Karena punya anak tiga masih sekolah semua maka kadang-kadang saya harus ke sekolah untuk mengambil raport mereka. Kadang ada sekolah dan masa ketika raport diberikan langsung pada siswanya. Tapi kadang-kadang mereka meminta orang tua yang harus mengambil dan tidak boleh diwakilkan. Ke tiga anak saya bersekolah di tempat yang berbeda-beda. Yubi di SMA Patra Darma Pertamina, Yufi di SMP Istiqomah, dan Tara di Lukman Al-Hakim. Meski demikian para guru mereka hampir mengenal saya semua. Saya pernah menjadi Ketua Komite Sekolah di Istiqomah dan saya termasuk salah seorang pendiri awal Luqman Al-Hakim. Di Patra Darma saya kenal baik dengan kaseknya karena saya pernah jadi ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan.

Raportan kali ini saya kebetulan sedang berada di Balikpapan sehingga saya sempatkan untuk datang sendiri. Biasanya kami bagi tugas kalau waktu terima raportnya bersamaan. Saya ke sekolah ini dan istri saya ke sekolah yang lain. Tapi karena kali ini hanya Yubi yang terima raport maka saya sendiri yang datang. Kebetulan juga istri saya mengurus perpanjangan STNK (yang atas namanya) sehingga saya datang sendirian ke Patra Darma. Itu pun baru diberitahu olehnya ketika ia tahu bahwa raport harus diambil oleh orang tua. Jadi saya segera meluncur ke sekolahnya.

Prinsip saya kalau terima raport adalah ‘stay quiet and let the teacher say as much as possible’, saya akan diam saja dan biar wali kelasnya yang bicara tentang anak saya. Saya akan cuma mendengarkan dengan khidmat dan tidak akan membantah apa pun kata gurunya. Saya juga tidak akan pernah menanyakan bagaimana ‘posisi’ anak saya di kelas. Bagi saya masalah akademik anak saya bukan sesuatu yang perlu saya diskusikan dengan wali kelasnya. Saya memang tidak seberapa perduli dengan nilai raport anak-anak saya. Jadi masalah ranking atau peringkat anak saya di sekolah bukan hal yang perlu saya ketahui. Perkara anak saya mau berprestasi di sekolah atau berprestasi di bidang pelajaran tertentu sepenuhnya saya serahkan pada mereka sendiri. Saya hanya perduli pada seberapa bahagia mereka di sekolah. Kalau mereka berangkat ke sekolah dengan riang gembira dan pulangnya juga riang gembira maka saya anggap it’s more than enough.

Mengapa demikian?

Pertama, terus terang saya sudah tidak percaya pada sistem persekolahan kita. Saya menganggap bahwa sistem persekolahan kita belum mampu untuk membuat setiap anak mengeluarkan potensi dan kapasitas optimalnya. Sekolah kita itu hanya perduli pada soal akademik yang berupa angka-angka dan belum pada nilai-nilai. Saya sendiri tidak perduli pada angka-angka dan lebih perduli pada nilai-nilai. Sekolah kita lebih pada formalitas dan belum pada esensi.

Kedua, bagi saya sekolah itu sekedar tempat bersosialisasi bagi anak-anak saya. Soal intelektualitas dan akademik bisa mereka cari kapan saja mereka mau dan butuhkan. Internet telah membuka semua kesempatan bagi siapa saja untuk memiliki pengetahuan apa saja. Dunia internet adalah sekolah yang bebas untuk dimasuki kapan pun dan oleh siapa pun. Jadi kalau pun anak-anak saya tidak berprestasi di sekolahnya maka mereka bisa mencarinya kelak di dunia nyata. Lagipula kesuksesan itu tidak terlalu banyak menuntut kecerdasan akademik.

Ketiga…. (sebentar, kupikirnya dulu ya). Gak jadi wis…! Lupakan saja alasan ketiga itu.

Yang penting adalah saya kemudian sudah duduk di depan Pak Nasir, wali kelas Yubi. Beliau pun kemudian bercerita bahwa Yubi ada peningkatan dalam pelajarannya. (Alhamdulillah, kata saya dalam hati). Semester ini Yubi masuk peringkat ‘10 Besar’ di kelasnya. (Surprise…! Surprise…..! Dan saya pun menunjukkan wajah senang dan mata berbinar-binar di depan Pak Nasir. Seorang ayah yang baik, apalagi seorang mantan Ketua Dewan Pendidikan, haruslah gembira jika anaknya menunjukkan peningkatan prestasi sekolahnya). Dengan gembira anak saya melihat daftar peringkat di kelasnya dan melihat-lihat siapa saja temannya yang berada di peringkat atasnya. Ia nampak antusias dan gembira bahwa KALI INI ia bisa menunjukkan sebuah prestasi pada orang tuanya (orang tua yang nampak acuh tak acuh dengan perolehan nilai anaknya tersebut).

Pak Nasir pun kemudian bercerita bahwa peringkat tersebut penting karena biasanya siswa Patra Darma mendapat kesempatan untuk masuk ke PTN melalui jalur undangan. Dan siswa yang mendapat kesempatan melalui jalur undangan adalah siswa yang berada pada ranking 1 s/d 17.(Gile…! Banyak banget…! Itu undangan atau rombongan…?!) Jadi anak saya punya kesempatan untuk masuk ke PTN asal jangan memilih PTN yang favorit. Kalau mau milih PTN yang jauh-jauh dan tidak favorit seperti di UNMUL, UNPATTI, UNHALU dan selevelnya insya Allah bisa diterima. Dan saya pun tidak bisa menahan senyum saya. Mungkin Yubi sebaiknya masuk ke UNTUMU (Universitas Tugu Muda, entah dimana itu) saja lha wong arek iki gak jelas karepe. J Mana mau dia bersusah payah kuliah di daerah-daerah.

Kami memang sebelumnya sempat ngobrol soal kemana sebaiknya ia melanjutkan studinya dan kami sempat menganjurkan agar ia masuk ke Lim Kok Wing di Kuala Lumpur saja karena ada jurusan Event Management (yang mungkin tidak membutuhkan kecerdasan intelektual terlalu tinggi). Semula ia sepakat tapi tidak lama kemudian ia datang dan mengatakan tidak ingin sekolah di Malaysia. Kata temannya orang-orang Indonesia dilecehkan kalau di Malaysia dan ia tidak ingin mendapatkan perlakuan seperti itu. (Oh my God…! Gak ada alasan lainkah…?!) Mending di tanah air saja kalau mau kuliah, atau sekalian ke Australia saja katanya. (Dipikirnya berapa biaya kuliah di Australia itu…?! Bapake iki konglomerat tah?). Saya tidak berkomentar karena saya hafal benar dengan anak saya ini. Ia bisa mengeluarkan seribu alasan untuk menolak dan tidak ada gunanya untuk memaksanya. Ia berhak untuk mengatur hidupnya sendiri. Jadi urusan kuliah ke mana untuk sementara kami tangguhkan dulu. Kalau waktunya tiba ia pasti akan datang dengan sebuah penawaran. Lebih baik kami menunggu saja. Jadi status dari diskusi perkuliahannya adalah ‘pause’. Kalau masanya tiba ia akan datang untuk ‘play’ lagi. J

Saya tidak sempat memperhatikan nilai-nilai raport Yubi di depan Pak Nasir dan saya langsung pulang membawanya begitu saja. Yubi sendiri nampak puas betul bisa masuk 10 Besar tersebut.

“Aku sudah berubah kan, Pak!” katanya senyum-senyum sambil memeluk bahuku. Saya berusaha untuk tidak bersikap sinis dan meledeknya. Tapi toh keluar juga kata-kata saya,”Jangan terlalu bangga. Dulu bapak ranking pertama di IPS.” Saya menyesal mengucapkannya setelahnya. Sungguh tidak ada gunanya menjatuhkan mentalnya. Tapi nampaknya Yubi tidak terpengaruh. “Kan lain Pak..” jawabnya enteng. Entah apa maksudnya tapi saya tidak menimpalinya. Ia kemudian ngacir pergi bersama kawan-kawannya. Betul juga…! Bagaimana pun ia sudah berubah. Dulu ia seorang pembolos berat sehingga tinggal kelas dan kini ia peringkat 10 di kelasnya. Not bad…!

Ketika di mobil saya membuka raportnya dan memperhatikan nilai-nilainya. Tak ada yang istimewa karena hanya sedikit di atas rata-rata kecakapan minimum yang diwajibkan. Tapi tiba-tiba saya terkejut melihat ada angka 9 (sembilan) di bawah. Haah…! Yubi bisa memperoleh angka 9 (sembilan)…! Luar biasa sekali kalau begitu…! Seingatku saya sendiri hanya sekali bisa mendapatkan nilai 9 (sembilan) di raport waktu sekolah. Yaitu nilai bahasa Inggris di ijasah terakhir saya di SMA.

Saya segera memperbaiki letak kacamata saya dan melihat dengan teliti kira-kira mata pelajaran apakah yang nilainya 9 (sembilan) tersebut. Begitu saya melihatnya saya langsung ketawa kecut. “Asem….!” Seru saya dalam hati. Ternyata angka 9 (sembilan) tersebut adalah jumlah Alpanya. Rupanya ia bolos sebanyak 9 (sembilan) kali semester ini.

“Aku masih seperti yang dulu….” mungkin judul yang tepat untuk menggambarkan Yubi pada raportan kali ini.

Jakarta, 23 Desember 2011.

Salam
Satria Dharma