Hidup yg datar, monoton, dan begitu-begitu saja tentu sangat membosankan. Tidak perduli apakah kita ada di atas, di tengah, atau di bawah. Dinamika hidup itu perlu. Bayangkan detak jantung yg rata begitu saja di monitor kontrol. Kalau penunjuknya sudah datar lurus saja berarti pemiliknya sudah almarhum tentu saja. :-D

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia mengenal seseorang yg kaya raya (karena warisan dr ortunya) tapi hidupnya begitu membosankan. Ia tinggal di rumah besar bak istana dengan beberapa pembantu plus sopir. Tapi sehari-hari kerjanya cuma tidur dan main game. Sesekali ia belanja keperluan hidup di mall dekat rumahnya. Ia sering mengeluh kalau belanja terlalu banyak. Padahal pembantunya kan juga perlu makan ikut dia. Sisa hidupnya ya main game di komputer dan tidur. Sungguh membosankan meski pun hanya mendengarnya. Lha kekayaannya untuk apa ya? Orang seperti ini sebetulnya tidak perlu memiliki banyak harta lha wong hidupnya nyaris vegetatif gitu!

Hidup kita itu sebenarnya didorong oleh gairah kita dalam menjalaninya. Kalau kita sedang tidak punya gairah maka apa pun kesenangan dunia yg ‘gemletak’ di sekitar kita tidak akan ada artinya. Betapa pun cantik dan seksinya istri kita kalau sedang tidak berghoiroh ya akan nampak seperti manekin saja. Jadi jangan heran kalau ada pasangan suami istri yg sehari-hari mengisi kebersamaan mereka dengan bertengkar. Mungkin itu semacam usaha utk menghidupkan kembali ‘ghoiroh’ dalam perkawinan mereka. :-D

Sebetulnya potensi bosan dan kehilangan gairah dalam hidup selalu mengancam kita. Pekerjaan dan cara hidup yg rutin dan mekanis bisa membuat kita bosan. Apalagi kalau kita memang bekerja di bagian yg samasekali tidak membutuhkan kapasitas otak kita utk berpikir. Satpam, umpamanya.

Salah seorang adik saya pernah cerita bahwa satpam di perusahaan asing itu enak karena gajinya besar. Saya langsung bilang, “Kamu mau jadi satpam di situ? Biar saya dibayar tiga kali lipat pun saya tidak sudi.”. Adik saya heran dan saya juga heran. Saya tidak menghina pekerjaan satpam karena setiap pekerjaan itu punya sisi mulia masing-masing. Tapi mana mau saya bekerja pada profesi yang tidak membutuhkan potensi intelektualitas dan kreativitas saya. Mending saya jadi guru di desa yg meski pun gajinya kecil tapi membutuhkan potensi intelektualitas dan kreativitas saya. Itu akan lebih menarik dan bergairah. Berhadapan dengan siswa dengan segala problema dan potensinya jelas akan sangat menantang dan membangkitkan gairah hidup saya. (Sementara itu saya membayangkan diri saya berseragam biru atau safari bekerja membuka dan menutup palang pintu sambil memeriksa bagian bawah mobil siapa tahu ada orang iseng meletakkan bom disitu. Oh no…!). Saya tentu akan heran suherman kalau ada sarjana akuntansi yg memilih bekerja jadi satpam hanya karena gajinya lebih besar.

Jadi guru itu sebenarnya pekerjaan yg sangat menantang. Setiap hari kita bertemu dengan ratusan orang di sekolah dengan problemanya masing-masing. Selalu ada cerita baru dari siswa kita (sedangkan satpam tidak akan pernah menemukan seekor landak di bawah mobil yg diperiksanya). Hari ini si A datang dengan wajah berseri-seri karena baru dibelikan motor oleh ayahnya dan besoknya mungkin wajahnya kusut karena motor disita oleh ayahnya karena ketahuan ngebut. Hari ini si B yang berwajah rembulan bilang cita-citanya mau jadi perawat di luar negeri. Besoknya ia datang dengan senyum yg lebih lebar bilang mau jadi polwan saja. Hari ini siswa tertawa-tawa dengan pelajaran yg kita berikan besoknya mungkin mereka tegang karena banyak tugas dan ulangan. Selalu ada cerita baru bersama siswa. Setiap tahun berdatangan puluhan bahkan ratusan siswa baru dg riwayat dan kisah barunya. Sementara siswa lama akan meneruskan sekolahnya ke dunia baru dan sesekali masih menghubungi kita. Kita menjadi kaya dengan kehidupan-kehidupan baru yg terus bertambah. (Apakah satpam akan menemukan gairah baru ketika ia memeriksa bawah mobil Humvee terbaru. I doubt it)

Meski demikian seringkali kita juga diserang rasa jenuh terutama ketika tuntutan pekerjaan meningkat dan kita terjebak dalam rutinitas. Seorang teman dosen bercerita bhw ia sering ‘blank’ ketika berhadapan dengan mahasiswa jika volume mengajarnya sangat tinggi. Ia bisa kehilangan gairah mengajar pada saat jenuh seperti itu meski ia sangat menyukai pekerjaannya sebagai dosen.

Selingan dalam hidup itu perlu. Ia akan memberi bumbu dalam hidangan kehidupan kita. Ia menghidupkan passion dalam diri kita dalam melakukan tugas sehari-hari. Itu pentingnya rekreasi dalam hidup kita. Itu agar kita bisa berkarya kembali (re-create) setelahnya. Tentu saja kita harus pandai dalam memilih bentuk rekreasi kita agar tidak malah menjadi ‘accident’ atau malah ‘disaster’.

Humor adalah rekreasi harian yg saya pilih utk menggairahkan hidup. Saya bersama istri selalu mencari segi-segi yg lucu dalam kejadian sehari-hari to spice it up. Kami mencari dan saling bercerita ttg lelucon baru. Dan setelah itu kami ketawa bareng-bareng dan mengembangkan cerita tsb supaya lebih lucu. Kami menciptakan tokoh imajinasi utk kami jadikan sebagai bahan olok-olok. Kami beri ia nama ‘Lin’ dan ia asli Madiun. (Haha…! Istri saya orang Madiun dan ia bersedia asalnya saya jadikan bahan olok-olok). Karena Lin, tokoh imajinasi kami, ini asli Madiun maka bahasa Indonesianya kurang lancar. Ia selalu mencampur adukkan bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. Celakanya ia punya bos yg tidak paham bahasa Jawa. Jadi Lin mungkin suatu saat akan lapor pada atasannya bahwa saat ini ‘hujan deras dan angin nggebas’. Setelah itu kami tertawa sendiri membayangkan tokoh imajinasi kami itu menjelaskan pada bosnya apa itu ‘nggebas’. Suatu saat Lin minta ijin pada bosnya utk ‘mengendangi’ teman yg sakit dan bosnya bingung apa maksudnya ‘meng-endang-i’ teman yang sakit itu. Hal-hal seperti itu selalu membuat kami menikmati kebersamaan kami di mana pun.

How do you spice your life up…?!

Surabaya, 7 Desember 2011

Salam
Satria Dharma