaji.Etoo.Bakal.Tertinggi.di.Dunia
3. http://altahida.wordpress.com/2009/02/11/lukisan-pelukis-indonesia-termahal-di-asia-tenggara/