Saya dan istri masih menunggui bapak mertua yg baru keluar dari rumah sakit (dan dimasukkan ICU hampir seminggu) di Surabaya ketika ada telpon bahwa anak sulung saya, Yubi, sakit perut sejak pagi dan minta dibawa ke emergency. Kami pikir tidak ada apa-apa karena Yubi tak ada riwayat penyakit apa pun sebelum ini. Kami hanya menganjurkannya utk istirahat dan minta ijin tidak masuk sekolah Tapi karena ia merasa sangat kesakitan dan kami tidak ingin ada masalah dengan kesehatannya maka kami minta ia utk dibawa ke emergency RS Pertamina Balikpapan.

Satu jam kemudian datang kabar bahwa ia harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut karena ada kemungkinan ia terkena usus buntu. Kalau positif maka ia harus segera dioperasi utk mengangkat appendixnya. Jika appendix ini pecah dan infeksi maka akibatnya akan fatal. Kami setujui utk pemeriksaan lebih lanjut dengan menguji darah dan kencingnya.

Tak lama kemudian muncul kabar hasil pemeriksaan lab dari darah dan kencing Yubi yg menunjukkan bhw ia positif usus buntu. Operasi adalah jalan keluarnya dan kami dimintai persetujuan utk itu. Kami tergagap oleh situasi yg berubah begitu cepat.

Kami segera bagi tugas. Istri tetap menjaga ayahnya yg baru keluar dari RS di Surabaya dan saya harus segera balik ke Balikpapan siang itu juga.

Celakanya semua penerbangan ke Balikpapan fully booked dan saya harus membayar 1,4 juta dari calo yg ternyata bisa mengusahakan tiket Sriwijaya siang itu (Biasanya saya bisa dapat tiket dg harga promosi cukup dg 400 ribuan).

Saya tiba di RS Pertamina Balikpapan ketika Yubi sdh masuk ruang operasi. Saya menungguinya di luar ruang OK sekitar setengah jam yg terasa sangat lama. Yubi keluar dari kamar operasi didorong dengan kereta masih dalam keadaan tertidur karena pengaruh bius. Tapi operasinya lancar dan appendixnya telah diangkat. Alhamdulillah…! Seketika saya merasa sebuah beban diangkat dari pundak saya.

Jadi begitulah…
Ketika tim Garuda berjuang melawan tim Malaysia (dan ternyata kalah dalam adu penalti) saya tidak sempat menonton. Saya menunggui Yubi yg telah sadar dan merintih kesakitan pasca operasi usus buntunya. Begitu obat bius lokalnya habis maka rasa sakit pada bekas operasi langsung menyergapnya. Ia merintih dan menangis menahan rasa sakitnya. Ia mengerang-erang dan minta agar diinjeksi pain killer. Satu jam kemudian barulah ia diinjeksi lagi obat penahan rasa nyeri oleh perawatnya. Karena obat tidak langsung seketika bekerja maka ia terus merintih kesakitan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain memintanya terus berdzikir dan beristigfar. Ia sedikit mengomel dan bilang bahwa saya tidak tahu betapa sakitnya seluruh tubuhnya. Ia juga mengeluh karena tidak bisa menggerakkan kakinya padahal syaraf-syarafnya meminta digerakkan. Pasca operasi ia memang tidak boleh bangun dari tempat tidurnya selama 24 jam.

Karena tak tahu apa yg bisa saya lakukan saya lalu memeluknya di tempat tidurnya. Saya membisikkan dzikir dan istigfar di telinganya. Air matanya menetes membasahi pipi saya.
Tiba-tiba saya merasakan kembali saat-saat ia masih kecil dan saya gendong ke sana ke mari. Ia seorang anak yg sangat imut dan menyenangkan semua om, tante, dan sepupu-sepupunya. ‘Yubiku yg ganteng’ demikian mereka selalu memanggilnya. Such a cute and lovely kid.

Tiba-tiba ia kini sudah jadi pemuda berusia 18 tahun yang suka memberontak dan melawan hampir semua aturan yg ditetapkan orang tuanya untuknya. Ia seolah hidup di dunia lain bersama teman-teman sebayanya dan hanya numpang tidur di rumah. Makan pun ia jarang di rumah. Meski berkali-kali kami tegur ia seolah telah imun. Sehari dua hari ia menurut dan hari berikutnya ia ulangi lagi. Bolos sekolah belum juga berhenti meski ia pernah tinggal kelas gara-gara kebanyakan bolos. Belum jera juga ia dg perbuatannya tersebut. Meski ibunya telah memintanya utk berhenti merokok ia belum juga mau mematuhinya. Secara sembunyi-sembunyi ia masih juga merokok di luar rumah. Jika ibunya tahu ia kembali mengingatkannya. Ia kembali mengiyakan tapi akan diulanginya lagi.

Begitu terus menerus seperti yoyo yg naik turun.

Kami sering tak tahu harus bersikap bagaimana padanya. Saya sendiri hanya bisa berharap dan menunggu suatu saat ketika semua kenakalannya selesai dan hanyut atau menguap dan suatu hari ia bangun menjadi Yubi yg dewasa dan bertanggung jawab. Kami percaya saat itu akan datang entah kapan. Kami percaya suatu hari ia akan bermetamorfosis menjadi seorang anak yg membanggakan kami sebagai orang tuanya. Ia memiliki begitu banyak kebaikan dalam dirinya yg masih disimpannya utk dibuka suatu hari nanti. Ia hanya ingin menguji kesabaran kami sebagai orang tuanya.

Tentu saja rasa cinta kami padanya tak pernah berkurang. Begitulah cinta orang tua pada anaknya. Cinta yg tak berhubungan dengan rasio dan logika. Unconditioned love. Cinta yg melawan prinsip ekonomi dan untung rugi. Cinta yg dalam seperti sumur yang tak berdasar dan luas seperti horizon yg tak bertepi. Cinta yg sekonyong-konyong koder, kata seorang penyanyi lokal yg saya lupa namanya. Cinta yg membela mati-matian no matter what. Seperti induk ayam yg berani mati menghadapi siapa saja yg mencoba mendekati anak-anaknya. Kami mencintainya seperti lautan yg menerima limpahan segala macam air dari sungai-sungai yg mengalir kepadanya.

Saat ini saya duduk menungguinya tertidur lelap dan ia kembali menjelma menjadi Yubi kecilku yg menggemaskan. Bekas-bekas jerawat memenuhi wajahnya dengan semena-mena tapi saat tidur dan terbaring seperti ini he looks like an angel (with scars in his face). Ia nampak begitu tenang dan penurut di saat seperti ini. Ah…! Betapa besar cinta kami pada anak ini. Ia tentu tahu bahwa ayah dan ibunya sangat mencintainya. Tapi ia mungkin tidak tahu seberapa besar cinta orang tuanya padanya.

Dalam suasana yg begitu damai seperti ini tiba-tiba saya merasa perlu menyampaikan betapa saya merasa sangat bersyukur dikaruniai anak seperti Yubi. Ia mungkin belum bisa menyenangkan hati orang tuanya seperti yg kami inginkan saat ini tapi ia jelas telah menghadirkan cinta yg luar biasa besar bagi kami orang tuanya. Dan cinta itu sendiri adalah anugrah yg luar biasa bagi kami.

Balikpapan, 22 Nopember 2011

Salam
Satria Dharma