Roda pesawat Batavia yg saya tumpangi mendarat di landasan bandara Rendani Manokwari pada pukul 06:45 WIT. Setengah jam terlambat dari jadwal. Hampir semua penerbangan ke Papua dilakukan tengah malam atau sangat pagi. Saya sendiri naik pesawat jam 03:30 WITA dari Bandara Hasanuddin Makassar. Saya meninggalkan hotel sekitar jam 01:00 menuju bandara yg cukup jauh dari kota dan itu artinya saya tidak tidur semalaman! Untungnya saya sempat tertidur sekitar 1 jam di pesawat.

Ini memang perjalanan pertama saya ke Papua. Selama ini berkali-kali saya gagal datang ke Papua meski telah terjadwal. Kali ini saya diundang oleh ‘Pakde’ Sudarsono yg dulu pernah bekerja bersama saya di Sampoerna Foundation. Tak lama kemudian ia keluar dan bekerja di British Council Bintuni, Papua. Ialah yg mengundang saya utk menjadi pembicara seminar ttg Pendidikan Karakter di Bintuni sekarang ini. Bintuni sendiri masih berjarak 1 jam perjalanan pesawat dengan Susi Air dari Manokwari atau kalau suka perjalanan darat bisa ditempuh dalam 8 jam masuk hutan dg kondisi jalan yg buruk. Tapi itu kata Pak Leo, dosen Uncen yg akan jadi pembicara juga dan sudah menginap semalam di Manokwari. Kami berdua yg akan mengisi acara seminar Pendidikan Karakter di Bintuni. Untungnya saya sudah memperoleh banyak materi dari Pak Martadi, dosen Unesa yg memang menangani proyek pendidikan karakter dari Kemdiknas. Right from the first hand and right from the expert!

Saya sudah lama ingin datang ke Papua utk mengenal saudara-saudara kita warga Papua dan berbagi dengan mereka. Entah rasanya ada perasaan simpati sekaligus berhutang pada mereka sebagai saudara se tanah air yg karena tinggal jauh dari Jakarta sebagai pusat pemerintahan maka mereka juga tertinggal dari pembangunan yg serasa berpusat di Jawa semata. They have been neglected for so long. Oleh sebab itu saya ingin membawakan oleh-oleh bagi anak-anak Papua sebagai ungkapan rasa cinta saya pada mereka. Saya putuskan untuk membawa buku-buku bacaan yang saya kumpulkan dari sampel jualan adik ipar saya yg menjadi agen penjualan buku dr bermacam-macam penerbit itu. Saya pilih yg kira- kira akan sesuai utk kebutuhan sekolah di Bintuni yg tentunya sulit utk mendapatkan akses ke buku-buku bacaan. Ada satu kardus besar dengan berat hampir 20 kilo saya bawa-bawa. Celakanya tak ada trolley baik di bandara Mutiara Palu, di mana saya ada acara pelantikan pengurus IGI Wilayah Sulteng, maupun di Rendani Manokwari sehingga bagasi hampir 20 kilo tersebut terpaksa harus saya angkat sendiri. Tapi perasaan bahwa buku-buku bacaan ini akan dinikmati oleh anak-anak Papua sungguh begitu menyenangkan sehingga meringankan beban tsb. Di kepala saya terbayang anak-anak Papua dg rambut keriting dan giginya yg putih bersih itu tersenyum-senyum sambil asyik membaca buku-buku cerita yg saya bawakan. Itu sungguh gambaran yg sangat menyenangkan dan saya sungguh ingin menjadikannya sebagai kenyataan.

Pesawat ke Bintuni ternyata sangat bergantung pada cuaca yg tidak menentu di Manokwari. Kalau kabut tebal penerbangan dibatalkan karena sangat berbahaya terbang dalam kondisi berkabut. Entah sudah berapa banyak pesawat yg jatuh karena cuaca buruk di Papua ini. Hal ini menyebabkan jadwal keluar dan masuk ke Bintuni juga tidak pasti. Itu sebabnya jadwal keberadaan saya di Papua dibuat fleksibel dengan tambahan waktu dua hari khusus utk jadwal penerbangan. Saya biasanya rewel dengan jadwal karena memang kadangkala punya agenda yg padat. Seperti dua minggu ini saya bahkan belum sempat pulang ke Balikpapan sejak keluar tgl 10/9 yg lalu. Jadwal saya selama dua minggu ini adalah Balikpapan – Jakarta – Kuala Lumpur – Singapura – Jakarta – Surabaya – Makassar – Palu – Makassar – Manokwari – Bintuni – Manokwari – Makassar dan hopefully bisa balik ke Balikpapan nanti kalau tidak ada urusan yg tiba-tiba mengharuskan saya pergi ke mana lagi. Urusan tiket dan akomodasi selama perjalanan bisa mudah tapi juga bisa sulit dg jadwal yg ketat seperti itu. Contohnya di Makassar ternyata semua hotel fully-booked ketika saya transit. Kaha Travel langganan saya menyerah dan minta maaf karena setelah menelpon ke semua hotel mitranya ternyata memang semua penuh. Untungnya saya bisa menghubungi Daeng Ramli Rahim, Ketua IGI Sulsel, yg akhirnya dg susah payah bisa mendapatkan kamar di hotel Angin Mamiri (katanya sih hotel berbintang satu). Syukurlah! (Ketika akan sy bayar ternyata sudah dibayar oleh beliau).

Tentu saja perjalanan seperti ini membutuhkan extra stamina tapi Papua is special dan saya bersedia utk membuat tubuh dan pikiran saya bekerja ekstra. It’s extra fun and I’m willing to work extra hard. Lagipula tubuh saya memang sesekali perlu diajak kerja marathon agar tidak manja. Balung tuwo needs some extra exercise.

Saat ini saya sedang menunggu di lobi Hotel Aston Niu Manokwari utk jadwal penerbangan ke Bintuni. Perkiraan pesawat akan berangkat sekitar jam 1 siang jadi saya akan punya beberapa jam utk menikmati pemandangan kota Manokwari dari lobi Aston yg terletak di ketinggian ini. Dari sini nampak teluk Sawaibu yg dikepung perbukitan dan di antara bukit dan teluk itulah warga Manokwari tinggal.

Sekian dulu laporan perjalanan saya. Semoga bisa menginspirasi Anda utk datang dan berbagi juga kepada saudara-saudara kita di Papua. We need them as they need us. We love them as they love us.

Manokwari, 21/9/ 2011

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/