Sebuah dialog imajiner antara seorang bernama ‘Muslim’ dan ‘David’ muncul di beberapa milis yg saya ikuti seperti ini.

Muslim : Bagaimana natalmu ?
David : Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?
Muslim : Tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya melarangnya..
David : Tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?
Muslim : Mungkin mereka belum mengetahuinya… David, kau bisa mengucapkan dua kalimat syahadat ?
David : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya… Itu akan mengganggu kepercayaan saya…
Muslim : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? Ayo, ucapkanlah ;)
David : sekarang, saya mengerti.. ;)

Saya tercengang membaca dialog ini. Jelas bahwa si pembuat dialog ingin menyampaikan bhw bagi seorang muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ sama dengan mengucapkan syahadat dalam Islam…! Bagaimana mungkin ia sesembrono itu?

Pengharaman ucapan selamat natal jelas merupakan masalah khilafiah. Ada ulama yg melarang tapi ada ulama lain yg justru menganjurkan. Salah satunya adalah Syeh Qaradhawi. Beliau menganggap mengucapkan selamat merayakan Natal adalah perbuatan muamalah yg baik utk mempererat hubungan baik dg umat Nasrani. Beliau tidak menganggap ini sebagai bagian dari akidah melainkan muamalah yg baik utk dilakukan.

Selain Syeh Qaradhawi, para ulama Eropa juga menganggap ucapan Selamat Merayakan Natal adalah muamalah yg baik utk dilakukan utk menciptakan toleransi antara umat beragama di Eropa.
Di Indonesia Dien Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa ia setiap tahun mengucapkan Selamat Natal kepada sahabat-sahabatnya yg beragama Nasrani. Beliau adalah Sekertaris Umum MUI Pusat. Meski pun MUI pernah mengeluarkan fatwa larangan merayakan Natal bersama tapi MUI tidak melarang ucapan Selamat Natal.
Ustad Quraish Shihab yang ahli tafsir Al-Qur’an itu juga menganggap ucapan selamat natal ini sebagai hal yg mubah. Silakan saja kalau mau mengucapkan.

Tentu saja ada beberapa ulama Islam yg berpendapat bahwa ucapan tersebut haram dengan argumen dan dalil-dalil yg mereka punyai. Tapi menganggap bahwa pengharaman tersebut sebagai ajaran Islam dan sama dengan pengucapan syahadat adalah sangat berlebihan. Ucapan Selamat Merayakan Natal itu hanya setara dengan ucapan Selamat Iedhul Fitri.

Tentu saja si Muslim tokoh imajiner itu berhak utk menganggap ucapan tersebut haram dan bakal mempengaruhi akidahnya. Tapi menganggap muslim lain yg membolehkannya sebagai tidak paham ajaran agama dengan mengatakan ‘mungkin mereka belum mengetahuinya’ sungguh gegabah. Ini sama artinya dengan MENGHAKIMI muslim lainnya sebagai TIDAK PAHAM ajaran agama Islam soal ucapan selamat natal tersebut. Benarkah umat Islam yg mengucapkan ‘selamat natal’ tidak mengetahui bahwa ucapan tersebut sama dengan bersyahadat dalam agama nasrani? Bayangkan betapa sembrononya pernyataan ini…! Syeh Qaradhawi dianggap ‘belum mengetahui’ hal ini…?! Ustad Quraish Shihab ‘belum mengetahui’…?! Dien Syamsudin tidak sadar apa yg ia katakan…?! Lantas apa maksudnya kalimat ‘mungkin mereka belum mengetahuinya’ tersebut…?!

Bagi mereka yg mengharamkan ucapan selamat natal kepada umat Nasrani tersebut sebaiknya melihat bagaimana ulama-ulama besar Al-Azhar di Mesir dan Iran. Mereka tidak hanya memberikan ucapan selamat Natal kepada warga Nasrani di negaranya, tapi juga biasa merayakan Natal di gereja.

Sri Paus pernah mengatakan bahwa orang pertama di dunia yang mengucapkan selamat Natal tiap tahun kepadanya adalah Ayatollah Ruhullah Khomeini. Ulama besar Mesir, Sayyid Muhammad Thantawi, tak hanya membolehkan seorang muslim turut merayakan hari raya Natal tapi juga menghadiri undangan Natal umat Kristen Koptik di gereja-gereja di sana.

Apakah ucapan selamat Natal itu ada dasarnya dalam Islam? Tentu saja ada. Nabi Isa (Yesus) sendiri menyatakan sebagaimana dalam Al-Qur’an 19:22 “Keselamatan atas diriku ketika dilahirkan, ketika meninggal dunia, dan ketika (nanti) dilahirkan kembali.”

Jadi siapa sebenarnya yg ‘mungkin mereka belum mengetahuinya’ tersebut…?!

Jadi silakan tentukan sikap Anda dalam hal ini. Bagi saya ucapan Selamat Merayakan Natal yg saya kirim kepada teman-teman dan umat Nasrani yg saya kenal adalah benar-benar ucapan tulus dari hati saya agar tercipta kedamaian dan perdamaian antara umat beragama. Saya ingin mereka mengetahui dan merasakan bahwa umat Islam sangat toleran pada mereka dan tahu batas antara akidah dan muamalah.

Lion Air, CGK – SUB,
28 Desember 2011

Salam

Satria Dharma

Iklan