Papua jelas mengalami kemajuan meski tidak sepesat daerah-daerah lain. Saat ini sudah ada Aston dan Swiss Belhotel di Manokwari meski dengan jumlah kamar yg tidak begitu banyak. Itu artinya Manokwari sebagai ibukota Papua Barat sudah menjadi tujuan bisnis dan wisata yg menarik bagi jaringan hotel internasional. Papua sendiri sudah dimekarkan dg Propinsi Papua Barat sehingga sudah terbagi dalam dua propinsi dengan kota Jayapura tetap sbg ibukota Papua. Masalah utama utk kemajuan di Papua agar bisa mengejar propinsi lain masih tetap yaitu transportasi yg masih terbatas. Penerbangan dari dan ke Manokwari masih sangat terbatas dan tentu saja lebih mahal. Sbg contoh, harga tiket Manokwari – Balikpapan masih 1,5 jt lebih. Padahal Jakarta – Balikpapan kadang hanya 400 rb. Jadi mendatangkan tenaga ahli ke Papua bakal mahal di ongkos disamping harga-harga komoditas memang lebih mahal drpd daerah lain. Di distrik Bintuni tertentu harga bensin 10 ribu/liter sehingga biaya transportasi memang menggila. Sewa mobil dr Manokwari ke Bintuni biayanya 3 juta rupiah sekali jalan dan sama dg sewa mobil Avanza sebulan di Surabaya.
Padahal Papua membutuhkan banyak tenaga profesional utk memajukan daerahnya, termasuk guru profesional.

Mutu pendidikan di Bintuni sendiri mulai membaik ketika pemda mendatangkan guru-guru kontrak dari luar utk ditempatkan di berbagai distrik yg ada. Dibantu oleh British Petroleum melalui British Council saat ini ada puluhan guru kontrak mengajar di Bintuni dan itu jelas mengubah pola pembelajaran tradisional yg ada sebelumnya.
Tapi itu tentu saja belum memadai utk kebutuhan pendidikan di Bintuni yg begitu luas, sekolahnya terserak di daerah-daerah yg sulit dijangkau, siswa SMP-nya masih ada yg belum bisa membaca, dan tingkat pemerataan dan kehadiran guru yg rendah dll.
Saat ini tingkat literasi siswa SD di Bintuni masih memprihatinkan dan masih banyak siswa kelas 4 yg belum lancar membaca. Saya sangat prihatin mendengar info ini dan berharap ada program khusus utk mengatasi masalah ini. Ini masalah paling mendasar dalam pendidikan dan jika tidak ditangani dengan tuntas dan segera maka semua materi pelajaran akan sulit utk diajarkan baik di tingkat SD apalagi di jenjang berikutnya. Bagaimana mungkin kita akan mengajarkan bahasa Inggris pada siswa yg membaca dalam bahasa Indonesia saja tidak lancar? Itu sebabnya program “20 Ribu Buku utk Bintuni” yg dilakukan oleh perusahaan logistik JNE tidak terdengar gaungnya. Tak ada program nyata utk membaca yg efektif meski ada pembagian buku. Membagikan buku adalah satu hal tapi program membaca bukan hanya sekedar membagikan buku ke sekolah dan selesai.
Itu baru persoalan membaca. Belum lagi menulis dan berhitung. Bu Nina Feyruzi yg beberapa kali memberi pelatihan mengajar pada guru di Papua heran bahwa bahkan ada guru yg masih belum hafal perkalian…!
Saya berpikir alangkah baiknya jika Pemda Bintuni mau mengajak mahasiswa-mahasiswa FKIP dari berbagai PT terbaik di Jawa utk KKN atau praktek mengajar di sekolah-sekolah yg masih terbatas jumlah gurunya. Karena statusnya kerja praktek atau magang maka tentu tak perlu digaji. Jika transport, akomodasi, dan makan selama membantu sekolah diberi oleh Pemda maka rasanya akan banyak mahasiswa yg bersedia utk mengabdi dalam jangka waktu 3 s/d 6 bulan.
Dengan adanya mahasiswa bantuan ini maka jumlah ketidakhadiran guru yg mencapai 40% bisa diatasi. Tingkat kekurangan dan ketidakhadiran guru di kelas memang masih sangat tinggi. Selain itu, minimal para mahasiswa itu bisa menjadi tutor utk membaca dan aritmatika sederhana bagi para siswa secara intensif sehingga ketrampilan dasar 3M (Membaca, Menulis, Menghitung) dapat terselesaikan secara tuntas dan segera. Harus ada program pengentasan buta huruf dan angka yg intensif pada siswa-siswa ini agar memudahkan mereka utk belajar lebih lanjut.

Jadi jangan bicara soal mutu apalagi soal sekolah bertaraf internasional di Bintuni. Mereka bahkan tidak tahu apa itu (R)SBI! Mereka masih berupaya utk mengejar status SSN (Sekolah Standar Nasional) dan informasi ttg (R)SBI pun mereka tidak tahu.

Juga jangan dulu bicara tentang Gerakan Guru Melek Internet di Bintuni karena listrik pun masih terbatas. Ketika seminar berlangsung di Hotel Steen Kool, hotel terbaik di Bintuni, listrik berkali-kali mati. Listrik masih dijatah dan begitu pukul 6 pagi listrik sudah mati di kantor British Council di mana saya menginap.
Bagaimana dg telekomunikasi? Telkomsel sudah masuk tapi jaringan internet jelas payah (meski saya tidak mencoba karena saya hanya membaca email dari BB dan file attachment tidak bisa dibuka). Hanya saat-saat tertentu kita bisa mendownload file yg agak besar dr internet. Jaringan telpon putus-putus dan seringkali kami terpaksa mengandalkan SMS utk berkomunikasi dr Bintuni ke Manokwari. Karena sulitnya telekomunikasi dg Foni, staf British Council yg mengurus ticketing, saya akhirnya beli tiket lagi di Manokwari padahal ia telah membelikan sy tiket di Bintuni. Untungnya tiket yg saya beli masih bisa dikembalikan dg dipotong dua ratus ribu.
Sebetulnya saya membawa 4 Giga materi ttg Pendidikan Karakter serta video ttg pembelajarannya di 10 sekolah unggul di seluruh Indonesia. Materi itu saya peroleh dr Pak Martadi, dosen Unesa yg terlibat sejak awal di Kemdiknas utk program Pendidikan Karakter ini (Thanks again, Pak Martadi). Tapi ketika sy tawarkan kepada para peserta seminar tak nampak ada yg antusias. Jika ini terjadi di seminar di kota-kota besar di daerah lain maka para peserta akan berebut utk mengopinya. Di Bintuni saya tidak melihat peserta seminar dan raker menenteng-nenteng laptop sebagaimana di kota-kota besar lain. Tak ada antusiasme juga utk mencari materi dari pemakalah. Bagaimana akan bekerja dengan laptop jika listrik saja terbatas? Meski demikian materi tersebut tetap saya kopikan bagi panitia seminar dengan harapan jika ada guru yg tertarik mereka bisa memintanya pada panitia.
Ketika saya menyampaikan presentasi saya ttg bagaimana menerapkan pendidikan karakter melalui pembelajaran tematik dan bagaimana menerapkan pembelajaran yg aktif, kreatif, dan menyenangkan mereka nampak antusias. Tapi ketika tiba pada sesi tanya-jawab tak seorang pun mengangkat tangannya! Rupanya apa yg saya sampaikan masih terlalu ‘canggih’ utk situasi Bintuni dan mereka tak tahu apa yg harus ditanyakan karena itu hal baru samasekali bagi mereka. Tapi itu asumsi saya belaka. Setelah diberi kesempatan beberapa kali barulah ada yang berinisiatif utk bertanya. Saya lega… . Tak ada yg lebih menyedihkan bagi pemakalah dari tak adanya tanggapan dari apa yg kita presentasikan. Sayang sekali bahwa pertanyaan yg diajukan tak berhubungan dg materi yg saya sampaikan. 🙂

Batavia Flight MKW-UPG, 24/9/11

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

Iklan