Saya biasanya menulis di PC atau laptop saya tapi kini saya mulai menulis dg Blackberry saya. Beberapa tulisan terakhir saya di web adalah hasil tulisan melalui Blackberry yg lebar layarnya cuma beberapa senti dan tuts ketiknya begitu kecilnya sehingga hanya akan efektif jika dipencet dg kuku jempol. Lapangan menulis saya mengkerut dengan drastis.

Tentu saja ada perbedaan antara keduanya. Di PC saya menggunakan 10 jari untuk mengetik dengan kecepatan yg bisa membuat kagum anak-anak saya karena bunyi tombolnya bak rentetan tembakan mitraliur yg menggunakan peredam. Retetetet…retetetet… retetetet…!
“Kok bisa sih Bapak ngetik secepat itu…?!” kata mereka dengan kagum. “Kalau kamu berlatih terus menerus maka kamu akan bisa mengetik secepat Bapak.” jawab saya sok wise.

Tapi di BB bahkan jempol saya kesulitan menemukan titik pencet paling pas agar bisa menuliskan pikiran saya yg berkelebat degan cepat. Untungnya Tuhan menciptakan kuku jempol yg cukup keras utk dipakai mengetik di BB. Itu pun sering terasa agak nyeri jika dipakai utk mengetik cukup lama. Tentu saja ini memperlambat saya dalam mengetikkan apa-apa yg berkelebat di benak saya. Saya kehilangan kecepatan. Akhirnya saya juga kehilangan ide-ide atau pun kata-kata yg ingin saya curahkan. Dan saya merasa dikhianati oleh BB saya. Saya bahkan mencurigai bahwa saya mungkin akan kehilangan kecepatan berpikir gara-gara mesti menulis dg dua kuku jempol sedang sebelumnya saya bisa menggunakan semua jari saya. :-D

Ketika pertama kali saya berpindah dari menggunakan HP biasa ke BB pertimbangannya adalah kemudahan dalam menerima email. Dengan fasilitas ‘Push Email’ di BB saya bisa menerima dan membalas email di mana pun saya berada tanpa harus menunggu bertemu sambungan internet di PC atau laptop. Semua email langsung masuk dan bisa dibaca tanpa harus membuka lagi. Dengan kegiatan yg berpusat pada komunikasi melalui email dan diskusi di mailing-list fasilitas ‘push email’ ini sungguh sangat membantu saya. I really feel connected.

Sebelumnya saya memang agak enggan utk menulis kalimat-kalimat atau komentar yg panjang di BB karena faktor menyusutnya lapangan menulis ini. Saya merasa gadget ini tidak bisa menampung apa yg ingin saya sampaikan dengan segera dan sesuai karena saya tidak bisa dengan cepat menuangkan apa yg berkelebat di kepala saya hanya dengan dua kuku jempol. Bayangkan berkurangnya kecepatan (dan kenyamanan) saya menulis dari yang semula sepuluh jari menjadi dua kuku jempol. Pada mulanya saya memang membatasi diri dalam menulis di BB. Tapi lama kelamaan akhirnya saya bisa mengalahkan hambatan teknis (dan psikologis) yang ada dan mulai merasa nyaman utk menulis panjang-panjang. Toh kalau kuku saya sudah mulai terasa nyeri saya bisa berhenti (dan benak saya boleh beristirahat sejenak). Betul juga nasihat saya pada anak saya bahwa “Kalau kamu berlatih terus menerus maka kamu akan bisa mengetik secepat Bapak.”. Rupanya itu nasihat utk diri saya sendiri. And it works.

Setelah bisa mengalahkan keengganan saya utk menulis panjang di BB sekarang saya jadi bisa menulis di mana saja tanpa harus menunggu berada di depan PC atau membuka laptop. I can practically write anywhere. Jadi kekurangan di faktor kecepatan dan kenyamanan diganti dengan faktor kemudahan dalam menuangkan pikiran saat itu juga. Saya tidak perlu kehilangan momen dan mood dalam menulis. Begitu ada mood dan kelebatan pikiran maka saya bisa langsung menuliskannya saat itu juga. Saya jadi bisa menulis di taksi, kendaraan umum, sambil menunggu istri belanja, sambil nunggu di parkiran, di ruang tunggu, di atas ranjang sambil selimutan, just practically anywhere.

Fasilitas kamera di BB juga membantu saya dalam mengirimkan foto yg relevan dengan apa yg ingin saya tulis. All in one gadget.

Sebetulnya saya termasuk orang yg tidak mudah menerima perubahan. Saya cenderung utk mempertahankan apa yg sudah ada dan saya merasa nyaman dengannya. Mungkin ini penyakitnya kaum oversek (over seket, usia di atas lima puluh tahun). Saya harus berjuang utk menerima dan melakukan perubahan. Tapi karena saya sudah meyakini bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan dan bertahan pada apa yg kita miliki semata hanya menunjukkan sikap malas dan bebal maka saya terus memaksakan diri utk mengikuti perubahan, meski dengan tertatih-tatih.

So here I am now, writing and expresing myself using a new gadget. Tentu saja saya tidak akan kehilangan kemampuan menulis saya di PC atau laptop. Saya hanya mengembangkan kebiasaan baru utk menulis di Blackberry. Dan saya berharap dapat menemukan horizon baru dengan ketrampilan ini. Semoga…!

Balikpapan, 9 Oktober 2011

Salam
Satria Dharma