Bagaimana cara Anda memberi makna pada hidup Anda? Apakah Anda selalu berupaya utk memberikan makna pada hidup Anda? Atau hidup adalah sekedar hari-hari yg sama dengan kemarin yg cukup dilalui begitu saja tanpa harus dipikirkan? Mengalir saja seperti air (yang berarti ikut kemana saja arus membawa) atau berhembus seperti angin ke mana saja diarahkan? Semua itu bergantung pada bagaimana kita memandang hidup itu sendiri.

Bagi manusia oversek seperti saya memberi makna pada sisa hidup itu menjadi semakin hari semakin penting. Bahkan menurut saya hidup adalah upaya utk memberi makna pada keberadaan kita. Hidup yg tanpa makna tidak layak utk dijalani. Itu seperti hidup yg muspro dan tidak berharga.

Sejak saya suka membaca biografi dan kisah hidup para pelaku (dan penentu) sejarah di seluruh dunia, saya sudah mulai berpikir bahwa setiap orang itu mestinya punya rencana utk menuliskan sejarah hidupnya masing-masing. Tidak mesti hebat seperti para pelaku sejarah tersebut. Tapi harus punya arti dan bukan hidup yang tak berkesan samasekali.

Saya tidak ingin hidup yg mengalir begitu saja seperti air yang tidak punya daya dan kehendak. Iya kalau mengalir ke sungai yg jernih. Lha kalau mengalir ke comberan dan jumeneng di situ rak yo kojur toh! Saya harus seperti kapal di atas air yg dapat saya arahkan ke mana saya mau pergi.

Membaca memberi saya perspektif ttg bagaimana hidup itu mesti dijalani. Minimal kita harus punya prinsip hidup. Manusia tanpa prinsip itu hidupnya menyedihkan. Biasanya mereka akan berakhir di comberan. Membaca juga memberi saya kesadaran bahwa hidup harus punya tujuan. Hidup tanpa tujuan adalah kehidupan yang tidak punya arti dan tidak berharga utk dijalani. Agama memberi saya pemahaman bahwa hidup ini bukan sekedar kehidupan di dunia tapi ada kehidupan lain setelahnya. Dan ini memang memberi perspektif yg berbeda dengan jika kita tidak meyakini adanya kehidupan lain setelah kita mati nanti.

Bagaimana sih caranya memberi makna pada hidup ini? Apakah itu berarti kita harus melakukan hal-hal besar, penting, berdampak luas pada masyarakat, bangsa, dan negara? Tidak juga. Tidak semua dari kita memperoleh kesempatan utk menjadi orang-orang penting yg setiap tindakannya berdampak luas bagi masyarakat dan lingkungan. Tidak semua dr kita bisa dan punya kesempatan utk menjadi ‘Hero’ yg melakukan tindakan-tindakan heroik. Sebagian besar dari kita adalah orang-orang biasa yg menjalani hidup dengan ritme dan rutinitas yg itu-itu saja. Sangat sedikit dari kita yg punya kesempatan utk menjadi tokoh bersejarah yg akan ditulis dalam buku-buku sejarah. Sebagian besar dari kita adalah para figuran dalam skenario kehidupan yg ditulis baik dalam kisah besar atau pun kecil. Tapi itu tidak berarti bahwa peran kita tidak berarti. Setiap peran yg dijalankan memiliki arti penting dalam skenario tersebut. Peran kecil yang kita jalankan adalah SANGAT PENTING bagi kita sendiri karena masing-masing dari kita akan dinilai dari peran yg kita mainkan dan bukan dari peran besar yg dimainkan oleh pelaku lain.

Jadi bagaimana caranya memberi makna pada kehidupan sehari-hari? Bagi saya kehidupan yg bermakna adalah jika saya mampu melakukan hal-hal bermanfaat baik bagi diri saya, keluarga saya, lingkungan kecil saya, kota saya, bangsa saya, negara saya, dan pada akhirnya bagi dunia dan alam semesta.

Apakah orang kecil seperti saya bisa memberi makna pada dunia luas? Tentu saja. Itu kan hanya masalah persepsi. Dan persepsi itu letaknya di kepala kita dan berada dalam kontrol kita.:-D. Lagipula menurut ‘Chaos Theory’ kepakan sayap kupu-kupu di bumi sebelah sini bisa mendatangkan badai di dunia sebelah lainnya. Artinya setiap tindakan (dan bahkan pikiran) kita itu somehow bisa mempengaruhi tatanan dunia dan alam semesta. Jadi berhati-hatilah Anda jika hendak mengepakkan sayap agar tidak mendatangkan badai di Bangladesh sana.(Rakyat Bangladesh sudah cukup menderita oleh musibah banjir yg terus menerus mendera mereka) :-D . Lha wong gara-gara sebuah apel jatuh saja bisa membuat Newton menemukan sebuah teori yg kemudian akan mengubah dunia toh? Lha wong seruan ‘Eureka’nya saja bisa menginspirasi banyak orang sampai sekarang.

Gara-gara mandi air hangat di shower saja bisa membuat saya tiba-tiba terpikir utk membukukan tulisan-tulisan saya (padahal biasanya juga tidak). Dan sekarang buku itu telah beredar ke mana-mana melintasi pulau (entah dibaca entah tidak oleh yg mendapat buku saya tersebut). Tapi buku ini telah menggerakkan sebuah sistem di sana-sini dan gelombangnya berjalan terus tanpa saya pernah tahu sampai di mana. Dengan saya menerbitkan buku itu maka saya menggerakkan sebuah ketrampilan mengedit dari seorang editor koran Jawa Pos. Ketika buku itu dicetak sebuah sistem bernama percetakan bergerak dan tentu saja akan menghidupi orang-orang yg hidup di organisme tersebut. Ada orang beli kertas, tinta cetak, lem, kopi, sarapan, dll. ketika buku itu dicetak. Ketika buku itu saya kirim ke teman-teman maka sebuah sistem logistik yg melibatkan banyak orang dan pekerjaan berjalan. Sistem pos bergerak mengirimkannya ke seantero penjuru yg saya tuju. Seorang petugas pengantar paket yg tidak saya kenal samasekali dan mungkin tidak akan pernah saya kenal menyampaikan paket buku saya ke seorang teman yg mungkin hanya saya kenal via milis. Ada begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi baik yg bisa kita perkirakan mau pun yg tidak pernah terlintas di benak kita samasekali.

Jadi apa hubungannya dengan makna hidup? Saya mengartikannya sebagai sebuah kesadaran utk mengingatkan bahwa apa yg saya lakukan bisa berakibat baik atau pun buruk di ujung sana (entah di mana) dan utk itu saya harus benar-benar mempertimbangkannya sebelum melakukannya. Ringkasnya, saya harus lebih banyak memilih perbuatan baik ketimbang perbuatan buruk. Utamanya karena semua tindakan suatu saat akan kembali pada kita dan saya tentu tidak ingin terkena badai dari perbuatan saya. Kita memanen apa yg kita tanam. Dan saya tidak ingin memanen malapetaka atau keburukan, khususnya di usia paro abad lebih ini.

Jadi dengan kesadaran itu saya menjalani hidup saya hari demi hari sejak bangun pagi. Selepas Subuh dan mengaji barang 5 – 10 ayat saya segera mulai mencari sesuatu pekerjaan yg akan memberi makna pada hari saya pagi itu. Menyapu halaman dan mencuci mobil adalah ritual yg saya beri makna. Dengan menyapu halaman atau mencuci mobil otot-otot di tubuh saya bergerak dan menjalankan perannya. Hasilnya adalah tubuh yg berkeringat sama seperti kalau saya jogging. Ia akan menyehatkan tubuh kita. Bedanya adalah pada hasil sampingannya. Dengan menyapu halaman rumah menjadi bersih dan perasaan jadi nyaman. Bukan hanya bagi saya tapi juga bagi orang-orang yg melintasi depan rumah yg bersih tersebut. Siapa tahu perasaan nyaman tersebut akan ia bawa ke kantornya ketika bekerja dan itu akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lain. Who knows…?! Kita semua secara naluriah menyukai keindahan, ketertiban, kenyamanan, kebersihan, dan semua hal yg baik.

Itu namanya fitrah. Jadi jika kita melakukan sebuah perbuatan baik betapa pun kecilnya (yg sering dianalogikan dengan memindahkan duri dari jalanan) maka itu tentu akan mendatangkan kebaikan pula bagi kita dan orang-orang terdekat kita. Begitu juga sebaliknya.

Jadi begitulah… Setiap hari saya ‘mengincar’ hal-hal kecil yg bermanfaat dan bisa saya lakukan. Sambil demikian saya juga berharap memperoleh kesempatan utk melakukan hal-hal besar. Hal-hal besar sangat jarang terjadi tapi kebaikan-kebaikan kecil bisa kita lakukan setiap hari. Otak saya kuprogram utk melakukan pencarian hal-hal bermanfaat utk dilakukan sebagai upaya utk memberi makna dalam hidup. It’s a continuous search for meaning. Even for a tiny…tiny deed.

Hal yg paling saya sukai adalah membantu seseorang ketika orang tersebut sangat membutuhkan bantuan tersebut. Ini tidak selalu dalam bentuk finansial. Jika saya melihat seorang wanita yg begitu kerepotan membawa barang-barangnya turun dari pesawat sambil harus menggandeng anaknya yg masih kecil maka itu adalah kesempatan emas saya utk ‘memberi makna pada hidup’. Dengan sigap saya akan menawarkan bantuan utk membawakan barang-barangnya sampai ke tempat yg ia inginkan. Begitu juga kalau ada penjual bakso yg kerepotan mendorong gerobaknya di jalan tanjakan. Dengan gembira saya bantu ia utk mendorong gerobaknya sampai di ujung. Ucapan terima kasih dan ekspresi lega dari orang-orang seperti ini bisa membuat saya berbahagia seharian penuh. Sumprit…!

Tahukah Anda apa ‘big event’ yg sangat saya harapkan datang pada hari-hari saya? Yaitu bisa membantu orang-orang yg terlantar di jalanan karena kehabisan bekal dan tak tahu harus minta tolong pada siapa. Jika Anda bisa membantu orang semacam ini maka skor makna yang akan Anda peroleh sangat tinggi. Bayangkan betapa berartinya bantuan kita tersebut pada dirinya. Ia mungkin akan mengingat momen tersebut seumur hidupnya. Tapi sebenarnya kitalah yg beruntung telah membantu mereka. Kita berhasil memberi makna pada hidup kita dg membantu mereka. Kalau mereka berterima kasih dalam hati saya menjawab,”Tidak. Sebaliknya sayalah yg berterima kasih karena telah Anda beri kesempatan untuk memberi makna pada hidup saya hari ini.” Mereka mungkin tidak sadar betapa beruntungnya saya karena telah membantu mereka.

Saya pernah membaca kisah tentang seorang pelacur yg sangat kehausan dan dengan susah payah berhasil mengambil air di sumur. Tapi ketika ia ingin meminumnya tiba-tiba ia melihat seekor anjing yg hampir mati kehausan. Rasa kasihnya tersentuh dan ia memberikan air minum tersebut kepada anjing itu lebih dahulu. Ini tentu saja skor maknanya luar biasa. Si anjing tidak akan bisa mengambil air dari sumur dan nyawanya sudah di tenggorokan. Untunglah ada pelacur yg penuh kasih tersebut. Dan berdasarkan kisah tersebur si pelacur tersebut masuk sorga karena ‘one big event’ tersebut.
One important event which makes you eligible for heaven. Bukankah itu luar biasa…?!

Surabaya, 5 Desember 2011

Salam
Satria Dharma