Daun Gatal. Dok. pribadi

Ada banyak hal menarik yg saya peroleh dari kunjungan ke Bintuni ini. Salah satunya adalah tentang Daun Gatal (foto terlampir). Saya sudah bertanya-tanya tapi tak ada yg tahu nama Latinnya. Nanti akan saya cek di internet kalau sudah sempat. Daun Gatal ini semacam tanaman perdu yg nampaknya hanya tumbuh di Papua tapi sangat populer sebagai obat anti capek. Haah…?! Ya, daun yg memang sesuai dg namanya ini sangat gatal kalau tersentuh kulit kita tapi biasa dipakai untuk menghilangkan capek-capek bagi penduduk Papua.

Bagaimana caranya? Ternyata hanya dengan diusap-usapkan ke bagian tubuh yg capek. Bahkan bisa juga dg sekedar menempelkan dan mengetuk-ngetukkan ke permukaan kulit kita.

Bagaimana rasanya…?! Ya super gatallah! 😀 Saya hanya berani mencoba menempelkan sedikit di pangkal jari saya, sekedarnya saja, dan ternyata memang gatal dan menimbulkan bintik-bintik seperti kalau kita terkena alergi. Saya tidak bisa bayangkan kalau dioles-oleskan ke tubuh saya sebagai obat capek-capek! 😀 Tapi (katanya) gatalnya hanya bertahan sekitar 3 – 4 menit dan setelah itu khasiatnya sebagai penghilang capek akan bekerja. Sangat mujarab kata Penduduk Papua yang sudah terbiasa menggunakan daun ini dan daun ini bisa dibeli di pasar dengan harga 3 s/d 5 ribu perikat. (Saya membawa tiga lembar daun ini utk saya cobakan pada istri saya, kalau dia mau. :-D)

Rekan seminar saya, Dr. Leonardus Sagisolo MPd, ternyata seorang ‘pecandu’ Daun Gatal dan ia rutin menggunakannya. Dengan santainya ia mengoles-oleskan daun tersebut ke seluruh lengan, kaki, dan bahkan tengkuknya! What a brave man! Melihatnya saja sudah terasa gatal bagi saya. 😀

Saya lantas berpikir alangkah banyaknya jenis tanaman langka lain yg ada di hutan Papua dan belum diselidiki khasiatnya. Hutan Papua masih jutaan hektar dan tentunya banyak sekali tanaman dan buah langka berkhasiat yg ada di dalamnya. Ini sebenarnya juga kekayaan alam lain selain pertambangan yg belum kita eksplorasi.

Kapan ya kita mulai melirik potensi alam ini sebelum hutan Papua habis dibabat? Penebangan hutan masih banyak di Papua dalam kecepatan yg tidak kita ketahui. Tapi dari atas pesawat Susi Air yg hanya memuat 12 orang yg saya tumpangi saya lihat hutannya kebanyakan hanya hutan pohon perdu yg tersisa. Sampai saat ini penebangan pohon kayu besi masih terus berlangsung.

Kemarin ketika dalam perjalanan darat kami menjumpai truk-truk pengangkut kayu yg terbenam dalam jalan lumpur dan menghalangi jalan kami. Dengan sigap Mesakh, sopir kami, memutar balik mobil Toyota Land Cruisernya di jalanan sempit tsb dg cara yg mengagumkan (sekaligus mendebarkan) utk menarik truk bermuatan kayu sekitar 6 ton tsb keluar dari kubangan. Mobil kami berkali-kali tergelincir karena beratnya beban yg ditarik. Tapi pada upaya yang ke delapan atau sepuluh mobil kami melakukan manuver maju dan mundur akhirnya truk tsb bisa lepas dari kubangan di kegelapan malam itu. Fuih…! Sungguh melegakan! (Can’t imagine if I’m stuck in the middle of nowhere at the darkest of the night!) Truk itu sendiri sudah terbenam sejak sore tanpa daya meski para pekerja kayu sudah berupaya menyingkirkan lumpur dg sekop berjam-jam. Truk terbenam terlalu dalam dan muatannya terlalu berat.

Satu hal yg saya kagumi adalah sikap dan tindakan Mesakh, our heroic driver, yg tanpa diminta langsung mengambil tindakan menolong dan menyelamatkan truk tsb keluar dari kubangan tsb. Ia melakukannya secara otomatis begitu saja tanpa diminta dan tanpa pamrih. Hanya ucapan terima kasih dan bahkan tidak ada uang rokok apalagi pengganti bensin utknya dari truk tsb. Bayangkan berapa biaya yg dibutuhkan jika kita minta bantuan tenaga profesional utk mengeluarkan truk bermuatan kayu besi yg terbenam dalam lumpur di tengah hutan dlm gelapnya malam!

Apa jawab Mesakh ketika sy sampaikan rasa kagum saya? ‘Hanya Land Cruiser yg bisa tarik itu trek dari lumpur’ (truk dibaca seperti ‘track’ di sini). That’s all. Baginya (dan bagi semua pengemudi) menolong sesama yg terkena kesulitan adalah kewajiban yg tidak perlu lagi diminta (apalagi harus dibayar). Saya sungguh terharu mengetahui hal ini. Saya jauh-jauh datang ke Bintuni utk bicara tentang pendidikan karakter tapi di tengah hutan di kegelapan malam in the middle of nowhere saya justru ditunjuki apa itu elemen karakter yg hendak saya cerocoskan pada acara seminar oleh seorang sopir bernama Mesakh. God bless you, Mesakh! Thanks for teaching me and showing me what character we have been missing and now I’m trying to talk about it.

Bersambung…

(Ditulis sambil terhempas-hempas di atas pesawat carter Susi Air berisi 12 penumpang yg dipiloti 2 pilot bule)

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/