Syahdan…

Suatu ketika Rasulullah mendapati penduduk Madinah sedang mengawinkan benih kurma dengan penyerbukan. Melihat ini Rasulullah lalu mengomentari apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah tersebut dan bertanya mengapa benih kurma itu mesti dikawinkan segala. Mengapa tidak dibiarkan begitu saja secara alamiah. Penduduk Madinah yang petani kurma itu sangat menghormati Nabi Muhammad sebagai pemimpin panutannya. Ia lalu mengikuti saran Rasulullah dan berhenti mengawinkan kurmanya. Kemudian ternyata produksi kurmanya menurun karenanya.

Panennya berkurang karena mengikuti saran Rasulullah. Para petani kurma kemudian melaporkan panen kurma yang menurun itu kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian sadar akan keterbatasan pengetahuannya tentang menanam kurma. Maka keluarlah sabda Rasulullah: Wa Antum A’lamu biAmri Dunya-kum, kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg00446.html

Apa artinya ini?

Ketika Nabi saw memberikan nasihat tentang cara mengawinkan pohon kurma supaya berbuah, ini bisa dianggap bahwa beliau sudah memasukkan otoritas agama untuk urusan duniawi yang di mana beliau tidak mendapatkan wahyu atau kewenangan untuk itu. Untuk manusia setingkat Nabi apa pun perkataannya, sikapnya, dan bahkan diamnya pun bisa dianggap sebagai hukum, aturan, dan ketentuan. Tapi ternyata dalam masalah menanam kurma ini pendapat beliau keliru. Pohon kurma itu malah menjadi mandul. Maka para petani kurma itu mengadu lagi kepada Nabi saw, meminta pertanggungjawaban beliau. Dan beliau menyadari kesalahan advisnya waktu itu dan dengan rendah hati berkata, “Kalau itu berkaitan dengan urusan agama ikutilah aku, tapi kalau itu berkaitan dengan urusan dunia kamu, maka “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum” kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. Rasulullah mengakui keterbatasannya. Rasulullah bukanlah penentu untuk segala hal. Rasul bukanlah orang yang paling tahu untuk segala hal. Bahkan untuk urusan dunia di jaman beliau pun beliau bukanlah orang yang paling tahu. Jadi tidak mungkin jika kita menuntut Rasulullah untuk mengetahui segala sesuatu hal tentang urusan dunia. Apalagi kalau mengurusi urusan kita di jaman modern ini…! Tentu tidak mungkin kita harus mencari-cari semua aturan tetek-bengek dalam hadist beliau. Itu namanya set-back. Lha wong di jamannya saja Rasulullah menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak beliau pahami dan hendaknya tidak mengikuti pendapat beliau dalam ‘urusan duniamu’ tersebut.

Mengapa saya mengungkapkan kembali kisah ini? Karena ternyata masih saja banyak umat Islam itu yang tidak paham soal ini. Mereka menganggap bahwa Islam yang dibawa oleh Rasulullah itu sudah mengatur segala sesuatunya urusan dunia dan akhirat sampai sedetil-detilnya mulai jaman dulu sampai nanti pada waktu kiamat. Haah…?! Yang benar sajalah…!

Seorang teman yang menjadi anggota organisasi politik Islam transnasional selalu mengritik demokrasi dan mengatakan bahwa demokrasi itu ‘haram’ karena bertentangan dengan ajaran Islam. Katanya dalam ajaran Islam semua peraturan kehidupan di dunia HARUS berasal dari Allah. Alasannya karena Allahlah yang menciptakan manusia sehingga Allahlah yang paling tahu bagaimana mengatur kehidupan di dunia. Bahkan jika kita membuka-buka di internet maka akan kita temukan indoktrinasi mereka yang mengatakan bahwa demokrasi itu sistem kufur. http://hizbut-tahrir.or.id/2009/04/11/demokrasi-sistem-kufur-cover/

Berikut ini saya kutipkan argument tentang kekufuran system demokrasi.

Demokrasi Sistem Kufur

Demokrasi adalah suatu konsep tentang realita kehidupan dimana manusia berkehendak untuk membuat peraturan hidupnya (Demos: rakyat; kratos: pemerintahan). Padahal, aturan hidup itu sudah dibuat oleh Allah SWT dengan sangat sempurna. Allah SWT sebagai pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan ini sudah menyertakan tata cara “penggunaan” alam semesta sebagaimana sebuah pabrik membuat aturan pakai tentang suatu produk yang dibuatnya. Jika Allah sudah menciptakan sebuah aturan untuk hidup ini maka mengapa kita sebagai manusia berani untuk membuat aturan lain selain aturan Allah SWT yang Maha Mengetahui kondisi alam semesta?

Perintah untuk memutuskan perkara kehidupan menurut aturan Allah adalah wajib hukumnya, maka apakah kita akan menginginkan aturan manusia sebagai pengatur kehidupan ini. Sebagai umat Islam, kita jangan sampai tertipu oleh tipu daya orang-orang kafir bahwa demokrasi merupakan sistem politik paling baik yang bisa mengakomodir kepentingan seluruh umat manusia. Anggapan sesat ini membuat kaum Muslimin berpaling dari aturan Allah SWT dan masuk ke dalam kubangan maksiat secara berjamaah.” http://nchiedive.multiply.com/journal/item/341?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Jika kita baca sekilas argumen ini nampak seolah benar. Padahal argumen yang digunakan jelas salah kaprah. Banyak umat Islam yang menghantam demokrasi dengan mengatakan bahwa demokrasi itu berarti tidak mengakui aturan Tuhan. Tentu saja itu salah besar.

Apakah benar dalam ajaran agama Islam bahwa untuk mengatur kehidupan di dunia Tuhan harus selalu hadir…?! Tentu saja tidak. Agama tidak diturunkan untuk itu. Contohnya ya soal bagaimana menyerbukkan benih kurma tersebut. Bahkan Rasulullah tidak memiliki pengetahuan yang lebih baik ketimbang petani kurma Madinah sehingga beliau menyatakan bahwa “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum”, Engkau lebih tahu tentang urusan duniamu. Apatah lagi soal urusan dunia ultra-modern sekarang ini.

Sebagai contoh, untuk mengatur lalu-lintas apakah Tuhan harus mengeluarkan aturan? untuk urusan pertanian, perkebunan, perkantoran, peraturan sekolah, dll apakah harus diatur oleh Tuhan? Untuk pembagian shift kerja apakah Tuhan juga harus turun tangan…?! :-) Itu kan juga peraturan…?!

Lha lantas apa gunanya Tuhan memberi kita otak dan agama kalau semuanya masih harus
diurusi oleh Tuhan…?! Mbok ya bikin sendiri gitu lho aturan untuk kehidupanmu. Ndak usah sedikit-sedikit minta ‘fatwa’, sedikit-sedikit minta Tuhan turun tangan, dlsb. Kayak binatang dan tanam-tanaman aja…!

Mereka yang membenturkan demokrasi dengan ajaran agama berkilah bahwa demokrasi itu ‘dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’ lantas di mana peran Tuhan kalau semuanya serba rakyat? Katanya dalam demokrasi Tuhan tidak punya peran karena sudah diambil alih semua oleh rakyat. Makanya itu menjadi sistem yang kufur. Masya Allah…! Kita memang tidak sedang bicara tentang kekuasaan Tuhan (karena Tuhan memang berkuasa atas segala sesuatu). Itu domain yang berbeda.

Demokrasi itu lawannya adalah kesewenang-wenangan dan totaliterisme. Jadi jika tidak demokratis maka tentu totaliter. Mereka yang menolak negara yang demokratis berarti ingin negara yang totaliter yang pemimpinnya memegang kekuasaan absolut di mana rakyat tidak punya perwakilan atau suara. Hanya orang yang tidak paham yang membenturkan antara demokrasi dengan kekuasaan Tuhan.

Coba bayangkan bagaimana mungkin manusia bisa hidup jika SEMUA aturan harus datang dari Tuhan. Apakah peraturan lalu lintas juga harus datang dari Tuhan? Apakah UU Tenaga Kerja harus datang dari Tuhan? Peraturan dan Undang-undang Pertambangan, Migas, Kesehatan, KDRT, dll harus dari Tuhan…?! Lha apa kerjanya manusia kalau minta semuanya disediakan oleh Tuhan? Bukankah manusia itu sudah dijadikan ‘khalifah’ oleh Tuhan agar bisa mengurusi dirinya dan alam semesta ini…?! Lha kok sekarang semua mau dikembalikan pada Tuhan sih…?!

Mereka yang menghantam demokrasi dan mempromosikan sistem yang katanya syar’i dan berasal dari Al-Qur’an dan hadist MAU TIDAK MAU pasti akan membuat aturan-aturan juga untuk mengurusi segala sesuatunya. Dan apakah mereka mau MENGAKU-NGAKU bahwa aturan yang mereka buat itu sebagai ‘aturan Allah’…?! Bagaimana organisasi politik tersebut bisa menetapkan bahwa UU yang akan dihasilkan oleh pemimpinnya nanti adalah benar-benar ‘aturan Allah’ padahal sepenuhnya merupakan hasil pemikiran mereka sendiri…?! Bukankah pada akhirnya nantinya mereka juga akan menggunakan sistem demokrasi?

Bahkan Tuhan itu sangat demokratis meski pun terhadap manusia ciptaanNya. Dalam beberapa permasalahan di mana Rasulullah dan para sahabatnya berbeda pendapat ternyata Tuhan justru membenarkan sahabat (dalam hal ini Umar). Contohnya adalah dalam hal penentuan nasib tawanan Perang Badar. Ketika Perang Badar Nabi saw mengajak sahabat-sahabatnya membahas masalah tawanan perang Badar. Abu Bakar mengusulkan agar umat islam meminta tebusan atas tawanan tersebut. Sedangkan Umar mengusulkan agar para tawanan tersebut dibunuh karena kalau dibebaskan mereka akan kembali lagi memusuhi umat Islam. Mereka tidak akan jera karena toh bisa menebus diri dengan harta. Dan itu tentu akan menguntungkan kaum kafir karena mereka lebih kaya daripada umat Islam. Umat Islam akan terus menerus diperangi oleh orang-orang yang sama. Tapi Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar yang mengusulkan mereka tidak dibunuh tapi dijadikan tebusan. Beliau tidak menyetujui pendapat Umar yang menghendaki mereka dibunuh. Tetapi kemudian turun ayat yang membenarkan pendapat Umar . Allah berfirman : “Tidak patut bagi Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi”. (Q.S. al Anfal, 67). Bayangkan…! Bahkan Tuhan lebih membenarkan pendapat Umar padahal Nabi sendiri lebih cenderung pada pendapat Abu Bakar!

Ada beberapa ayat yang turun karena Umar. Umar pernah menyampaikan keinginannya kepada Nabi saw. agar maqam Ibrahim dijadikan tempat shalat. Maka turunlah ayat: “Dan jadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat” . ( Q.S. al Baqarah, 125). Ia juga pernah menyampaikan kepada Nabi saw.: “Bagaimana kalau anda perintahkan saja isteri-isteri anda untuk memakai hijab ( penutup wajah ). Sebab mereka dilihat bukan saja oleh orang baik-baik, tetapi juga orang-orang yang jahat”. Lalu Allah menurunkan ayat: “Apabila mereka meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir”. (Q.S. al Ahzab, 53).

Sebagian ulama mengatakan bahwa pendapat-pendapat Umar yang sejalan dengan kehendak Allah berjumlah 14 masalah. Antara lain; usulannya kepada Nabi agar tidak menyembahyangi jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul. Al Qur-an menyatakan :”Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangi (seorang) yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya …”. (Q.S. al Taubah, 84). Umar juga berkeinginan mendapatkan penjelasan yang tegas mengenai persoalan khamr (minuman keras). Ia mengemukakan keinginan itu dalam do’anya : “Ya Allah, berikan kami kejelasan tentang khamar secara tegas dan tuntas. Maka turunlah ayat yang mengharamkannya.

http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/umar-bin-khaththab-al-faruq-ra.html

Ini semua menunjukkan bahwa Allah tidaklah ‘sewenang-wenang’ dalam menetapkan aturan meski pun tentu saja Allah adalah Maha Berkuasa. Bahkan tidak selamanya Tuhan membenarkan pendapat NabiNya dan mengesampingkan pendapat sahabat Nabi yang hanya manusia biasa. Tuhan itu demokratis…!

Apa bukti lain bahwa Tuhan itu demokratis dan tidak sewenang-wenang? Salah satu bukti yang sangat penting adalah tentang masalah IMAN. Kalau Tuhan ingin semua manusia beriman , mengapa dia membiarkan orang menjadi kafir atau atheis? Padahal ia Maha Kuasa untuk membuat semua hambaNya beriman. Ini bukti bahwa Tuhan tidak hanya Maha Kuasa, tapi juga Maha Demokratis. Dia tidak mendikte, tetapi memberi pilihan. Dengan konsekuensi tentunya. Jika kita memilih beriman maka ada reward dan ada caranya. Tuhan tetap memberi panduan dan petunjuk melalui Rasul dan Kitab-Nya. Tuhan juga memberi kita akal agar bisa berpikir dan memilih sendiri mana jalan yang akan kita lalui, jalan yang lurus atau jalan yang sesat.

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS Yunus ayat 99)

Tentu dengan sangat mudah saja Tuhan bisa menjadikan semua manusia menjadi pengikutNya. Tapi Tuhan ingin manusia beriman karena kehendak mereka sendiri, bukan dengan paksaan. Maka Tuhan memberi kita petunjuk dan akal, tapi kita sendirilah yang memutuskan apakah hendak mengikuti petunjuk itu atau tidak dengan mempergunakan akal kita. Justru keimanan sesorang pada Tuhan itu harus didasarkan pada kemerdekaan memilih yang diberikan oleh Allah khusus pada mahluk yang namanya manusia, dan kemerdekaan adalah salah satu pilar demokrasi yang hakiki.

”Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahf ayat 29).

”Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Sesungguhnya telah jelas antara yang benar dan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah 2:256).

Kepada para Nabi pun Tuhan berpesan agar tidak memaksa. Nabi hanyalah seorang pemberi peringatan, keputusan untuk mengikuti atau tidak ada dalam diri setiap manusia masing2.

“Jika mereka berserah diri, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanya menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (QS. Al-’Imran ayat 20)

Contoh lain adalah soal perintah sholat. Ketika mi’raj, awalnya Tuhan memerintahkan shalat sebanyak 50 rakaat. Nabi Muhammad kemudian menawar jumlah rakaat itu diturunkan dengan alasan umatnya tidak akan kuat sholat sebanyak itu dalam sehari semalam. Tawar menawar itu terjadi beberapa kali hingga akhirnya disepakati shalat hanya 5 rakaat.

Bukankah ini semua menunjukkan betapa demokratisnya Allah SWT? Lantas mengapa dikatakan bahwa demokrasi itu adalah sistem kufur. Padahal Tuhan sendiri yang mengajrkan pada kita bagaimana bersikap demokratis…?!

Balikpapan, 11 Desember 2011

Salam
Satria Dharma

Iklan