Kami berangkat ke India dari bandara Ngurah Rai, Denpasar, dengan dipimpin oleh Pak Dadang Hermawan, bos Stikom Bali. Seperti saya, Pak Dadang juga membawa istrinya. Marlowe juga berangkat bersama istrinya. Ditambah dengan Pak Bagus Dharmadyaksa dan Pak Yudi kami jadinya berdelapan. Denpasar hujan deras sejak pagi dan banjir menggenangi jalan-jalan ke bandara. Semua kendaraan berjalan pelan-pelan seolah merangkak. Bandara Ngurah Rai sendiri padat dan macet karena sedang ada pekerjaan perluasan bandara yg baru akan selesai pada tahun 2013. Kalau lihat maketnya bandara ini akan menjadi bandara yg sangat besar kalau jadi nanti. Tapi sampai selesai nanti suasana bandara ini akan jadi semrawut dan macet. Kami sendiri harus berputar-putar utk mencapai pintu keberangkatan internasional di bawah guyuran air hujan yg turun sejak pagi.

Hari ini adalah hari terakhir liburan sekolah di beberapa negara Asia sehingga penerbangan keluar Bali sangat padat. Semua meja counter check-in yg jumlahnya belasan penuh antrian. Banyak penumpang keluarga yg membawa anak-anak dan mereka nampak letih tapi gembira telah menghabiskan liburan mereka di Bali. Beberapa anak dengan bangga memamerkan rambut mereka yg dikepang dan tato temporer di lengan mereka.

Meski ini penerbangan siang tapi pesawat Malaysian Airlines yg kami tumpangi berangkat tepat waktu. Pukul 12:50 pesawat berjenis Airbus yg penuh dengan penumpang ke Kuala Lumpur ini bergerak mundur dan kemudian mengambil posisi utk antri terbang. Kami memang akan transit sebentar di KL dan akan naik pesawat Malaysian Airlines lain yg menuju ke New Delhi (yang biasanya hanya disebut Delhi saja).

Penerbangan Denpasar – KL memakan waktu kira-kira 2,5 jam dan kami mendarat di KLIA pada pukul 15:50. Kami hanya transit sebentar tapi cukup memberi saya waktu utk sholat jamak di sudut ruang tunggu Gate 17 yg bersih dan indah itu. Saya sempatkan juga utk membuka wifi yg ternyata tersedia di seluruh kompleks bandara KLIA. Koneksi mobile saya matikan agar saya tidak kena roaming selama dalam perjalanan. Saya sempatkan juga kirim pesan ke keluarga agar tidak menelpon kami selama perjalanan ini dan kalau ada perlu atau hal yg penting cukup disampaikan via email saja.

Pesawat kami dari KL ke Delhi bergerak mundur pada pukul 16:50 waktu KL dan kemudian masuk ke runway. Tepat waktu! Seandainya saja semua penerbangan domestik kita bisa tepat waktu spt Malaysian Airlines ini. Kalau soal hidangan tentu saja kami lebih memilih Garuda. Hanya ada dua pilihan menu yaitu Chicken atau Veggy. Tidak ada Beef karena MAS tentu ingin menghormati penumpang warga India yg menganggap sapi sebagai binatang suci. Menawari mereka menu daging sapi tentulah akan menyinggung perasaan mereka. Banyak warga India yg vegetarian sehingga disediakan menu Veggy bagi mereka. Saking banyaknya sehingga ada yg mengira orang India itu vegetarian semua. Karena jengkel maka dijawab oleh mereka,” Ya! Bahkan harimau kami juga vegetarian kok!”.

Menu Chicken Curry mereka juga terlalu didominasi oleh kapulaga sehingga berbeda dg Kari Ayam Indonesia. Soal makanan di pesawat tentu saja kami lebih menjagokan Garuda. Malaysian Airlines pakai sendok dan garpu plastik sedangkan Garuda pakai sendok garpu logam. Tentu lain kesannya. Kalau pakai sendok garpu plastik itu rasanya seperti makan di bis antar kota saja. Pramugari MAS juga sama ‘senior’nya dg pramugari Garuda. Ada satu pramugarinya gadis India yg masih muda dan saya lirik name-tagnya tertulis : Rashpreet. Sebuah nama yg mungkin asing bagi kita semua. Ketika di Ngurah Rai saya melihat banyak pramugari dari berbagai maskapai asing. Entah belum terbiasa tapi saya merasa pramugari maskapai domestik kita nampak lebih menarik dan lebih cantik dibandingkan mereka.

Kalau saya lihat di monitor perjalanan KL ke Delhi itu arahnya menuju Barat Daya melintasi Laut Andaman. Jaraknya hampir 5.000 km dan pesawat kami melaju dengan kecepatan lebih dari 900 km/jam. Diperkirakan pesawat akan mendarat pada pukul 19:20 waktu Delhi. Karena ada perbedaan waktu dua setengah jam antara KL dan Delhi di mana KL lebih maju waktunya maka sebenarnya perjalanan KL ke Delhi memakan waktu sekitar kurang dari lima jam. Pesawat Malaysian Air yg kami naiki kali ini berjenis Boeing yg lebih lebar dengan kapasitas sembilan penumpang dalam satu baris. Masing-masing dua penumpang di sisi kiri dan kanan dan lima penumpang di tengah. Posisi saya dan istri berada di tengah sehingga kurang bebas utk bergerak. Saya tidak bisa tidur sepanjang perjalanan kali ini. Mungkin karena tadi dari DPS ke KL saya sempat tidur selama satu jam sebelum dibangunkan utk maka. Supaya tidak bosan saya memilih hiburan yg disediakan di pesawat. Ada layar video berukuran 8 inchi dengan pilihan film atau musik di layar persis di depan masing-masing kursi. Ketika saya buka ternyata ada film ‘Real Steel’, film tentang adu robot dengan bintangnya Hugh Jackman, pemeran Wolverine dalam X Men. Kami sudah menonton film tsb di Balikpapan. Tapi drpd menganggur dan tidak bisa tidur saya menontonnya kembali. Sehabis filmnya saya kemudian memilih lagu-lagu sambil menuliskan catatan perjalanan ini. Tak ada lagu keroncong atau ndangdut. Jadi saya pilih lagu-lagu yg biasa didengarkan oleh anak-anak saya. No problem. I can still enjoy it.

Pukul 18:25 waktu Delhi… Satu jam lagi kami akan sampai. Istri saya sudah mengenakan sweater tebalnya sejak naik pesawat utk persiapan. Ternyata suhu udara di pesawat tidak terlalu dingin meski mereka membagikan selimut. Seperti apa kiranya bandara New Delhi itu? Saya bertanya-tanya.

Pesawat mendarat di Bandara Indira Ghandi New Delhi pada pukul 19:30 dengan sangat mulus. Cukup mengherankan mengingat besarnya tubuh pesawat.

Cuaca yg dingin langsung menerpa ketika kami masuk ke belalai gajah utk menuju ke bandara. Berdasarkan info suhu New Delhi malam ini adalah sekitar 13 derajat Celsius.

Pengalaman yg tidak menyenangkan justru kami terima ketika mengurus Visa On Arrival. Petugas yg mengurus VOA sungguh lelet dan kami butuh waktu hampir 2 jam hanya utk mengurus VOA! Padahal hanya kami yg diurusnya. India yg terkenal sebagai pengekspor 90% software komputer dunia ternyata tidak menggunakan komputer dalam mengurus VOA dan mencatat dokumen kami secara manual satu persatu…! Saya sungguh heran dengan cara kerja mereka yg benar-benar tidak efisien tersebut. Artinya satu orang butuh lebih dari 10 menit utk pencatatan saja. Seandainya itu terjadi di Indonesia saya pasti akan menulis surat protes kepada kantor Imigrasinya. Rasanya pingin saya pisuhi petugasnya saking jengkelnya melihat betapa leletnya mereka bekerja.

Saya tidak mengerti mengapa para petugas Imigrasi India tidak paham pentingnya efisiensi dan kecepatan dalam menghandel urusan para pelancong yg sudah kelelahan karena perjalanan panjang. Pelancong yg kelelahan membutuhkan pelayanan yg cepat, baik, dan menyenangkan agar mendapatkan kesan yg baik dari negara ini. Dengan demikian mereka akan mempromosikan negara ini sebagai tujuan wisata pada teman-teman mereka. Jelas sekali bahwa petugas imigrasi New Delhi tidak paham itu. Pantas saja kalau hanya segelintir wisatawan yg berkunjung ke India. Negara ini masih harus berjuang keras utk mempromosikan negaranya sebagai tujuan wisata.

Tak lama kami kemudian kami dijemput oleh istri Pak Son Kuswadi, Atase Pendidikan Indonesia di India. Pak Son sendiri masih ada acara dg Pak Dubes malam itu. Kami sangat terkesan bahwa Pak Son mengirim istri dan stafnya sendiri utk menjemput kami. Istri dan stafnya bahkan masuk ke tempat kami mengurus VOA. Mungkin karena mereka menggunakan fasilitas sebagai staf kedutaan maka mereka bisa masuk sampai ke dalam. Kami dijemput oleh dua mobil jenis van yang meluncur menembus kota New Delhi yg berkabut.

New Delhi, 8 Januari 2012
Salam
Satria Dharma