Pagi ini sebuah posting menarik dilempar masuk oleh Mas Ihsan ke milis IGI. Begini bunyinya :

Status fesbuk saya pagi ini:

Mas ihksan saya kepsek SMK N ***, Ketua MKKS SMK se ***, di *** belum masuk IGI, bagaimana cara saya gabung dgn IGI sekaligus buka cabang IGI di ***. Info : anggotaku MKKS SMK sebanyak 32 Kepsek…. Apa nanti PGRI tdk protes jika saya gabung IGI?

Apa yg menarik? Ternyata seorang kepala sekolah sekaligus Ketua MKKS kuatir jika ‘dimarahi’ oleh PGRI jika bergabung dg organisasi lain…!:-D

Hal ini menunjukkan paling tidak dua hal. Pertama, sang kasek ini menganggap PGRI sebagai ‘atasan’ tidak langsung yg punya hak untuk menghardik atau mengancamnya. Pokoknya PGRI adalah semacam organisasi yg bisa menekan dan memaksa mereka utk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kedua, ini menunjukkan bahwa para guru dan bahkan kepala sekolah belum memiliki kemandirian dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam pengembangan profesi mereka.

Apakah PGRI memang berprilaku menekan dan mengintimidasi para guru dan kepala sekolah? Tidak jelas benar tapi banyak laporan dari guru-guru di setiap daerah di mana IGI ingin didirikan yg menyatakan demikian. Mereka ditekan, diancam dan diintimidasi agar tidak masuk IGI atau bahkan utk mengikuti kegiatan seminar dan pelatihan IGI. Entah apa yg ada di benak para oknum yg melancarkan ancaman dan intimidasi ini tapi itu sungguh sikap dan prilaku yg tidak layak dilakukan, utamanya di jaman (pasca) reformasi seperti ini.

Sikap-sikap hegemonik, mengancam, menindas, menakut-nakuti adalah prilaku Orde Baru yg sangat ketinggalan jaman dan layak ditendang ke jurang agar tidak muncul-muncul lagi.

Para guru selama ini memang benar-benar dikerdilkan cara berpikirnya dan dilarang bersikap kritis. Ini memang ciri khas jaman Orde Baru-nya Suharto yg memang bertujuan utk menguasai semua lapisan masyarakat secara politis. Orde Baru menjinakkan sekaligus mematikan sikap kritis semua lapisan masyarakat dengan indoktrinasi, intimidasi dan tekanan-tekanan. Salah satu metodenya adalah dengan Penataran P4 yg tersohor tersebut. Saya pernah mengikutinya dua kali, pertama pada saat masih baru jadi guru di Caruban dan kedua ketika bekerja di perusahaan gas PT Badak NGL Co di Bontang. Meski menjadi Peserta Terbaik peringkat 1 dalam penataran tersebut saya sadar betul bahwa penataran itu adalah upaya utk ‘taming the inquisitive minds’, menjinakkan pemikiran-pemikiran yg kritis.

Sejak awal menjadi guru pada tahun 1978 dulu saya sudah sadar bahwa tugas guru itu bukan sekedar menumpahkan pengetahuannya ke benak siswa-siswanya tapi juga menginspirasinya utk membuka horison baru dalam hidup dan masa depan mereka. Guru harus menginspirasikan keberanian pada siswanya utk bertualang mengeksplorasi dunia baru baik itu dalam pemikiran atau pun dalam tindakan. Guru harus mendorong siswanya utk bersikap kritis dan mempertanyakan semua hal yg sudah dianggap baku agar mereka benar-benar menjadi manusia yg cerdas, bebas, merdeka, dan bertanggung jawab. Tanpa mampu menanamkan sikap kritis dan berani berpendapat maka sejatinya kita menciptakan generasi bebek yg cuma bisa mengekor dan bukan elang yg terbang tinggi di angkasa.

Jadi bagaimana mungkin kita menciptakan generasi muda yg lebih baik, lebih cerdas, lebih kritis, lebih kreatif, lebih inovatif, lebih kontemplatif, lebih kolaboratif, dll sikap mental yg dibutuhkan di masa depan jika kita para guru sendiri adalah sekedar bebek yg tergopoh-gopoh lari ke sana ke mari tanpa kemandirian? Bebek tidak akan melahirkan elang tentu saja. Jadi kalau guru sendiri belum mandiri, belum bebas menentukan sikap, belum berani menyampaikan pandangan berbeda maka apakah mungkin mereka akan dapat menginspirasi sikap yang sama pada siswa mereka?

Sikap membebek saja ini tentu saja buruk utk pribadi dan sebetulnya ‘haram’ bagi seorang guru. Mengapa demikian? Karena guru punya tiga fungsi Ing Ngarso Sing Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Kalau ia membebek saja maka fungsinya sebagai pemimpin, panutan yg memberi teladan menjadi hilang. Seorang guru yg tidak punya inisiatif dan takut mengambil resiko tidak akan menjadi guru yg bisa menginspirasi siswanya. Jika guru sendiri belum mandiri, belum bebas menentukan sikap, belum berani menyampaikan pandangan berbeda maka apakah mungkin mereka akan dapat menginspirasi sikap yang mandiri, berani, dan kritis pada siswa mereka?

Di berbagai lingkungan dan komunitas saya melihat justru komunitas guru yg paling sulit utk berubah. Di mana-mana terjadi reformasi dan perubahan sesuai dg dinamika dan perubahan jaman. Kecuali para guru…! Mereka takut sekali dengan resiko dan cenderung pasrah jika ditekan, ditakut-takuti, atau ditindas. Mereka takut melawan karena takut resiko ‘diapa-apain’ oleh atasan. Mereka seolah menjadi manusia yg tidak punya hak dan harga diri.

Saya biasa menyatakan hal ini sebagai sikap dan cara berpikir “Gek Ngene Gek Ngono” atau ‘bagaimana kalau begini dan bagaimana kalau begitu’. Ini semacam kekuatiran utk melangkah dan melakukan sesuatu meski kita tahu bahwa itu baik utk kita karena kuatir dengan resiko ini dan itu yang tidak jelas benar apa. Pokoknya kita kuatir aja dan akhirnya kita batal melangkah. Kita selalu sukses menakut-nakuti diri kita utk melakukan sesuatu hal yang beresiko. Padahal mungkin justru langkah itu yg akan membawa kita maju melesat ke depan. Tapi karena takut resiko “Gek Ngene Gek Ngono” maka kita tidak jadi melangkah.

Mengapa guru justru menjadi profesi yg paling sulit melakukan perubahan? Saya terpaksa harus menuding politik sebagai biang keroknya dan para birokrat baik di pemerintahan mau pun di organisasi guru PGRI sebagai pelakunya. Mereka memang tidak rela kalau guru menjadi kritis dan kreatif karena itu akan mengganggu

Kepentingan politis mereka. Jelas sekali PGRI tidak ingin ada organisasi guru tandingan yg kuat karena itu akan mengganggu hegemoni dan kepentingan politik mereka! Jadi ini semua memang bermuara pada politik atau kekuasaan dan guru memang paling enak ditindas karena tidak pernah melawan…!

Benarkah bahwa jika hanya ada satu organisasi guru maka itu akan baik bagi kepentingan guru itu sendiri?

Saya selalu pingin ketawa kalau mendengar alasan ini dipakai utk menghalangi tumbuhnya organisasi guru lain. ‘Baik’ utk kepentingan siapa…? Untuk kepentingan guru atau kepentingan birokrat dan pimpinan organisasi…? Selama ini PGRI menjadi satu-satunya organisasi guru dan ‘dilindungi’ oleh kekuatan politik yg mengambil manfaat dari ‘bersatu’nya guru dalam satu wadah tersebut. Dan yg diuntungkan jelas para politisi, birokrat, dan pimpinan organisasi belaka sedangkan para guru tetap saja tidak berkembang kapasitasnya dalam organisasi tersebut. Meski dikutip iuran anggota setiap bulan (yang entah masuk ke mana dan dipakai apa) para guru tetap tidak paham apa peran organisasinya utk meningkatkan kapasitas profesi mereka.

Jaman sudah berganti dan mau tidak mau perubahan akan (dan harus) terjadi pada profesi guru. Tidak bisa tidak. Mereka akan keluar dari batasan-batasan organisatoris dan psikologis utk mencari jatidiri mereka yg sejati. Guru-guru muda yg kritis dan cerdas akan mulai bersikap melawan jika ditekan. Mereka tahu bahwa jaman telah berubah dan cara-cara Orde Baru sudah tidak laku lagi di mana-mana. Jika para politisi, birokrat pendidikan dan oknum PGRI masih menggunakan pola-pola Orde Baru dalam mengelola para guru maka jangan kaget kalau suatu saat akan terjadi Tsunami di dunia pendidikan. Saya yakin kita tidak menginginkan Tsunami datang menghantam kita.

Kereta Sancaka Surabaya – Madiun, 6 Desember 2011

Salam
Satria Dharma