Masih tentang ‘branding’. Saat ini saya berada di The Harvest, toko kue sing larang iku lho! Tahukah anda mengapa kue-kue di The Harvest mahal (tapi tetap laris)? Ya karena mereka punya ‘brand’ yg kuat sebaga toko roti yg enak dan mewah. Kue-kuenya enak dan nampak cantik-cantik menggoda selera. Cobalah minta sepotong cheese cakenya yg nampak begitu menggiurkan. Potong sesendok kecil dan suapkan ke mulut Anda. Pejamkan mata, kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya. Nyaaam..! Lumer boss…!:-D

Beberapa kue keringnya sebetulnya rasanya not so special tapi dikemas dengan cantik sehingga nampak luxurious (foto terlampir). Kita akan tergoda utk membawanya sebagai oleh-oleh camilan di rumah. So pretty…! (Yet so expensive to many of us)

Setelah saya amati ternyata wadahnya cuma plastik yg sebetulnya ada dijual bebas di toko-toko plastik. So it’s not so special. Ia menjadi mewah setelah diberi cap tempelan ‘The Harvest’ dan dipajang di toko yg didisain begitu wah! Kue Crispy Almond dg berat sekitar 100 gram lebih sedikit dijual dg harga 40 ribu karena ‘it’s The Harvest’ gitu loh! Kue Kastengelnya malah dibandrol 85 ribu rupiah! (gak sidho ngambil aku) Padahal dg uang sejumlah yg sama Anda bisa mendapatkan kue kering di pasar-pasar seberat satu kilogram! Satu berbanding sepuluh, bleh!

Beberapa waktu yg lalu saya mengunjungi pameran lomba produk makanan “Oleh-oleh Balikpapan” yg diadakan oleh Dinas Perdagangan pemkot Balikpapan. Macam-macam produk makanan olahan yg ditampilkan pd pameran sekaligus lomba tersebut tapi, astaghfirullah!, tak ada satu pun yg menarik. Persis seperti pamerannya anak sekolah yg miskin imajinasi dan kreatifitas. Bagaimana mungkin produk seperti itu menarik orang utk membelinya? Saya sungguh sedih dan jengkel pada Pemkot Balikpapan yg tidak tahu bagaimana meningkatkan kapasitas dan kualitas produk lokal Balikpapan agar benar-benar layak dipamerkan. Benar-benar seadanya dan apa adanya! Apa gunanya Dinas Perdagangan di seluruh Indonesia kalau utk hal seremeh begini saja tidak
bisa memberi arti? Mungkin ini perasaan Gus Dur ketika menghapuskan Dinas Sosial pada waktu jadi presiden! Jengkel karena menghabiskan begitu banyak dana APBN/APBD tapi tidak ada fungsinya.

Ketika ke Malaysia minggu lalu saya dibawa ke toko produk lokal yg menjual berbagai macam oleh-oleh produk perusahaan lokal Malaysia. Dan mereka dikemas dg sangat cantik sehingga membuat kami tergoda utk memborongnya. Mereka rupanya sadar betul bahwa kemasan bisa menggoda dan meningkatkan imej sehingga harga pun bisa didongkrak.
Padahal packaging atau pengemasan produk begitu sebetulnya bukanlah ‘rocket science’ yg sulit dilakukan. Tapi toh pengusaha lokal (dan juga pemerintah) kita belum berpikir ke sana.

Bagaimana mem’branding’ UNESA agar tidak terkesan sebagai ‘Universitas Negeri Seadanya’? Soal ‘isi’ rasanya tidak jauh beda dg LPTK sejenis (kalah-kalah dikitlah!). Tapi soal ‘brand’ rasanya UNESA itu masih kalah beberapa tingkat jika dibandingkan dengan UPI, UNJ, UNY, atau bahkan dg UM yg ‘tunggal propinsi’ itu. Bahkan banyak orang menunjukkan wajah bengong ketika kita menyebut UNESA sebagai almamater. “Di mana itu…?!” tanya mereka. Kalau lagi iseng saya menjawab, “Di Finlandia…!”😀

Lantas bagaimana utk meningkatkan merk UNESA di mata masyarakat? Ada banyak cara. Tapi kusimpan saja jurusnya dulu sampai yg mbaurekso di UNESA memang perduli soal ini

Jakarta, 8 Oktober 2011

Salam
Satria Dharma