Suatu ketika Nasruddin Hoja dan anaknya pergi ke pasar dengan menunggangi seekor keledai.

Di tengah jalan mereka bertemu dengan serombongan orang yang berbisik-bisik “Alangkah kejamnya! Apa dua orang itu tidak punya rasa kasihan pada seekor keledai kecil dan lemah itu?”

Mendengar ini Nasruddin menyuruh anaknya turun dan mengikutinya dengan berjalan kaki. Ia tetap menaiki keledai tersebut.

Mereka kemudian bertemu lagi dengan serombongan orang yang berbisik-bisik “Orang tua yang kejam! Anaknya yang lemah disuruh jalan kaki sementara dia enak-enakan naik keledai!”

Mendengar ini Nasruddin menyuruh anaknya naik keledai dan Nasruddin mengikutinya dengan berjalan kaki.

Kemudian mereka bertemu lagi dengan serombongan orang yang berbisik-bisik “Anak tidak tahu diri! Dia enak-enakan naik keledai, sementara bapaknya yang sudah tua disuruh jalan kaki!”

Mendengar ini Nasruddin dan anaknya memutuskan untuk menuntun saja keledai tersebut dan tidak menungganginya.

Kemudian mereka bertemu lagi dengan serombongan orang yang tertawa “Lihat dua orang bodoh ini! Mereka bawa keledai tapi malah jalan kaki!”

Ini adalah cerita yang tepat untuk menggambarkan situasi yang dialami oleh SBY sat ini. Apa pun yang dilakukannya SELALU SALAH. Semua yang ia lakukan dijadikan sebagai bahan untuk menyerangnya, mengecamnya, atau minimal sebagai olok-olok. What’s wrong with SBY?

Menurut banyak orang SBY sebenarnya adalah ‘the right man in the right place but not doing the right thing’.

SBY jelas seorang pemimpin yang telah teruji. Kepintarannya jangan tanyalah! Ia mengungguli semua kawan-kawannya dalam segala hal. Sejak dulu ia terkenal sebagai perwira yang berwawasan luas, fasih berbahasa Inggris, cerdas, dan hati-hati dalam berkata dan bertindak. Pokoknya SBY itu ‘the right man’.

SBY juga memiliki pengalaman memimpin yang sangat panjang. Pengalamannya di pemerintahan itu sudah lintas departemen dan lintas presiden. Tak ada orang yang lebih tepat untuk menjadi presiden di saat ini selain SBY. Itulah sebabnya ia terpilih lagi menjadi presiden keduakalinya. Tak ada orang yang bisa menyainginya. SBY sudah tepat jadi presiden. He is
in the right place.

Tapi kenapa justru SBY terkesan selalu salah dalam mengambil tindakan (not doing the right thing)?. Menurut saya itu karena SBY terlalu mengakomodasi semua pihak. Ia ingin menyenangkan semua orang. Padahal semestinya ia tahu bahwa kita tidak mungkin menyenangkan semua orang.

Nasruddin Hoja mestinya tidak perlu perduli dengan apa yang didengarnya di sepanjang perjalanan karena semestinya ia yang lebih tahu tentang kondisinya dan kondisi keledainya. Jadi ia semestinya yang paling tahu kapan menunggangi dan kapan tidak dan tidak perlu mengikuti apa kata orang-orang terhadap keledainya dan dirinya. Toh itu keledainya sendiri dan sudah kebiasaan masyarakat untuk mengritik apa saja.

Menurut saya (lagi) SBY itu tidak pandai menyampaikan pesan pada rakyat. Mungkin karena ia memang tidak punya bahasa tubuh yang merakyat. Itu sebabnya ada orang yang memberinya nama teambahan ‘Jaim’, Susilo ‘Jaim’ Bambang Yudoyono’. SBY selalu nampak ‘jauh’ dan ‘prihatin’ sehingga rakyat tidak merasakan semangat dan kegembiraan ketika bersamanya. Tak pernah saya melihatnya sumringah tersenyum gembira apalagi tertawa lepas. Bahkan Suharto terkesan jauh lebih dekat kepada rakyat. Senyumnya benar-benar menyejukkan. SBY justru selalu menunjukkan wajah yang kelelahan dan kesusahan. It’s not good for his image. Kesan saya bahasa tubuh SBY ini tidak membuat rakyat merasa dekat dengannya. Rakyat tidak merasakan bahwa mereka dibutuhkan oleh SBY. Rakyat tidak merasakan bahwa mereka dibela oleh SBY. Padahal mungkin SBY bekerja, berpikir, bertindak hampir 24 jam untuk rakyat.

Kesan ‘jauh’ dan ‘tak terjangkau’ ini mungkin perlu dicairkan oleh SBY dan ‘Tim Pencitraan’nya, kalau memang itu ada. (Saya sebaliknya berpikir bahwa SBY memang perlu ‘Tim Pencitraan’ untuk mengubah citranya yang terkesan ‘jauh’, ‘terlalu berhati-hati’, ‘sangat prihatin’ menjadi ‘dekat’, ‘optimis dan ceria’, ‘cepat dan tegas dalam bertindak’.)

SBY memang menyanyi tapi lagunya bukanlah lagu-lagu mars yang mengajak untuk optimis dan percaya diri. Album barunya saja berjudul ‘Harmoni’. So you know what I mean.

‘ada tutur kata yang tak kau terima
tapi kenapa kau harus begitu
teganya engkau pergi dariku
kembali, kembali
oh kembali

Demikian cuplikan syair lagi berjudul “Kembali”. Saya sendiri mungkin tidak akan membeli album SBY ini.

Satu hal lagi. Menurut saya SBY juga mulai nampak kehilangan visi, atau paling tidak, ia tidak mampu menyusun semua tindakannya dalam satu visi. Pembuatan album ini adalah contohnya.

Apa sebenarnya visi dan misi dari pembuatan album lagu-lagu ini? Sekedar untuk kesenangan atau ada misi tertentu?

Sebagai seorang presiden saya berharap agar SBY punya misi yang jelas dengan album lagu-lagu yang ia keluarkan agar jangan sampai seorang Bambang Susatyo ngomong pedas ‘Dibutuhkan Pemimpin Tegas Bukan Pencipta Lagu’ karena ia tidak tahu apa sih sesuatu yang penting dari keluarnya album lagu-lagu ini. (Atau memang Bambang Susatyo ini suka mencari kesalahan SBY)

Semestinya kalau SBY punya Tim Pencitraan maka pembuatan album lagu-lagu ini selaiknya memang dikemas untuk visi dan misi yang jelas UNTUK BANGSA DAN NEGARA. It’s not for SBY himself but for the people…! Dan pesan itu harus sampai ke rakyat. Bukankah lagu-lagu bisa membangkitkan semangat dan rasa kebersamaan masyarakat?

Saya pikir SBY ini kalah cerdik dengan Dahlan Iskan. Dahlan Iskan saat ini benar-benar menjadi pembicaraan di mana-mana dan bahkan sudah ada yang menggadang-gadangnya untuk 2014 nanti. Dahlan Iskan menjadi oase di tengah sahara yang kering kerontang. Ia memberi rakyat sosok ‘the real hero’ yang dibutuhkan dalam setiap kisah. Mengapa demikian? Itu karena Dahlan Iskan menuliskan sendiri kisah yang ingin diterima oleh rakyatnya. Dan Dahlan Iskan adalah seorang penutur yang luar biasa!
Coba lihat saja cerita tentang Dahlan Iskan, baik yang terangkum dalam CEo Notesnya atau pun yang dituliskan orang tentangnya. Semuanya tentang betapa ia bekerja keras siang dan malam, jalan kaki ke kantor dan pergi ke sana kemari tak kenal lelah. Betapa ia fokus dengan apa yang ingin ia capai. Betapa ia sosok yang sederhana dan dekat dengan semua orang. Ia makan nasi bungkus di dekat selokan sambil selonjor tanpa alas (sebuah foto yang akan membuat semua orang akan takjub). Ia tak pernah muncul dalam acara pesta-pesta atau kumpul-kumpul dengan para pejabat. Baju dan sepatunya adalah pakaian pekerja. Ia bahkan tampil di istana dengan baju lengan panjang yang digulung. It shows the image that he works hard (Baju lengan pendek akan memberikan kesan yang berbeda tentunya). Sama sekali tak ada penampilan dan sosok pejabat di dirinya. Ini menunjukkan pesan bahwa ia orang yang serius dengan tugasnya, total dengan pekerjaannya, dan tidak mencari kekayaan atau
pujian dengan itu semua. Meski demikian wajah Dahlan Iskan selalu nampak tersenyum sehingga kita juga tertulari oleh keceriaannya. Kita memang bisa bersikap serius atau pun prihatin tanpa perlu menunjukkan wajah sedih.

Dahlan Iskan terutama memukau karena CEO Notesnya. Di situ ia tuliskan visi dan misinya dengan cara yang begitu manusiawi dan penuh optimisme. Ia tahu benar bahwa rakyat membutuhkan optimisme dan terobosan. Rakyat ingin sesuatu yang luar biasa dan bukan sekedar ‘Harmoni’, ‘Rinduku Padamu’ dan sejenisnya. SBY tidak memiliki itu semua. Lagu-lagunya tidak menimbulkan efek seperti CEO Notesnya Dahlan Iskan.

SBY telah berjanji akan membuat perubahan setelah perombakan kabinet (meski tidak nampak benar perubahan pada kabinet tersebut). Tentu saja rakyat sangat menantikan itu karena mereka tidak melihat adanya gebrakan dan terobosan dalam berbagai masalah yang datang. Sayang sekali bahwa wakilnya, Budiono, tidak menunjukkan prestasi yang diinginkan oleh rakyat. Sebelum ini masyarakat masih melihat adanya beberapa terobosan dari Jusuf Kalla yang berani mengambil keputusan cepat dan tidak populer (salah satu keputusan Jusuf Kalla yang menurut saya ‘ngasal’ adalah soal Ujian Nasional. Semua komentarnya tentang UN ini benar-benar ‘ngasal’ dan ‘silly but sounds heroic’)

Jadi… Ayo SBY…! You can still make a change you promise.

Salam

Satria Dharma