MENDARAT DI DELHI

Begitu keluar dari bandara Indira Gandhi, New Delhi, kami langsung diantar menuju Hilton Hotel di mana kami akan menginap selama di Delhi. Hilton Hotel terletak di Janakpuri District Centre Complex di pinggir kota dan berjarak sekitar 30 km dari bandara. Meski cuaca berkabut tapi kami bisa melihat suasana kota yg kami lewati. Delhi jelas bukan sebuah kota kosmopolitan seperti yg kita bayangkan dari sebuah ibukota negara maju. Delhi adalah sebuah kota besar dan padat tapi masih baru mulai menggeliat. Bangunan-bangunan tua, kotor dan kumuh berserakan seolah berdiri tanpa perencanaan dan tanpa estetika. Kesan langsung yg kami dapatkan adalah Delhi adalah sebuah kota besar yg tua, kotor, kumuh dan tertinggal. Seorang teman berkomentar,: “Kok kayak nggak di luar negeri ya…?! Ini sih kayak di Lumajang.” Saya tertawa ngakak mendengar komentarnya. New Delhi is a metropolitan to be. New Delhi, seperti juga India, adalah raksasa besar yg baru bangun dari tidurnya sehingga memang belum selesai menata kotanya. Tapi lima tahun terakhir ini terjadi percepatan pembangunan yg sangat mengesankan di India. Tentu tidak selayaknya jika kita membandingkannya dengan kota negara lain yg sudah lama maju seperti Hongkong, Beijing, Perth, Singapore, Kuala Lumpur atau bahkan dengan Jakarta. Jakarta dengan segala kekumuhan yg disimpannya masih jauh lebih kosmopolit ketimbang New Delhi. Kalau mau melihat kota yg kosmopolit pergilah ke Mumbai, kata mereka.

Persis seperti kata Bu Pangesti, membunyikan klakson adalah kebiasaan para pengendara motor dan mobil di jalanan. Biasanya kita hanya membunyikan klakson kalau marah tapi di sini adalah hal biasa. Rupanya mereka punya prinsip ‘Horn, please!’ yang bahkan tertulis di belakang bak truk yg lewat sehingga membunyikan klakson adalah semacam sapaan. Tapi bagi kami yg baru datang teriakan bunyi klakson yg sahut menyahut terasa seperti orang yang saling melontarkan kemarahan satu sama lain. Untungnya saya berasal dari Surabaya yg warganya juga temperamental dan terbiasa mendengar ekspresi seperti ini sehingga tidak terlalu terganggu.

Sebelum masuk ke hotel kami diajak makan ke restoo KFC yg berada satu lingkungan dg Hilton Hotel. Resto KFC tersebut berada dalam kompleks pertokoan Janak Place Shopping Centre dan utk memasukinya kami diperiksa satu persatu seperti memasuki bandara. Meski sebenarnya KFC adalah resto waralaba internasional tapi nampaknya KFC yg kami masuki agak di bawah standar jika kita bandingkan dengan yg ada di tanah air. Rasanya seperti masuk KFC KW2 laiknya. Menunya juga berasa lokal. Nasi mereka bukan nasi putih tapi nasi kuning seperti nasi briyani. Katanya nasi mereka ditanak dengan cara berbeda dari kita dengan tujuan membuang glukosanya. Dengan demikian nasi itu aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. Tapi tentu saja rasanya jadi hambar dan tidak pulen spt nasi kita. Meski pun sama-sama suka makan nasi nampaknya soal selera kita punya perbedaan dengan mereka. Nasi mereka terasa apek dan kata Pak Son bukan berarti beras mereka berkualitas buruk tapi mereka memang suka beras yg berbau agak apek. Mereka memiliki beras yg berkualitas tinggi yang justru disebut Korean Rice karena disukai oleh orang Korea. Harga beras di India lebih murah sehingga diekspor ke mana-mana, termasuk ke Indonesia. Tapi kita mengimpornya lewat negara lain seperti Vietnam dan Thailand sehingga menjadi lebih mahal. Seandainya kita bisa mengimpor langsung dari India maka tentu harganya lebih murah. Dan itulah yang sedang dijajaki oleh pihak Kedutaan Besar Indonesia di India.

Menu Twister yg kami pesan ukurannya hampir dua kali lebih besar drpd ukuran biasanya di Indonesia. Rasanya juga sedikit berbeda. Anehnya, meski cuaca sangat dingin tapi mereka tidak menyediakan hot drinks. Jadi kami tetap minum soft drink dingin di cuaca yg 13 derajat Celsius itu.

Hotel Hilton tempat kami menginap adalah hotel bintang lima dengan fasilitas yg lengkap dan sama dg yg kita dapatkan di Indonesia. Minimal ada standard yg sama dg di negara kita. Meski demikian tarifnya lebih tinggi dibandingkan dg di Jakarta. Tarif kamar kami semalam adalah sekitar Rs 10.000 atau sekitar 1,7 jt per malam. (Gile…! Tahu gitu aku minta mentahannya aja trus tidur di kantornya Pak Son. Lumayan utk beli oleh-oleh kain Sari)

Suhu kamar disetel 22 derajat C tapi selimut yg disedikan terasa sungguh hangat. Saya mencari petunjuk arah kiblat tapi tidak ketemu. Akhirnya saya putuskan utk mengira-ngiranya saja. Begitu selesai sholat jamak Maghrib dan Isyak saya langsung masuk ke dalam selimut dan tidur mlungker sampai Subuh.

NAMASTE DELHI…!

Saya bangun sebelum jam 5 pagi dan tidak bisa tidur lagi. Rupanya jam biologis tubuh saya tetap bekerja mengikuti jam biologis di tanah air. Kalau pakai waktu di Balikpapan itu memang berarti sudah jam setengah delapan pagi dan saya memang tidak mungkin masih leyeh-leyeh di kasur pada jam segitu. Wayahe kerjo rek!

Pukul 7 Delhi masih gelap berkabut dan kota belum bangun. Hanya ada satu dua kendaraan yg lewat (dan tetap membunyikan klakson!). Saya bertanya-tanya dalam hati jam berapa mereka mulai bekerja dan baru paham setelah diberitahu oleh Pak Son bahwa kami bangun terlalu pagi. Subuh masuk pada jam 05:52 pagi ini (dan itu berarti saya sholat Subuh terlalu awal tadi). Dari waiter restoran kami diberitahu bahwa pada musim dingin seperti ini perkantoran dan sekolah dimulai pada pukul 9.

Cuaca di musim dingin di Delhi bisa mencapai 4 derajat Celsius dan cuaca benar-benar dingin begitu kami keluar dr hotel. Rasanya seperti ditampar dengan seember air es. Meski demikian ternyata ada 3 juta penduduk yang tidak punya rumah dan terpaksa tidur di trotoar jalan dalam gubug-gubug terpal…! Saya melihat gubug-gubug ini berjajar di trotoar-trotoar jalanan yg kami lewati. Sebuah pemandangan yg mengiris hati. Dalam hati saya berdoa untuk rakyat India. Angka 3 juta itu saya peroleh dari koran The Times of India yg diantar ke kamar (tapi 3 juta orang di antara 1,1 milyar berarti kurang dari 0,3% populasi penduduk India). Jika masalah tempat tinggal yg merupakan kebutuhan dasar hidup saja belum bisa diperoleh dan masih merupakan masalah yg akut bayangkan masalah-masalah sekunder lainnya seperti kebersihan, ketertiban, disiplin, keindahan, estetika, dll. Di mana-mana kotoran berserakan dan seolah tak ada petugas kebersihan yg mengurusi masalah kebersihan ini. Sopir bajay dengan enaknya berhenti dan kencing di pinggir jalan di tengah keramaian lalu lintas. Kencing di sembarang tempat rupanya merupakan kebiasaan bagi penduduk Delhi dan bisa kita temukan sepanjang perjalanan kami. Katanya penduduk Delhi bersaing dengan anjing utk ‘menguasai’ teritori. Anjing biasa kencing di sebuah area utk menandai teritorinya dan penduduk Delhi tidak mau teritorinya dikuasai oleh mereka. :-) Bukan hanya anjing yang berkeliaran tapi babi dan sapi juga ikut roaming freely seperti Flexi. Sapi dengan santainya menyeberang jalanan tanpa ada pengawalan dan para pengendara yang paling ugal-ugalan pun mesti menghormatinya dengan memberi mereka jalan lewat. Katanya dulu sebelum merdeka umat Islam masih bebas makan daging sapi. Tapi begitu India merdeka mereka mengharamkan sapi disembelih dan dimakan dagingnya. Jadi jangan coba-coba cari menu Beef di sini. Sapi adalah binatang suci (dan lebih dihargai ketimbang manusia).

Toilet-toilet berbau pesing karena tidak disiram, bahkan di kantor institusi pemerintah seperti National Council Research and Training (NCRT) yang kami kunjungi. Padahal ada belasan professor doktor yg bekerja di sana dan mestinya juga menggunakan toilet yg sama. Tapi toh mereka belum mampu menyelesaikan masalah sepele seperti toilet berbau pesing tersebut. (Or is it really a problem to them…?!) Sekarang saya baru sadar bahwa jika untuk kebutuhan dasar saja India masih kesulitan untuk memenuhinya maka masalah inefisiensi kerja seperti yg ditunjukkan petugas imigrasi bandara adalah masalah yg masih jauh utk bisa diselesaikan. I pray for India.

Pagi ini agenda kami adalah berkunjung ke NCRT yg merupakan lembaga independen yg mengurusi standarisasi mutu pendidikan. Sebelumya kami mengunjungi kantor KBRI yg terletak di komplek kedutaan di tengah kota. Rupanya semua kantor kedutaan berada di satu area besar dan KBRI sendiri menempati area seluas 2,5 ha. Sebetulnya dulu Indonesia diberi lahan seluas 5 ha di jaman Sukarno karena Jawaharlal Nehru Perdana Mentri pertama India sangat dekat dan akrab dg Presiden Sukarno. Tapi ketika terjadi gejolak politik dan Indonesia berpihak pada Pakistan (yang merupakan negara Islam) maka ‘jatah’ tanah Indonesia dipotong separoh! Sekarang kompleks kedutaan Malaysia lebih luas daripada Indonesia. Sekedar informasi, meski pun umat Islam India memisahkan diri dari India dan mendirikan negara sendiri, Pakistan, tapi umat Islam di India tetap lebih banyak daripada di Pakistan. Bahkan ada rumor bahwa jumlah umat Islam di India sebetulnya lebih besar daripada statistik resmi. Statistik resmi sekitar 13% tapi ada yg bilang sebetulnya sdh mencapai 20%. Jika itu betul maka sebenarnya India adalah negara muslim terbesar di dunia dan bukan Indonesia!

INDIA, THE AWAKENING GIANT

Dari Pak Son kami mendapat banyak informasi ttg India yg menarik. Menurut Pak Son India adalah raksasa ekonomi dunia yg baru bangun dan saat ini pertumbuhan ekonominya bertahan pada angka 8%, lebih tinggi drpd Indonesia. Negara mana pun pasti berkepentingan utk bisa berhubungan dg negara besar yg menjadi raksasa ekonomi dunia. Jadi jika Indonesia mampu menjalin kerjasama ekonomi langsung dg raksana ekonomi dunia maka jelas Indonesia akan diuntungkan. Banyak sekali potensi bisnis yg bisa dimanfaatkan Indonesia dan hubungan baik harus dimulai sejak awal. India itu bak OKB yg akan semakin kaya kelak. Jika kita telah bersahabat sejak awal tentulah hubungan persahabatan tsb lebih erat ketimbang kita mendekatinya ketika India sudah benar-benar kaya dan menjaga jarak memilih-milih teman.

Di bidang pendidikan, sains dan teknologi India jelas jauh lebih hebat ketimbang kita. Rating perti mereka lebih tinggi ketimbang kita. Mereka bahkan pernah memenangkan nobel di bidang sains. Sebuah perguruan tinggi yg dikunjungi oleh rektor ITB baru-baru ini membuat malu pak rektor karena ternyata dosen-dosen mereka mampu meloloskan international paper jauh lebih banyak drpd ITB yg merupakan perti teknik terbaik Indonesia. Dosen mereka mampu membuat 3 – 4 makalah ilmiah internasional setahun sedangkan dosen ITB sebaliknya hanya rata-rata satu kali dalam 3-4 tahun! Lepas dari kemampuan bhs Inggris mereka, budaya dan kinerja akademik mereka di bidang keilmuan memang sudah kelas dunia. Jumlah paten yg dihasilkan oleh satu perti tersebut bahkan lebih besar ketimbang semua paten yg dihasilkan oleh perti se Indonesia! Semua perti mereka kelas dunia tapi kampus dan sarpras mereka sangat sederhana. Tak ada kampus yg menojolkan kesan mewah dan bahkan kantor Rektor University of Bangalore yg memiliki sekitar 300.000 mahasiswa sangat sederhana dan bahkan minim utk ukuran STIKOM Bali sekali pun. Meski demikian mereka memiliki mentalitas mandiri yg luar biasa. India Institute of Management (IIM) yg merupakan PTN tidak lagi meminta subsidi dari pemerintah karena sudah bisa mandiri secara finansial. Ini tentu berbeda dg PTN kita yg justru berupaya utk mendapatkan anggaran dari pemerintah sebanyak-banyaknya. Tidak pernah terlintas. dalam benak PTN kita utk mandiri meski pun mengenakan biaya pendidikan yg jauh lebih tinggi kepada mahasiswanya ketimbang perti di India. Lantas ke mana larinya dana pendidikan tersebut ya? Kok mutu pendidikan kita justru kalah jauh dengan India? Mereka memang punya prinsip utk menyelenggarakan pendidikan dengan ‘highest quality with cheapest price’ dan menghasilkan lulusan yg memiliki kemampuan akademik yg tinggi tapi tetap sederhana sementara kita justru ‘high price with whatever quality’. NCERT sendiri membuat buku-buku pelajaran, supplementary readers, pegangan guru dan dijual dengan sangat murah. Buku-buku mereka paling tinggi harganya hanya Rs 30 atau hanya sekitar 5 ribu rupiah pereksemplar (dg kurs Rp. 176,-/ satu Rupee). Bandingkan dg harga buku-buku kita yg bikin siswa miskin tak mampu membelinya. Kita memang perlu belajar dari India dalam hal ini.

MEMBORONG SARI

Setelah berkunjung ke NCERT kami kemudian diajak Pak Son utk mengunjungi pasar lokal Ayna tempat orang berjual kain sari murah. Ini seperti pasar-pasar tradisional kita yg menjual berbagai macam kebutuhan bahan makanan dan juga tekstil. Meski hanya pasar tradisional tapi toko tekstilnya memiliki koleksi kain sari yg begitu indah dan murah sehingga ini seperti mengunjungi surga bagi istri saya. Ia langsung tenggelam dalam gulungan berbagai macam kain sari yg ditumpahkan penjualnya dari atas tanpa henti. Istri saya melahap kain-kain Sari tersebut seperti orang yg menderita dahaga cukup lama. Seperti yg saya perkirakan ia memborong kain sari begitu banyaknya sehingga saya yg harus membawanya merasa mengangkat satu zak semen saking beratnya. Istri saya berjalan tegak menuju mobil dengan wajah berseri-seri. Matanya berbinar-binar dan senyumnya penuh kemenangan karena telah berhasil mengakuisisi sejumlah kain Sari yg dirasanya sangat murah tersebut. Ini jelas sebuah kemenangan besar baginya. Tapi sesampainya di kamar ia menjerit karena setelah dihitung ternyata kain yg dibelinya kurang satu lembar. Ia merasa telah dicurangi oleh penjualnya. Sejak itu senyum puasnya menghilang. Saya yakin bhw ia pasti akan membalas dendam dengan berbelanja lebih banyak lagi setelah ini. I pray for the safety of India!

DIJAMU OLEH DUBES INDONESIA UTK INDIA

Malamnya kami diundang oleh Pak Letjen (Purn) Andi M. Ghalib, Ambassador RI utk India, utk dijamu makan malam di Oberoi Hotel. Ini jelas sebuah kehormatan besar bagi kami karena, kata Bu Son, biasanya tamu-tamu beliau cukup dijamu di kediaman beliau. Kali ini kami diajak utk makan malam di restoran internasional dengan hidangan ala carte (saya biasa memelesetkannya menjadi hidangan ‘apa lu kate’).

Beliau datang bersama Prof MJ Rehman, Senior Vice President Director Amity Educational Institution, sebuah lembaga pendidikan internasional yg memiliki cabang di lima benua. Beliau ingin sekali agar ada perjanjian kerjasama pendidikan yang nyata antara India dan Indonesia. Sebelum ini beliau telah berhasil menggolkan MOU di bidang pendidikan yg ditandatangani oleh Presiden SBY dengan PM India. Bahkan sebenarnya beliau selama masa jabatannya telah berhasil menggolkan MOU dg pemerintah India sebanyak 33 MOU! Sebuah prestasi yg harus ditindaklanjuti dengan kerjasama nyata antar dua negara.

Kedutaan Besar Indonesia sendiri berhasil mencapai prestasi mengagumkan di bawah kepemimpinan Bpk Andi M Ghalib yg dulu pernah menjabat sebagai Jaksa Agung di jaman Presiden Megawati itu. Beliau berhasil mempererat hubungan antara dua negara dan sampai saat ini berhasil melampaui targetnya dalam meningkatkan volume perdagangan antara Indonesia dan India. Pada tahun 2008 ketika pertama kali beliau datang volume perdagangan ke dua negara baru US$ 4 M tapi tahun 2010 lalu melejit mencapai US$ 14 M. Pada saat pertama kali beliau menjabat selama tiga bulan tak ada tamu yg datang ke India tapi kini tamu negara terus berdatangan ke India dan bahkan presiden SBY pun datang utk menjalin hubungan antar negara. Alhamdulillah kami dijamu seperti tamu negara, diantar ke sana ke mari oleh Atase Pendidikan, dan bahkan dijamu sendiri oleh Pak Dubes.

Bagi beliau mslh pendidikan itu sangat penting dan justru nomor 1 dalam prioritasnya. Itu sebabnya beliau ngotot harus ada Atase Pendidikan di India padahal jumlah mahasiswa kita di India hanya sekitar 195 org. Sangat minim mengingat sebenarnya India adalah tujuan belajar yg sangat baik. Pendidikan mereka berkualitas dunia dengan biaya sangat rendah. Bahasa yg digunakan juga bhs Inggris dan penduduk muslimnya juga sangat banyak. Bahkan katanya ada 300.000 masjid di seluruh India. Tapi India memang tidak agresif menawarkan pendidikannya ke luar seperti Eropa, Australia, Amerika, dan bahkan Malaysia. Mungkin karena jumlah penduduk mereka sendiri sudah sangat banyak sehingga merasa tidak perlu mempromosikannya.
Pertemuan kami tutup dengan janji utk menjajagi kemungkinan kerjasama antara Stikom Bali dg Amity Uni.

Shukriya for the courtesy…!

New Delhi, 9 Januari 2012
Salam
Satria Dharma

Iklan