Selamat Hari Guru…!

Para guru yang saya hormati, selamat untuk Anda. Semoga Anda berbahagia dengan diri Anda, dengan profesi Anda, dengan pengabdian Anda selama ini. Sudah selayaknya jika pada hari yang sangat berbahagia ini kita memberi selamat kepada diri sendiri dengan ucapan “Selamat Hari Guru…!”

Hari ini saya mendapat kado indah berupa kalimat yang menggugah dari seorang guru bernama Pak Nyariadi yang mengajar di Malang yang mengirimkan posting dengan ucapan indah sbb :

” Ketika melihat murid-murid menjengkelkan dan melelahkan… maka hadirkanlah gambaran bahwa salah satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga. Kebahagiaan kita adalah saat menyadari murid kita adalah butiran tasbih pengabdian kita kepadaNya”, Selamat hari guru, selamat berjuang.” http://groups.yahoo.com/group/ikatanguruindonesia/message/41220

Ini untaian kata yang sangat indah…! Sangat menyegarkan…!

Para guru yang saya hormati,

Kemarin saya membaca berita di harian Kompas dengan tajuk : Laporan Diskusi. Indonesia : Skenario 2025. Pada tanggal 10 Nopember yang lalu Kompas mengadakan diskusi panel dengan Shell untuk mencaritahu bagaimana wajah Indonesia pada tahun 2025 kelak. Beberapa pakar berupaya untuk meramalkan seperti apa kondisi Indonesia pada tahun 2025, 2030, dan 2050. Dimana posisi posisi Indonesia di tengah pergeseran peta geopolitis, geostrategis, dan geoekonomi global pada beberapa dekade mendatang dan sejauh mana Indonesia mampu menjawab tantangan dan mengambi peluang yang terbuka tersebut? Ternyata meneropong masa depan itu tidak sesederhana ekstrapolasi data statistik karena adanya faktor ketidakpastian, asumsi, dan prasyarat yang justru lebih menonjol. Meski demikian ada kesamaan pandangan bahwa untuk bisa menjawab tantangan di masa depan dibutuhkan praktik prilaku kolektif bangsa mulai dari politik, ekonomi, social, kultural dan legal yang tangguh untuk menjawab tantangan tersebut. Dibutuhkan perubahan prilaku masyarakat untuk melakukan lompatan ke depan.

Tahukah Anda apa mantra untuk melakukan itu semua? Tidak salah. Mantra yang dibutuhkan sama sejak dulu sampai sekarang. Mantra yang berlaku sama di negara mana pun, yaitu pendidikan…pendidikan… dan pendidikan!

Tentu saja pendidikan yang dimaksud di sini bukan sekedar pendidikan formal (yang disindir telah menjadi komoditas ekonomi), melainkan pendidikan sebagai bagian dari kultur, budaya bangsa. Bahkan diskusi tersebut samasekali tidak menyinggung peran pendidikan di ruang kelas dan lingkup sekolah yang kita sebut sebagai pendidikan formal sehari-hari. Nampaknya para pakar masih belum melihat peran penting pendidikan yang berlangsung di kelas-kelas dan ruang-ruang belajar lingkup sekolah yang dilakukan oleh para guru. Mereka tidak melihat peranpenting yang dilakukan para guru sehari-hari. Guru belum menjadi faktor penting dalam upaya menjawab tantangan masa depan.

Dari sini sebetulnya kita bisa melihat bahwa pendidikan formal BELUM dianggap sebagai faktor penting dalam menjawab permasalahan bangsa. Dan ini juga berarti bahwa guru belum dianggap sebagai profesi yang mampu memberikan sumbangsih pemikiran dalam upaya menjawab tantangan jaman.

Tapi apakah mungkin pendidikan budaya bangsa bisa berhasil jika pendidikan di dalam kelas-kelas yang berlangsung secara masif, terencana, terstruktur, yang kita sebut sebagai sekolah tidak berhasil? Tentu tidak mungkin.

Apakah mungkin pendidikan di ruang-ruang kelas dan lingkup sekolah akan berhasil jika kita para guru belum berhasil menjadi guru yang sebenarnya? Tentu tidak mungkin.

Jadi sungguh mengherankan bahwa ketika mantra yang dijadikan tumpuan untuk menjawab permasalahan masa depan adalah PENDIDIKAN tapi permasalahan pendidikan formal di sekolah samasekali tidak disinggung. Bagaimana mungkin kita akan mempersiapkan generasi muda yang akan menjawab tantangan-tanntangan dan peluang tersebut jika kita tidak menyiapkannya di ruang-ruang kelas kita secara baik?

Justru sebenarnya titik sentral untuk menjawab tantangan tersebut ada di ruang-ruang kelas yang sekarang sedang dan akan terus berlangsung. Jika kita tidak mempersiapkan siswa-siswa kita saat ini dengan baik maka ntantangan jaman pada tahun 2025, 2030, 2045, atau kapan pun itu tetap tidak akan bisa terjawab. Bahkan jika kita salah dalam mengantisipasinya saat ini maka justru kerugian besar yang akan kita peroleh nantinya.

Menurut saya KITA sebagai bangsa mesti sepakat dulu bahwa jika kita bicara soal pendidikan maka proses yang berlangsung di dalam kelas sangatlah penting. Itu yang kita lakukan selama 7 jam sehari secara terstruktur, sistematis, terencana, untuk menjawab SEMUA permasalahan masa depan. Apa yang kita lakukan selama 7 jam sehari di ruang-ruang kelas pada hakikatnya adalah upaya untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut. Apa yang mereka sebut-sebut sebagai pendidikan kultural juga berlangsung di ruang-ruang kelas. Jika apa yang kita berikan secara terstruktur, terencana dan sistematis selama 7 jam sehari itu tidak berhasil maka mana mungkin kita berharap pada pendidikan kultural yang tidak terencana, tidak sistematis, dan tidak terstruktur itu?

Jika kita telah sepakat bahwa pendidikan di ruang-ruang kelas itu sangat penting untuk menjawab masa depan maka kita juga harus sepakat bahwa aktor paling penting di kelas adalah para guru itu sendiri, para guru yang sedang merayakan hari kelahirannya saat ini.

Pertanyaan yang muncul adalah : Mungkinkah pendidikan di sekolah-sekolah yang kita persiapkan untuk mencetak generasi muda tangguh untuk menjawab tantangan masa depan akan berhasil jika para guru sendiri tidak paham, tidak sadar, dan bahkan tidak mau tahu akan fungsi dan peran pentingnya? Tentu tidak.

Pendidikan bukanlah sekedar menyampaikan informasi pada siswa atau menjejali mereka dengan fakta-fakta. Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan semua potensi siswa agar mereka mampu menjadi bermanfaat bagi negara, bangsa, dan alam semesta. Hanya guru-guru professional berkarakter yang mampu melaksanakan tugas pendidikan dengan baik agar berhasil mencetak siswa-siswa yang berkembang penuh potensinya. “Educational change depends on what teachers do and think – it’s as simple and as complex as that. It would all be so easy if we could legislate changes in thinking. Classrooms and schools become effective when (1) quality people are recruited to teaching, and (2) the workplace is organized to energize teachers and reward accomplishments. Demikian kata Fullan dalam bukunya .” The New Meaning of Educational Change, 3rd ed. Fullan (2001:115).

Dunia pendidikan kita memang menghadapi masalah besar dengan kompetensi para gurunya. Seorang pengamat pendidikan dengan masygul berkata bahwa dunia pendidikan kita dilaksanakan oleh mayoritas orang-orang yang tidak kompeten. Banyak guru yang bahkan belum mampu sekedar melaksanakan kurikulum dari bidang studi yang diembannya. Bahkan untuk fungsi pengajaran saja banyak guru kita yang belum kompeten.

Padahal fungsi terpenting guru adalah untuk memotivasi siswa untuk melakukan pembelajaran yang berpusat pada dirinya sendiri, memberi dorongan pada siswa untuk berhasil dan tidak takut gagal, memberikan kepercayaan diri pada siswa untuk maju berkembang sesuai dengan kapasitas masing-masing, memberi inspirasi dan mimpi untuk diraih di masa depan, memasukkan tekad untuk hidup mulia dan bermartabat, dan peran-peran motivasional dan spiritual lainnya.

Untuk mencapai tingkatan itu memang tidak mudah karena para guru haruslah pertama-tama menyadari fungsi dan perannya secara jelas. Guru bukanlah manusia yang meminta-minta, apalagi berdemonstrasi, untuk ditingkatkan kesejahteraannya. Guru harus memiliki kesadaran moral yang lebih tinggi dari sekedar bekerja untuk mendapatkan upah. Guru bukanlah profesi yang dicari karena bisa mendatangkan atau memberikan penghasilan yang besar. Guru adalah profesi bagi orang-orang yang memang memiliki jiwa mengabdi bagi kemaslahatan bangsa dan negara. Guru adalah profesi bagi orang-orang yang memang ingin berbagi, memotivasi dan menginspirasi dunia di sekitarnya. Gaji yang besar bukanlah tujuannya. Guru memiliki visi yang lebih jauh daripada itu, visi yang lebih bersifat spiritualistik ketimbang materialistik. Guru bukanlah profesi bagi orang-orang yang sekedar bergembira ketika tunjangan profesionalnya keluar. Guru adalah orang-orang yang mampu mengatakan,: ” Ketika melihat murid-murid menjengkelkan dan melelahkan… maka hadirkanlah gambaran bahwa salah satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga. Kebahagiaan kita adalah saat menyadari murid kita adalah butiran tasbih pengabdian kita kepadaNya”, Selamat hari guru, selamat berjuang.

Selamat Hari Guru…!

Balikpapan, 26 Nopember 2011

Salam
Satria Dharma

Iklan