Long John. Ilustrasi. google.com

Long John. Ilustrasi. google.com

Tulisan saya ttg rencana kami mengunjungi India mendapat beberapa komentar di milis-milis. Salah satunya adalah ttg cuaca di India. Ternyata India tidak memiliki empat musim seperti Eropa yg saya duga. Meski punya empat musim tapi tidak ada musim semi dan musim gugur (Autumn dan Fall) melainkan Summer, Winter, Moonsoon (atau musim hujan), dan Post Moonsoon (malah ada yang bilang enam musim). Dinginnya Winter di India tidak seperti di Eropa dan hanya malam hari saja. Atas saran Mbak Pangesti akhirnya long john saya keluarkan dari koper. ‘Olaopo nggowo long john?’ Katanya,’Ojo ndhesit’. Saya sampai diketawai habis sama Cak Nanang dan bilang saya ini ‘ndesit berlagak kuthit’. Terbayang di benak saya dia ketawa terpingkal-pingkal saking senengnya menemukan kesalahan saya mengira India bermusim empat seperti di Eropa tersebut. Kira-kira sama kalau kita mengira mammoth itu sejenis anjing. Alangkah gembira hatinya kira-kira membayangkan saya salah kostum masuk India! Mungkin ia akan membayangkan saya seperti Benny dan Mice yg masuk Kuta pakai dasi.)

Jadi meski pun di India ada musim dingin tapi tidak seperti di negara Eropa yg bersalju. Tak ada salju di India. Bagi yg pernah berhaji atau umrah pada musim tertentu di Saudi Arabia maka cuaca juga bisa sangat dingin. Jadi ya kira-kira seperti itulah.

Begitu membaca ‘moonsoon’ saya lantas sadar bahwa sebenarnya saya seringkali membaca ttg musim ini di buku-buku. ‘Moonsoon’ bukanlah istilah yg asing bagi saya. Tapi toh saya bisa terlewat memahami di mana musim ‘moonsoon’ itu berada dan mengira bahwa India memiliki empat musim seperti di Kanada. Sebelum ini saya bahkan mengira India itu seperti di Indonesia yg beriklim tropis dan baru sadar bahwa letak India di peta itu di atas Katulistiwa. Tentu saja ini kesalahan guru saya. Somebody must be blamed for this misunderstanding. Hehehe…! Jadi saya menyalahkan guru Geografi saya yg tidak bisa memberi saya pemahaman yang benar tentang letak geografis negara-negara dan iklimnya dengan baik. :-D . Lha wong kalau ditanya Indonesia punya berapa musim saya selalu menjawab,”Banyak, Pak De. Ada musim mangga, musim rambutan Binje, musim layangan, bal-balan, tawuran antar kampung, musim haji, cerai massal, dll. Pokoknya soal musim Indonesia itu topnya.” Orang Jawa punya musim yg unik yaitu musim ‘rendang (rendeng)’ dan ‘ketiga (ketigo)’. Jadi kalau Madigondo diminta menerjemahkan kalimat ‘Yen ketigo udane deres lan angine nggebes’ akan menerjemahkannya menjadi ‘Pada musim Ketiga hujannya deras dan anginnya nggebas.’

Jadi begitu mendengar informasi bahwa kalau siang cuaca tidak terlalu dingin maka koper kami bongkar kembali. Jaket tebal utk musim dingin yg baru saya beli tidak jadi saya bawa. Menuh-menuhin koper aja. Cukup sweater saja. (Mohon kalau ada yg tertarik utk membeli jaket tebal gres saya tersebut segera menghubungi saya. Siapa cepat dia dapat. Warna biru dongker dengan empat saku. Waktu saya pakai rasanya gagah sekali. Serasa jadi Tom Cruise di film terbarunya ‘Ghost Protocol’. Apalagi kalau saya padu padankan dengan topi kerpus berlabel Nike. Wah….TOP BGT…! Saya sampai pangling dengan diri saya sendiri. Seolah perpaduan antara Roy Marthen dengan Kartolo. Wistalah…! Apik…apik! Saya beri diskon khusus. Kalau diibaratkan mobil spedometernya masih 0 km lho! Bisa pakai KPJ (Kredit Pemilikan Jaket) kalau mau.)

Selain soal cuaca saya juga diingatkan teman utk berhati-hati sama penjual India. Mereka itu ahli merayu pembeli, dan juga bisa licik. Lha wong ular kobra saja bisa dirayu utk menari sama mereka kok. Mereka bisa menguber kita utk tawar menawar sampai ke lantai bawah padahal tokonya di lantai dua. Pembeli lugu seperti saya bisa diuntal hidup-hidup. Tapi saya tidak kuatir soal ini. Istri saya itu jagonya tawar menawar. Menawar itu semacam hobi yg dikembangkannya sampai pada tahap master. Saya bahkan sering mengoloknya sebagai ‘Si Raja Tega’ kalau dia sedang menerapkan ilmu menawar tingkat tingginya pada penjual yg sedang sepi pembeli. Jadi ini nantinya tentu akan sangat menarik karena akan menjadi semacam pertarungan atau duel meet antar master. Saya membayangkan jurus demi jurus akan dilayangkan oleh penjual utk menghancurkan pertahanan istri saya dan istri saya akan mengeluarkan semua ilmu menawarnya sambil menjawab, “Nehi…nehi…!”. Sungguh indah membayangkannya…!

Bicara soal pendidikan, India itu paradoksal. Di satu pihak kita bisa melihat bahwa mereka memang hebat dan penduduknya punya budaya belajar yg tinggi. Sekolah-sekolahnya maju karena guru-gurunya juga memiliki kualifikasi yg tinggi. Untuk bisa mengajar mereka harus mengikuti ujian sertifikasi setiap lima tahun sekali. Keinginan belajar masyarakat India sangat kuat karena hidup di India sebenarnya susah dan penuh persaingan. Kalau tidak pintar, ya jadi gelandangan. Demikian katanya. Jadi sekolah adalah sarana untuk menaikkan status sosial dan ekonomi masyarakat. Yang hebat lagi adalah budaya bacanya yang katanya nggak kalah sama org-org Barat. Mereka pandai berargumen, kritis dan suka berdebat mempertahankan opini (Apa saya ketitisan darah India ya…?!). Mungkin kebalikan dengan orang Jawa yg suka mengalah dan tidak mau berdebat.

Tapi di sisi lain kita bisa melihat bahwa India masih menghadapi masalah pendidikan yang besar. Karena India adalah negara raksasa dengan jumlah penduduk lebih dari 1 milyar maka permasalahan mereka juga luar biasa. Dalam pendidikan India menghadapi masalah yang sangat kompleks. Berdasarkan statistik jumlah penduduk yang buta huruf di India masih ratusan juta orang. World Bank menemukan fakta bahwa hampir separoh jumlah penduduk india tidak mengikuti pendidikan di sekolah menengah. Kemampuan membaca rata-rata siswa India juga rendah. Berbeda dengan di india, masalah gender adalah masalah besar di India. Anak perempuan dianggap kurang berharga ketimbang anak laki-laki. Dan ini mempengaruhi tingkat pendidikan anak perempuan di India. Masih sangat banyak anak perempuan yang tidak bersekolah dan otomatis jadi buta huruf. Kata wikipedia, Out of the 24 states in India, 6 of them have female literacy rates of below 60 percent. The rural state Rajasthan has a female literacy rate of less than 12 percent.[63]. Sungguh mengerikan…!

Soal fasilitas sekolah India juga punya masalah besar. Pada sebuah studi pada 188 sekolah SD negeri ternyata 59%-nya tidak menyediakan air minum dan 89%-nya tidak punya WC dan hanya 3,5% sekolah yang membedakan WC laki-laki dan perempuan (tapi kalau mau dibandingkan dengan Indonesia tentu saja kita bakal kelabakan kalau ternyata ditemukan bahwa TAK SATU PUN sekolah SD negeri di kota-kota besar indonesia yang menyediakan air minum bagi siswanya. Urusan air minum siswa nampaknya TIDAK PERNAH menjadi masalah bagi pemerintah Indonesia).
Ada fakta lain yang menarik di india. Diperkirakan bawah pada tahun 2030 jumlah penduduk India akan dapat mengalahkan China yang sekarang jumlah penduduknya sekitar 1,3 milyar. Mengapa demikian? Ternyata ini berhubungan dengan politik negara dan masalah pendidikan. Di China ada aturan yang sangat ketat tentang jumlah anak. Setiap pasangan hanya boleh punya 1 anak. Jadi di China setiap anak itu tidak punya sepupu karena bapak dan emaknya adalah anak tunggal juga. Dengan cara ini China mampu mengerem ledakan penduduknya.

Bagaimana dengan India? India tidak memiliki kebijakan seperti itu. Lagipula katanya ternyata sekitar 50% gadis India menikah sebelum usianya mencapai 18 tahun…! Karena kebanyakan dari mereka tidak bersekolah maka oleh orang tuanya mereka segera dikawinkan saja. Jadi bayangkan betapa produktifnya wanita India dalam menghasilkan anak sebelum usia menopausenya. Hal ini tentu berbeda dengan keluarga yang berpendidikan yang cenderung untuk menunda usia menikah anak-anak gadisnya.

Apakah gadis India cantik-cantik? Aha…! Saya tahu bahwa sampeyan pasti ingin tahu yang satu ini. Jawabnya,”Ya! Gadis India cantik-cantik”. Lha saya kok tahu wong belum sampai di India…?! Gampang Le…! Takono Mbah Gugel. Gadis-gadis India itu telah memenangkan 5 gelar Miss World dan 2 kali Miss Universe…! Salah seorang gadis India yang memenangkan Miss Asia dan sekaligus Miss World yang bernama Aishwarya Rai begitu cantiknya sampai-sampai Julia Roberts, artis Amerika yang dianggap jan uayu tenan itu, mengakui bahwa “Aishwarya Rai is the most beautiful woman in the world”. Grogi dia berhadapan dengan si Aish ini..! Padahal Miss Indonesia Nadine Alexandra Dewi Ames yang katanya cantik uleng-ulengan itu saja gagal masuk 16 Besar Miss Universe 2011 lho…! Lha ndahniyo cantiknya Aishwarya Rai yang katanya sekarang jadi artis film India itu…!

Bicara soal teknologi Informasi…

Karena India adalah raksasa di bidang IT maka India saat ini memiliki 112 juta pengguna internet, ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat. (Indonesia sendiri memiliki pengguna internet sekitar 40 juta orang dan merupakan pengguna terbesar ke lima di Asia).

The Internet and Mobile Association of India (IMAI) memperkirakan bahwa 5 sampai 7 juta pengguna baru selalu bertambah setiap bulan dan dengan pertumbuhan seperti ini, India akan memiliki lebih banyak pengguna daripada Amerika Serikat dua tahun ke depan. Bayangkan pertumbuhan ekonominya…! Tapi hal ini juga akan membawa dampak negatif lain yaitu semakin tingginya pengguna yang berpotensi menjadi penyumbang e-mail spam. Saat ini saja India sudah di peringkat pertama utk masalah spammer (dan Indonesia di peringkat kedua…!)

Pejabat pemerintah tidak mungkin bertindak tegas karena India belum memiliki undang-undang antispam. Hal serupa terjadi di Indonesia, seperti yang dikutip dari DailySocial, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU No 11 Tahun 2008/UU ITE) tidak secara eksplisit mengemukakan pasal yang berkaitan dengan e-mail spam.

Di bidang pendidikan teknologi informasi India membut langkah besar untuk memajukan dunia pendidikannya. India mengatakan konektivitas ke seluruh mahasiswa dan universitas merupakan kunci untuk mencapai tujuan pendidikan negara itu. Untuk itu India baru-baru ini mengenalkan prototipe laptop berharga 35 dolar sebagai bagian dari program menyediakan konektivitas siswa sekolah dengan gurunya di negara itu. Kapil Sibal, Menteri Pengembangan Sumber Daya Manusia India, menyatakan itu sebagai komputasi dan perangkat akses berbiaya murah. Dikatakannya gadget yang menggunakan layar sentuh itu dilengkapi dengan browser internet, PDF Reader dan juga fasilitas untuk melakukan video conference. Laptop tersebut akan berjalan dengan menggunakan sistem operasi Linux. Nantinya pada tahun 2011, harga gadget tersebut diharapkan dapat turun menjadi sekitar USD20 dan USD10. Gadget yang dikembangkan oleh peneliti di Indian Institute of Technology (IIT) dan the Indian Institute of Science (IIS) ini direncanakan akan dipakai di 18 ribu sekolah tinggi dan 400 universitas. Laptop murah yang diberi nama Sakshat itu merupakan misi nasional pemerintah India yang didanai sekitar 46 Miliar Rupee. Sejumlah penerbit buku juga setuju dengan program ini. Menurut info mereka akan menyumbangkan sebagian teks buku untuk dimasukkan kedalam laptop. Jadi ini memang kolaborasi antara beberapa pihak untuk memajukan mutu pendidikan India dengan lompatan jauh ke depan.

Bagamana dengan Indonesia…?! Sampai hari ini belum jelas bagaimana terobosan pemerintah Indonesia dalam menyiasati pembelajaran teknologi informasi bagi siswa Indonesia khususnya pada penyediaan perangkat semacam ini.

Saya sendiri punya masalah dalam hal komunikasi selama di India nanti, yaitu bagaimana menyiasati agar tagihan BB dan telpon saya tidak bengkak (dan menjebol tabungan saya). Selama ini saya pakai kartu Hallo yg pasca bayar dan setiap kali ke LN tagihan telpon saya selalu tujuh dijit. Ambleg…! Saya belum sempat ke Telkomsel utk mendiskusikannya.
Tapi dari seorang teman saya disarankan untuk membeli nomor di India saja selama di sana dan mematikan nomor Telkomsel saya. Tapi saya kuatir begitu saya pencet yang keluar adalah गलत नंबर
Lha saya bisa repot nanti…!

Wis ya…! Saya tinggal dulu ke India. Jangan berkelahi sepeninggal saya. Kalau dapat rejeki ya dibagi-bagi yang rata. Sampai ketemu di India….! Acha…! Acha…!

Denpasar, 8 Januari 2011

Salam
Satria Dharma