Dokumentasi, Singapore, June, 2010

Dokumentasi, Singapore, June, 2010

“Terima kasih, Yang, sudah mempercayaiku.” Demikian tiba-tiba istri saya berkata sambil mencium pipi saya dengan mesra. Saya sejenak terpana dan bertanya-tanya dalam hati untuk apa ciuman dan ucapan terima kasih tersebut. Setelah sadar barulah saya paham bahwa ia rupanya berterima kasih karena saya tidak pernah memeriksa telpon genggamnya atau pun ingin tahu dengan siapa ia berhubungan dengan BB-nya selama ini. Waks…! :-D

Kami memang baru saja membicarakan ttg seorang kerabat yg harus sering menghapus pesan di BB-nya karena suaminya sering ‘sidak’ ke BB-nya dan marah kalau menemukan ada hal-hal yg tidak berkenan di hatinya. Ia memang tidak bebas berkomunikasi dengan siapa saja dan kapan saja seperti istri saya. Kami jadi kasihan padanya dan sering menjadikan hal tersebut sebagai olok-olok. Kami memang memandang hal yg dilakukan oleh suaminya tersebut berlebihan.
Sebaliknya, saya bahkan tidak pernah bertanya siapa saja teman-teman yg berhubungan dengan istri saya dan urusan apa. Istri saya punya urusan pribadi dan saya juga punya urusan pribadi yg tidak perlu harus dilaporkan satu sama lain. Dan saya memang menjaganya agar tetap demikian.

Tapi tentu saja saya tahu bahwa istri saya punya grup BB dengan teman SD, SMP, maupun bekas teman kerjanya. Tanpa saya minta pun istri saya akan bercerita tentang berbagai pesan dan foto menarik dan konyol yg dikirimkan teman-temannya kepadanya. Kadang-kadang saya menimpalinya tapi sering juga saya cuma senyum dan bergumam tidak jelas. Lha wong saya tidak kenal sama konconya tersebut dan juga tidak niat utk kenalan kalau tidak sengaja dikenalkan sama istri. Sebaliknya saya hanya kadang-kadang saja menceritakan apa yg ada dalam komunitas saya. Biasanya yg lucu-lucu atau konyol-konyol saja agar kami bisa tertawa bareng. Utk soal pekerjaan istri saya sudah tahu betul bahwa saya alergi menceritakannya padanya. Soal pekerjaan is not something to share with. Saya banyak bekerja dengan keluarga dan kalau ada konflik atau perbedaan pendapat dengan mereka maka saya ingin agar itu tetap menjadi office affair dan tidak mau itu merembet menjadi masalah keluarga. Istri saya itu ipar favorit di mata saudara-saudara dan famili saya dan saya ingin tetap demikian. Kita ini paling sulit membedakan mana yg urusan pribadi dan mana yg kantor. Urusan kantor bisa menjadi urusan domestik dan begitu juga sebaliknya. Istri bisa ikut-ikutan berkuasa di kantor suami and in some cases malah bisa lebih berkuasa ketimbang suaminya…! Itu sebabnya ada olok-olok bahwa istri seorang Panglima bisa menjadi “Pangtujuh” karena punya pangkat dan kekuasaan yg lebih tinggi daripada suaminya meski tidak resmi. “Pangtujuh” bisa memveto keputusan Panglima di kantor. Pusing kan…?! Saya tidak ingin istri saya menjadi manajer atau pimpinan tidak resmi dari karyawan atau dosen yg saya pimpin. No trespassing over my working territory!

Seringkali istri saya bersikap inquisitive pada beberapa kasus yg ia dengar dan memancing saya bercerita(ya memang begitulah wanita!) tapi kalau saya diam saja dan pasang tampang bloon maka ia langsung sadar bahwa saya sudah pasang garis yg tidak boleh dilewatinya. Ia pun berhenti utk cari informasi dari saya (dan mungkin cari informasi ke tempat lain).
Tapi itu dulu. Sekarang saya sudah pensiun dan cuma ngurusi organisasi profesi (yang tidak bisa dijadikan bahan utk ngrumpi). Jadi sifat ‘istri yg pingin tahu soal pekerjaan suami’nya langsung buyar karena tidak dapat pasokan stok lagi. :-D Kadang-kadang saja saya mau cerita tentang teman-teman di IGI yang ia kenal.
Kalau soal pribadi seperti pergaulan mah kami sdh TST. Jadi soal pribadi apa yg perlu diketahui oleh masing-masing di antara kami tidak pernah menjadi masalah. Istri saya tidak pernah mencurigai siapa pun yg menghubungi dan saya hubungi dan begitu juga sebaliknya. Kami masing-masing tahu bahwa kami tidak punya affair dengan siapa pun dan tidak ada rahasia yg harus kami sembunyikan satu sama lain. Tapi soal privacy tentu kami jaga masing-masing. Saya tidak akan membuka-buka BB istri saya tanpa ijinnya dan begitu juga sebaliknya. Istri saya tentu tidak ingin dan tidak suka dicurigai dan begitu juga saya. Untungnya bahwa kami saling mempercayai sehingga kasus pemeriksaan history HP tidak pernah terjadi di antara kami. Kami bahkan menganggapnya sebagai perbuatan yg tercela.
Apakah saya tidak pernah tergoda utk mengetahui dengan siapa saja istri saya berkomunikasi dan apa saja yg ia bicarakan? Siapa tahu ada komunikasi yg tidak wajar, umpamanya? Terus terang saja tidak. Saya tahu betul bahwa istri saya sangat mencintai saya sehingga tidak bakalan ada keinginan utk bikin affair dengan siapa pun. Begitu juga saya. Jadi utk apa saling ‘sidak’ telpon genggam…?! Istri saya mungkin masih sedikit punya rasa curiga pada suaminya yg ganteng, gagah, duitnya banyak, dan ramah pada wanita-wanita cantik seperti saya ini.:-D Hehehe…! Ia bahkan dulunya masih cemburu dengan bekas teman-teman spesial saya (semua saya ceritakan padanya agar saya tidak repot-repot menyimpan rahasia) tapi kemudian sadar bahwa itu tidak ada gunanya. Saya berhasil meyakinkannya bahwa she is the only one now dan cemburu tidak ada gunanya.
Jadi meski ia tahu saya masih berkomunikasi dengan bekas teman spesial saya tapi ia tidak pernah bakalan memeriksa BB saya utk cari tahu. Ia tahu bahwa saya sangat menghargai privasi masing-masing dan tentu tidak suka jika privasi tsb dilanggar. Itu sudah menjadi semacam konvensi di antara kami. Kami bahkan tidak memeriksa isi HP anak kami dan memberi kepercayaan pada mereka soal apa yg layak dan tidak utk disimpan disitu. Mereka tahu aturan tak tertulis tersebut dan mereka menjaganya dg kepercayaan yg kami berikan.

Balikpapan, 10 Desember 2011
Salam
Satria Dharma