Profil

dsc00187a.JPG

Satria pertamakali masuk IKIP Negeri Surabaya tahun 1977, pada program pendidikan guru Diploma 1 jurusan Bhs Inggris di PGSLPYD (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan). Setelah lulus, dia langsung ditempatkan di SMPN 1 Caruban, mengajar selama 2 tahun. Pada tahun 1980, dia kembali masuk IKIP pada program S1 jurusan yang sama, sambil mengajar sebagai PNS di SMPN 2 Surabaya.

Di IKIP, Satria pernah menjadi ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Bahasa Inggris meski waktunya terbatas, karena dia juga harus mengajar siang harinya. Karena prestasinya yang bagus, dia terus menerus mendapatkan beasiswa peningkatan prestasi. Lulus pada tahun 1984, dia kemudian pindah mengajar di SMAN 12, dan pindah lagi ke SMAN 13. Karirnya sebagai PNS mengalami ’kecelakaan’ ketika dia menolak untuk menjadi anggota Golkar. Pada saat itu, semua PNS memang ’dipaksa’ untuk masuk Golkar. Satria menolak untuk mejadi anggota Golkar karena dia berprinsip bahwa seorang guru sebenarnya adalah sosok ’pinandito’, tak boleh bersikap partisan dengan mengikuti golongan atau partai politik tertentu. Sikapnya itu membut dia diskors bertahun-tahun dan dikeluarkan dari tempatnya mengajar.

Lelaki berperawakan sedang dan berambut keriting ini tidak patah hati dengan kondisi tersebut, dan justru menggunakan kesempatan tersebut untuk membuka bimbingan belajar bersama dua orang temannya di Surabaya. Bimbingan tersebut mereka beri nama Airlangga Student Group (ASG) yang mampu menjadi bimbingan belajar terbesar untuk siswa SMP pada saat itu. Bimbingan belajar tersebut bahkan sempat memiliki beberapa cabang di kota-kota di Jawa Timur seperti di Mojokerto, Madiun, Kediri, Gersik, Jember dan Pamekasan,

Tahun 1990, Satria merasa jenuh dengan apa yang dikerjakannya dan melompat jauh ke pedalaman Kalimantan, mengajar di Bontang International School di Kalimantan Timur. Di sini dia mengajar Indonesian Studies pada siswa-siswa asing. Setelah enam tahun mengajar di sekolah internasional inilah Satria mulai menyadari betapa tertinggalnya kualitas pendidikan nasional kita dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah internasional. Menyadari hal itu, dia bertekad untuk keluar dari sekolah internasional itu dan mendirikan sekolah sendiri.

Tahun 1996, keinginannya keluar dari Bontang International School terlaksana. Dia lalu mendirikan Yayasan Pendidikan Airlangga di Balikpapan. Dengan wadah yayasan ini, dia berhasil mendirikan beberapa lembaga pendidikan, di antaranya SMP Airlangga, SMK Airlangga, SMKTI Airlangga, Bimbingan Belajar Airlangga, Airlangga College, ASMI Airlangga, dan STMIK STIKOM Balikpapan di dua kota yaitu Balikpapan dan Samarinda.

s3700061medium.jpg

Tidak puas dengan apa yang dia lakukan di Kalimantan Timur, dia kemudian mengajak beberapa rekannya untuk mendirikan STIKOM Bali di Denpasar, yang sekarang berkembang dengan SMKTI dan juga sebuah sekolah tinggi di Bandung.

Tidak berhenti disitu, Satria kemudian menjajagi profesi lain sebagai konsultan pendidikan di beberapa lembaga yaitu di Sampoerna Foundation, Provisi Education dan CBE. Profesinya sebagai konsultan inilah yang membuatnya sering harus berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.

Satria pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan pada tahun 2003 s/d 2006 dan menjadi pelopor program Sekolah Gratis di Balikpapan maupun di Kalimantan Timur. Tulisannya tentang Sekolah Gratis menghiasi koran-koran lokal dan mailing list-mailing list pendidikan. Sikapnya ini membuatnya sempat ’dimusuhi’ oleh para petinggi di Balikpapan, tapi pada akhirnya usulannya mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Sekolah Gratis menjadi wacana paling populer di masyarakat pada waktu itu dan saat ini hampir semua kota dan kabupaten di Kalimantan Timur telah mengadopsinya.

dsc00036medium.jpg

Satria yang punya hobi membaca ini masih menyimpan beberapa obsesi di bidang pendidikan. Di antaranya adalah menjadikan masyarakat memiliki budaya membaca dengan programnya ”A Reading Nation”. Dia juga ingin memiliki lembaga pelatihan guru yang benar-benar berkualitas. Salah satu proyek yang sedang dikerjakannya adalah membesarkan ”Indonesian Teachers Club” yang dibentuknya di Jakarta beberapa waktu lalu, di bawah bendera CBE. Satria adalah salah satu pemrakarsa ”Konferensi Guru Indonesia 2006” yang diselenggarakan oleh Sampoerna Foundation dan Provisi Education pada bulan November 2006 lalu. Mendiknas Dr. Bambang Sudibyo yang membuka dan sekaligus menjadi Keynote Speaker pada acara tersebut sangat terkesan dengan KGI 2006 ini, dan berharap agar kegiatan ini menjadi kegiatan rutin tahunan.

Satria menikah dengan Ika Padmasari, bekas siswanya ketika mengajar di Surabaya, dan mendapatkan tiga anak yaitu : Muhammad Ayyub Dharma (Yubi) 13 tahun, Muhammad Yusuf Dharma (Yufi) 9 tahun, dan Tara Nuramalia (Tara) 4 tahun.




71 Komentar (+add yours?)

  1. Sultan Habnoer
    Jul 04, 2007 @ 02:08:07

    Salam kenal,
    Salut atas ulasan-ulasan anda yang menyoroti permasalahan pendidikan kita saat ini!

    Balas

  2. wuryanano
    Sep 12, 2007 @ 20:37:49

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Bagaimana nih kabar Mas Satria? Senang bisa baca tulisan sampeyan di blog ini.
    Kapan ke Surabaya lagi? Rencana teman-teman buka Kursus Bahasa Inggris, sudah jalan ya. Kapan mampir ke Kampus SWASTIKA PRIMA lagi?

    Oya, jika ketemu adik sampeyan, Agung Sakti Pribadi, tolong sampaikan salam dari saya ya. Terima kasih. Sukses selalu buat Mas Satria sekeluarga.

    Wasalam,
    Wuryanano
    http://wuryanano.com/

    Balas

  3. pak AR
    Nov 01, 2007 @ 07:01:52

    Salam kenal dari orang yang merindukan pendidikan yang ‘mendidik’ dan tidak sekedar ‘mengajari’…

    Balas

  4. salam kenal buat pak satria
    Nov 24, 2007 @ 01:51:54

    senang baca tulisan bapak bisa menjadi bahan curahan tentang pendidikan

    Balas

  5. Sheila
    Jan 27, 2008 @ 18:36:17

    Salam kenal. Saya mantan dosen AAB, tetangganya STIKOM tapi sekarang jadi full timer ibu rumah tangga. Tulisan-tulisannya bagus, Pak.

    Balas

  6. Satria Dharma
    Jan 27, 2008 @ 22:40:29

    Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya Bu!
    Salam
    Satria

    Balas

  7. Flow(s)
    Jan 31, 2008 @ 06:10:35

    Luar biasa riwayat hidup Bapak, Salam kenal pak.

    Andai saja dari hati saya memiliki keberanian untuk membuat terobosan dengan menghiraukan obsesi, seperti Bapak, bukan tidak mungkin kita dipertemukan Allah SWT pada satu waktu dan kesempatan.

    anyway, Salut untuk Bapak, semoga kesuksesan terus mengiringi Bapak.

    ‘q = Saya adalah juga seorang pendidik di Palembang untuk salah satu perguruan tinggi swasta. Dan, terus terang saya juga memiliki obsesi agar dunia pendidikan di Indonesia bisa dijauhkan dari pencemaran praktek korupsi pejabat.

    Balas

  8. hidayat
    Feb 01, 2008 @ 16:34:43

    Subhanallah …

    Salam kenal Pak Satria. Saya sering dengar namanya saja selama ini, dan juga sepertinya pernah ngelihat wajah bapak. Saking kupernya saya, ya …

    Salam,
    Bangga menjadi anak guru

    Balas

  9. Satria Dharma
    Feb 05, 2008 @ 08:27:14

    Salam kenal juga, Pak Hidayat! Mudah-mudahan kita bisa bertemu suatu saat.
    Salam
    Satria

    Balas

  10. Saiful Adi
    Feb 06, 2008 @ 02:02:27

    salam kenal Pak, saya suka baca tulisan bpk

    Balas

  11. Satria Dharma
    Feb 06, 2008 @ 05:00:32

    Salam kenal juga Pak Saiful! Tinggal di mana?
    Salam
    Satria

    Balas

  12. Hasan
    Feb 28, 2008 @ 22:38:37

    Salam buat pak Satria, saya salut dgn sikap idealis bapak yang teguh mempertahankan prinsip meskipun harus jadi korban kejahatan politik. Saya ingin mengusulkan agar pak Satria banyak menulis tentang ajakan kepada semua guru agar menjadi guru sejati, profesional dan punya obsesi yg luhur tentang pendidikan di negeri tercinta ini, terima kasih.

    Hasan (Sulbar)

    Balas

  13. Satria Dharma
    Feb 29, 2008 @ 00:54:03

    Pak Hasan,
    Bagi saya tidak penting seberapa besar masalah yang kita hadapi, tapi seberapa banyak yang bisa kita lakukan untuk memecahkan masalah tersebut.
    Terima kasih telah mampir.
    Salam
    Satria

    Balas

  14. nurul hikmah
    Apr 07, 2008 @ 04:05:43

    Balas

  15. Lana Atmim Nur
    Apr 22, 2008 @ 17:19:49

    Salam kenal, bertambah lagi referensi saya dalam menambah wawasan dunia kependidikan Indonesia.

    Balas

  16. norjik
    Apr 25, 2008 @ 15:37:22

    Dear pak Satria, saya dulu siswa dari AIRLANGGA pak Angkatan Thn 97. Pnya dosen kalau saya ndak lupa namanya Pak Syahminan Wahab. Kmudian setelah selesai dari AIRLANGGA jurusan KOMPAK waktu itu … saya lalu ke Jogja sesuai dg Recomendasi dari AIRLANGGA untuk lanjut di STMIK DHARMA BANGSA. Namun saya gk jd kuliah di situ, saya lalu pilih STMIK AKAKOM. Oh ya pak kalau ada info reuni AIRLANGGA bisa info2 di blog. Trim’s 🙂

    Balas

  17. Ahdar"andayo"
    Jun 26, 2008 @ 03:44:45

    Assalamu Alaikum Wr. Wb
    buat pak Satria, Keluarg dan staff Stikom Balikpapan. Especially Pak adnan, Adhi, Mudzir. Gunawan, Bobby, Tante Sohra dan lainnya yang tak sempat ku sebutkan. ok Sy tahu blog pak satria sewaktu iseng -iseng cari alamat teman -teman dibalikpapan so sy search di google Stikom balikppapan blog disitu sy dapat. sy sekarang di makassar join di Metro School Makassar. ngajar di Kindergarten yg ternyata tak semudah yg kubayangkan. but tantangan yg mengasyikkan dan apalagi kami sering dikutkan pelatihan spt: Plthn Psikologi, Menanganan anak Autis by Sekolah autis Buah hatiku, basic English by Native Speaker & basic Skill lainnya. sy sdh liat profil bapak untuk sy mau mengirimkan tulisan sy semoga menginspirasi kita untuk tetap menulis. pak Satria juga termasuk orang yg banyak memberi inspirasi kepada kami ttg banyak hal walaupun itu dalam keadaan santai. terima kasih banyak

    MENULIS, MENULIS SAJA
    Menulis memiliki banyak pengertian untuk menjelaskannya. Menulis dalam proses pengerjaannya melibatkan banyak unsur didalamnya. Dalam penjelasannya, menulis adalah suatu aktifitas yang bergelut dengan simbol, ikon, kode maupun isyarat yang diformulasikan kedalam sebuah media.
    Kebiasaan menulis sesungguhnya tergolong kebiasaan purba yang masih terus berlangsung hingga kini. Menulis sebagai pelampiasan kreatifitas menggunakan bahasa sebagai bahan baku utama dan pada kesempatan selanjutnya lebur dan menjelma menjadi bahasa itu sendiri. Salah satu indikasi manusia telah menginjakkan kakinya pada peradaban adalah dengan adanya tulisan sebagaimana diketahui sebelum manusia mengenal bentuk tulisan yang berlaku seperti masa sekarang, mereka menulis mempergunakan simbol, ikon dan kode maupun isyarat pada media alam yang ada pada saat itu. Seperti, batu. Batu dijadikan sebagai media untuk menggambarkan dan menceritakan aktifitas dan existensi mereka dan tentang mengapa mereka menulis. Dari bukti tersebut menghadirkan suatu kebudayaan yang pernah ada dan berlaku pada masanya. Bukti (Hand Stencil) tersebut merupakan adikarya manusia mesolithik yang didalamnya terkandung bukti-bukti ideologi mereka (Idiofact) mengenai kepercayaan dan rutinitas spritual, bukti sosiologis (Sosiofact) mengenai aktifitas keseharian mereka seperti berburu dan mengumpulkan makanan (Hunter – Gather) yang menggambarkan keadaan ekologi mereka (Ecofact) dan bukti bahwa mereka sudah mengenal kesenian (Art painting) pada saat itu. Hal itu juga membuktikan bahwa mereka tergolong manusia intelek purba ditinjau dari konteks ke-kini-an. Dan pada masa selanjutnya dikenal dengan masuknya masa prasasti hingga tulisan yang kita kenal sekarang. Dan sebagaimana tulisan-tulisan pada masa sebelumnya, menceritakan tentang pengalaman dan perjalanan hidup baik buruknya kehidupan manusia sebagai topik pembelajaran, ajaran, perintah, perlawanan, perjalanan sejarah dan yang paling minimal adalah unek-unek dan keluh kesah.
    Kegiatan tulis-menulis hendaknya menjadi budaya positif sebagai mental proses dalam upaya pencerdasan kehidupan bangsa seiring dengan budaya membaca. Menulis merupakan alat komunikasi verbal sebagai manifestasi empirik serta hasil partisipasi inderawi dan spiritual yang diserap dari kontemplasi untuk mencari makna dan sekaligus penyampai makna kehidupan. Menulis apa saja yang bisa untuk ditulis walaupun hanya sepenggal kata dan kalimat lebih memiliki arti daripada menyimpan seribu bahasa di hati. Ungkapan tersebut bukanlah suatu bentuk ‘perlawanan’ bagi orang – orang yang enggan bersuara lewat tulisan tetapi sedikit pesan bahwa hasil pemikiran itu akan langgeng bila dipatenkan pada guratan-guratan simbol, ikon dan tanda dikarenakan endapan pikiran tidak akan lama tertinggal di otak. Setidaknya berbagai masalah bisa teratasi dengan tulisan. Memahami tulisan sama halnya membaca secara tidak langsung dan dengan kepekaan terhadap sesuatu hal juga sarana pencaharian solusi atas masalah – masalah kehidupan.
    Tidak sedikit orang dalam perjalanan kegiatan tulis-menulis mendapatkan rintangan bahkan musuh dan dalam menuangkan ide – ide dan mesti dilewati dengan mempertaruhkan hidupnya. Menulis dalam beberapa persepsi,sebahagian beranggapan bahwa menulis adalah mengarang dalam artian makna yang kosong, hanya sebagai tindakan yang tidak menghasilkan materi dan cenderung meng’khayal’. Mengkhayal dalam menulis bukanlah suatu hal yang negatif sepanjang mengkhayal itu tidak melanggar atau keluar dari kreatifitas seseorang untuk mencipta, berkarya dan lebih dipandang sebagai tindakan imajinatif yang lahir dari dunia realis dan bahkan bisa melampaui dunia realis. Dengan menulis, perasaan berbagi dengan sesama bisa tertuang baik itu suka dan duka dan menjadikannya sebagai media pergerakan untuk perbaikan dan pencerahan hidup. Dan secara sadar ataupun pura-pura tidak sadar bagi orang-orang yang memandang kegiatan tulis menulis sebagai kegiatan yang ‘nonsense’ belaka, mereka juga telah bergelut dengan tulisan seperti Koran, artikel, majalah, jurnal ilmiah maupun textbook dan sebagainya. Dan anggapan –anggapan miring tersebut lumrah adanya mungkin disebabkan pula karena banyaknya tulisan-tulisan yang menyesatkan ummat. Dan salah satu penyalagunaan tulisan yang tumbuh dan menjamur pada masyarakat adalah menulis kode buntu (togel). Hal ini mungkin banyak tidak sepakat menganggapnya sebagai kegiatan tulis-menulis dalam arti yang sebenarnya akan tetapi media yang digunakan harus dengan tulis-menulis. Dimana-mana bisa dijumpai orang yang dulunya mungkin alergi dengan matematika, kini dengan bermodalkan pulpen dan secarik kertas serta buku panduan ramalan togel mulai mencakar rumus matematika yang tercipta dengan sendirinya dan didapatkan bukan dari hasil pembuktian ilmiah tetapi dari hasil melamun,mimpi, berkhayal dan menduga-duga (praduga berhadiah ). Ini bisa menumbuhkan minat baca dan tulis tetapi dengan maksud dan tujuan yang tidak benar. Kegiatan ini konon kabarnya sebagai jawaban atas pernyataan bahwa perkembangan suatu kota industri berbanding lurus dengan kriminalitas, prostitusi maupun perjudian namun pernyataan ini dimentahkan dengan maraknya togel dipelosok – pelosok kampung dan pedesaan. Tapi bagaimanapun togel sudah menjadi bagian dari peradaban manusia masa kini yang parahnya menggunakan media tulisan.
    Tulisan ini diperuntukkan bagi orang-orang yang beranggapan tulis-menulis adalah pekerjaan yang sia-sia belaka. Dan tidak sedikit pula orang yang menyandarkan hidupnya dengan menulis dan tidak semua hidup hanya dipandang dengan materi saja, minimal dengan menulis bisa mengisi rongga-rongga bathin dan memperkaya sisi spiritual kita.
    @ndayo,25/04/2003, Prapatan, Balikpapan
    Balikpapan

    Balas

  18. Agus Nugroho
    Jul 01, 2008 @ 03:32:52

    Assalamualiku wr wb.
    Salam kenal Pak Satria …

    Balas

  19. melly kiong
    Okt 08, 2008 @ 09:35:31

    Membaca perjuangan dan keberanian Bapak, saya menjadi bertambah kerdil, saya yang masih bau bawang kemarin beraninya mengatakan ingin berjuang.
    Tapi jujur saya sangat salut dengan Bapak, yang berani menentukan sikap. Teruslah semangati guru guru Pak, jangan berhenti .
    Tidak ada kata lain yang bisa keluar lagi, hanya salut dan luar biasa.
    Sukses yah Pak.
    saya dapat lagi guru bangsa

    Balas

  20. martindmartulis
    Okt 13, 2008 @ 07:59:34

    Salam kenal Pak.

    Martin d Martulis

    Balas

  21. Satria
    Okt 13, 2008 @ 09:10:29

    Salam kenal juga, Mas Martin. Nama Anda sama dengan nama seorang teman SMA saya yang paling pintar di sekolah. Sila baca kisahnya di :
    https://satriadharma.wordpress.com/2007/03/07/martin-%E2%80%98the-genius%E2%80%99/#more-30
    Salam
    Satria

    Balas

  22. gatut
    Okt 14, 2008 @ 00:14:53

    salut buat bang Satria,semoga impian abang jadi kenyataan. salam kenal dariku di Bali .

    Balas

  23. agungguritno
    Okt 15, 2008 @ 03:52:15

    Alhamdulillaah masih ada yang sangat peduli pada dunia pendidikan di negeri ini, disaat semua orang berpikir tentang apa yang didapat..ternyata ada yang berpikir keras bagaimana memberikan.

    Balas

  24. zidni rachmawati
    Okt 15, 2008 @ 08:50:00

    Assalamualikum pak satria..
    Alhamdulillah akhirnya ketemu blog nya pak satria.
    Sungguh tak satupun di dunia ini yang luput dari gengganman Allah. Senang menyambung tali silaturahmi dengan pak satria sekeluarga dan teman2.
    Subhanallah.. semoga apa yang telah dilakukan pak satria barokah, manfaat dunia dan akherat amin ya robbal alamin. salam kenal dai saya

    Balas

  25. Satria
    Okt 15, 2008 @ 12:10:52

    Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Semoga apa yang kita lakukan memberikan arti bagi banyak orang di sekitar kita.
    Salam kenal juga dari saya.
    Salam
    Satria

    Balas

  26. okriyus
    Nov 30, 2008 @ 07:20:33

    salam kenal,
    mau tanya ni ?
    kalau mau kirim artikel tentang pendidikan disekolah berlisensi internasional di Indonesia dimana ya ??

    Balas

  27. no name
    Nov 30, 2008 @ 07:25:50

    ISO, Kualitas Sesaat

    Bangga memang jika berkesempatan sekolah di sekolah yang telah berlisensi yang diakui secara internasional. Tetapi, remaja ini semua lisensi itu terkadang terasa palsu, karena tidak disertakan dengan bukti-bukti otentik yang menguatkan lisensi tersebut.
    Saat ini, Saya, Siswa SMA Plus Negeri 17 Palembang bisa sedikit berbangga hati, mengapa ? Ya, tentu saja kembali ke pembahasan awal tadi,SMA Plus Negeri 17 Palembang kini telah memiliki sertifikat berstandar Internasional. ISO 9001:2000
    Sebuah kebanggaan luar biasa dengan tercatat sebagai siswa berstandar Internasional.
    Setelah berhasil mendapatkan lisensi itu, Apa lagi tugas sekolah ini ? Ya mempertahankan mutu bahkan kalau bisa memperbaiki mutu yang telah dinilai baik(Harusnya).
    Terdengar dari luar, sepertinya sekolah ini memang pantas mendapatkan lisensi ini. Sekolah ini begitu nyaring berteriak membanggakan prestasi siswa-siswa nya. Memanf sih Managementnya yang ISO tetapi jika memang management sip ya semua juga akan ikut sip. Ya kan…?
    Satu lagi yang lupa, sekolah ini tidak seperti sekolah unggulan di bidang akademis, tetapi sekolah mewah.
    Dilihat dari dalam ???, oow… Cuma orang dalam yang tahu kalau sebenarnya SMA Plus Negeri 17 Palembang sangat-sangat dan sangat tidak pantas mendapatkan lisensi tersebut,
    Di sekolah ini yang utama terkadang tidak menjadi yang utama, Ujian? Jauh dari kata murni, kompetisi gimana ? tidak ada yang istimewa, Lalu yang paling penting management sekolah ini sepertinya tidak merasa jika sudah menyalahi Undang-undang, bahkan hukum dasar Indonesia. Lho kok gitu ? mari kita bahas satu persatu.
    Pertama, yang utama bukan utama, maksudnya ? Kita semua tahu tujuan utama sekolah untuk belajar, membanggakan orang tua, dan lulus dengan predikat baik bahkan terbaik, tetapi setiap sekolah pasti ada yang namanya ekstrakulikuler, ya namanya saja ekstra, artinya tidak boleh menghambat yang utama bahkan sampai mengalahkan yang utama.
    Contoh kasusnya, pengukuhan ekstra kulikuler yang baru saja berakhir, Persiapannya lebih dari satu bulan, setiap ada waktu kosong pasti latihan, siang, sore bahkan sampai jam 10 malam, jadi kapan kami bisa mengerjakan tugas dari guru disekolah, lebih-lebih tugas kelompok kalau semua waktu dihabiskan dalam latihan EKSTRA. Jadi telah terjadi pertukaran intensitas antara utama dan ekstra, Apalagi pengukuhan ini dilaksanakan begitu mepet dengan UTS(Ujian Tengah Semester). Kami baru berhenti latihan bahkan tidak sampai 24 jam sebelum UTS pertama dimulai. Wow ! jauh dari kewajaran, mungkin siswa SMA Plus tidak butuh tidur dan atau istirahat untuk sukses walaupun hanya sejenak.hehe…
    Kedua, Mungkin berimbas dari kasus pertama juga, karena terbatasnya waktu belajar, siswa menghalalkan segala cara untuk tidak malu dan malu-maluin pada saat pembagian hasil UTS. Pada saat UTS dimulai, seharusnya yang terlihat atmosfer yang panas dan menegangkan karena siswa berusaha menjadi yang terbaik dengan cara terbaik. Tetapi, jauh dari yang saya perkirakan, nyaris semua berusaha untuk mnjalankan jalal haram yang disiapkan. Hasilnya ? bagus sih, tapi kenyataan terbaik, justru yang sangat aktif (dikelas) jatuh terperosok kebawah, dan yang aktif (Saat Ujian berlangsung) masuk nominasi terbaik. Wow ! Fantastis…
    Ketiga, Berbicara tentang management ISO, pastilah ada persaingan luar biasa di dalam dan luar sekolah. Tetapi, siswa sini saling bunuh. Mereka tetap saja menghalalkan segala cara untuk nilai dan nilai. Memang, dengan SKS membuka kesempatan semua siswa untuk lulus lebih cepat, tapi tidak begini caranya. Semua siswa harus kompeten dengan kemampuan mereka, bukan dengan kombinasi kemampuan beberapa teman.
    Terakhir, Kita tahu Indonesia merupakan Negara demokratis, Artinya semua warga dan organisasi juga harus Demokratis. Tidak sewenang-wenang.
    Contohnya, baru-baru ini santer terdengar Iuran komite naik, okelah kalau memang ada bukti dan kejelasan dari alasan naiknya iuran tersebut, artinya kenaikan berlaku mulai bulan ini (saat rapat digelar), Anehnya, kenaikan dimulai dari awal masuk ke sekolah ini, seakan- akan kami berhutang pada bulan-bulan yang lalu. Secara logis ? Tidak masuk akal ???, Tidak mungkin sekolah menutp-nutupi masalah beberapa bulan terakhir, arinya jika memang, sekolah butuh nominal sebesar itu, sejak awal sebelum kami ditetapkan sebagai siswa baru di sekolah ini. Itu baru demokratis namanya, karena jika dirapatkan sejak bulan awal masuk kalau sekolah butuh dana sekian tiap bulan, mau tidak mau harus disetujui, tetapi jika baru dirapatkan, satu-satunya alasan adalah untuk perbaikan, karena kerusakan yang baru terjadi, tetapi faktanya tidak ada perbaikan, dan yang patut ditanyakan, Kemana Uang Itu Selama Ini ? sampai-sampai harus naik dari awal.
    Cukup jelas mungkin semua kejanggalan di sekolah ini, mungkin masih banyak lagi kejanggalan lain yang intinya menyatakan bahwa ISO bukan jaminan mutu dari suatu sekolah.
    Maka dari itu, mulai sekarang jangan salah memilih sekolah, apalagi tergoda hanya karena lisensi yang dimiliki.
    Sudah cukup karangan Argumentasi ini saya buat walaupun terkesan sedikit melenceng dari Ciri karangan Argumentasi. Tetapi cukup untuk sedikit melampiaskan kegundahan hati.

    Karya : Berly Ramanda Saputra
    Kelas :I.D .

    Balas

  28. nana
    Des 16, 2008 @ 05:56:44

    Senangnya kalu bisa bergabung dan berbagi cerita bersama guru-guru. Gimana cara bergabung dengan klub guru ya

    Balas

  29. 64diwarman
    Des 26, 2008 @ 15:07:16

    Salam kenal dan salut buat perjuangan Pak Satria. Perjuangan Bapak adalah contoh bagi kami sebagai guru muda.
    DIWARMAN
    http://diwarman64.blogspot.com
    http://64diwarman.wordpress.com

    Balas

  30. Tikno Subadi
    Des 27, 2008 @ 04:24:29

    Alhamdulillah, satu lagi orang yang “masih peduli” dengan pendidikan di tanah air kita tercinta ini. Saya baru kali ini membaca tulisan bapak, dan baru kali ini juga mengenal bapak (melalui blog ini tentunya). Selamat atas apa yang telah bapak kerjakan, semoga menjadi pencerahan bagi saya khususnya.

    Wassalam
    Salah seorang guru SMK di Jakarta.

    Balas

  31. ismira
    Jan 09, 2009 @ 05:30:27

    Salam kenal pak satria, senang membaca riwayat hidup bapak. Jarang sekali orang-orang yang mengajar dari hati. Kepentingan menjadi sesuatu yang prioritas. Mg bapak berhasil mendidik siswa bapak menjadi orang-oran gyang bermoral

    Balas

  32. rino kristyarto
    Jan 17, 2009 @ 11:47:37

    assalamualaikum.
    Pak satria, saya alumni Unesa jurusan biologi,sekarang mengajer di salah stu smp negeri di gresik,saya suka sekali tulisan Bapak…. saya minta izin , untuk mengutip artikel bapak(tetap mencantumkan sumber) untuk mengisi website sekolah saya.
    terimakasih sebelumnya
    Wassalmualaikum wr wb

    Rino

    Balas

  33. Satria
    Jan 19, 2009 @ 11:15:40

    Silakan saja, Mas! Senang sekali bisa berkenalan dengan Anda. Semoga kita bisa ketemu suatu kali nanti.
    Salam
    Satria

    Balas

  34. agnessekar
    Feb 05, 2009 @ 13:21:15

    Selamat malam Pak Satria, surprise dengan perjuangan Bapak di bidang Pendidikan, begitu perhatian dan focus untuk mencerdaskan bangsa. Kalau dikaitkan dengan masa kini banyak program pasca sarjana yang instan, ujuk-ujuk jadi, sulap, masuk beberapa kali kemudian ujian dan jadi sarjana, saya ingin konsultasi bagaimana solusinya Pak ? agar mutu pendidikan di Indonesia ini semakain bermutu. Terima kasih tulisannya yang menyemangati kami untuk berjuang. Sukses untuk anda.

    Regards, agnessekar.wordpress.com

    Balas

  35. bocahbancar
    Feb 06, 2009 @ 01:31:49

    Wah menikah dengan siswanya …Hmm..Ini yang keren Pak..

    Salam hangat dari Bocahbancar dan sukses untuk Anda selalu…

    Balas

  36. Sunny
    Feb 23, 2009 @ 01:36:40

    terima kasih untuk pencerahannya..
    Saat ini saya sedang membaca bukunya jeffrey lang yg berjudul bahkan malaikat pun bertanya.
    Ulasan yg bpk berikan sangat cerdas dan membuka pemahaman saya untuk berpikir kritis dalam beragama. Tidak sekedar mengikuti dogma-dogma agama yg kita peroleh karena islam turunan kita tapi hendaknya kita tergugah utk terus mempertanyakan ke-islaman kita. Smoga Allah menerangi jalan pencarian kita dgn Hidayah-Nya….
    Amin…

    Balas

  37. tita
    Mar 06, 2009 @ 03:38:59

    nice to visit your blog pak…
    Alhamdulillah hari ini membawwa hikmah..thanks a lot…

    Balas

  38. Aan Nur
    Mar 28, 2009 @ 15:38:49

    Salam kenal Pak….trims atas banyak inspirasinya..

    Balas

  39. Suroto
    Apr 26, 2009 @ 15:27:19

    Terimakasih atas kirimannya di millis RSBI. Banyak manfaat yang aku peroleh. Mudah-mudahan juga untuk Bangsa Indonesia melalui pejabat terkait. Selamat terus berkarya … sukses selalu!!!

    Balas

  40. femina
    Mei 23, 2009 @ 14:02:25

    Salam kenal,pak Satria.
    Saya kagum pada tulisan dan kegiatan bapak sebagai pendidik. Tapi saya mau curhat disini tentang apa yang selama ini saya yakini bahwa guru itu orang-orang yang tulus memberikan ilmunya pada anak didiknya.Setidaknya citra dan kenangan itu terpatri karena memang begitulah guru-guru saya ketika saya kecil sejak SD sampai SMA, baik, tegas, santun, sederhana,menguasai bidangnya sehingga mampu mentransfer ilmunya dan anak didik hormat dan mencintainya.Paman dan bibi saya juga mantan pendidik dan juga pas dengan profil yang saya gambarkan.
    Tapi sekarang setelah saya pensiun dari perusahaan swasta dan diminta mengurus sebuah yayasan pendidikan berbasis islami dan kebetulan dibidang keuangan sesuai keakhlian saya sebagai akuntan; saya tertegun mendapatkan kenyataan bahwa “guru juga manusia yang sendu”, mohon maaf.. kalau masih ada (banyak) yang tidak seperti ini. “sen(eng)du(it)” yang diaplikasikan pada setiap kegiatan sekolah harus ada tarif/insentifnya; padahal beliau2 itu sudah menerima gaji, tunjangan keluarga, tunjangan pengabdian, tunjangan transport, uang makan dan uang kerajinan kerja. Saya sudah berkarya lebih dari 33 tahun dan di 7 perusahaan, tidak pernah menemukan tarif/insentif semacam itu meski ada tugas-tugas extra diluar tugas rutin, hanya tambahan lembur bagi yang masih berhak uang lembur.Saya sangat prihatin ketika membahas anggaran yang diajukan sekolah, most of the detail of activities, isinya insentif kepanityaan dan konsumsi sehingga makin banyak kegiatan maka makin banyak uang masuk ke pundi-pundi mereka.Belum lagi ketika UUB, UTS, UAS, UAN,pra UAN bahkan try out, selain insentif panitya ada tarif membuat soal, memeriksa soal, koreksi soal, menulis ijazah, mengawas ujian dan lain-lain yang ditetapkan per murid.Astagfirullah, sampai ada pemeo dikantor bahwa disekolah, geser badan sedikit…duit; lalu bagaimana kami harus menyiasati kelangsungan pendidikan tanpa menaikkan uang sekolah ? sementara diluar sana banyak pesaing dengan jargon “internasional” dan berakibat penerimaan murid menurun.
    Yang terakhir mengemuka adalah beberapa guru di tingkat pendidikan tertentu menuntut kenaikan insentif mengawas ujian dengan dalih kalau mereka ditugaskan mengawas disekolah lain mereka dapat lebih besar daripada yang mengawas / panitya disekolah sendiri, jadi mereka ingin disamakan. Konyol banget ..seh!
    Nah pak Satria, apa yang salah dengan dunia pendidikan kita ? Bahkan anak-anak yang mau ujian pun dijaga polisi, seakan akan gak aman; padahal dulu ketika saya masih jadi murid gak pernah kejadian seperti ini. Gimana ya pak ?

    Balas

  41. arman setia budi,ST
    Jun 10, 2009 @ 03:13:37

    Assalamualiakum WR WB.
    Pak Surya saya minta saran, apa yangn harus saya lakukan untuk awal untuk mengembangkan diri dalam usaha memenuhi pendidikan

    Balas

  42. arman setia budi,ST
    Jun 10, 2009 @ 03:14:38

    Assalamualiakum WR WB.
    Pak Satria saya minta saran, apa yangn harus saya lakukan untuk awal untuk mengembangkan diri dalam usaha memenuhi pendidikan

    Balas

    • Satria
      Apr 01, 2010 @ 03:24:15

      Kang Arman, saya tidak paham apa yang Anda maksudkan dengan ‘mengembangkan diri dalam usaha memenuhi pendidikan’ tersebut. Maksudnya mau sekolah lagi atau bagaimana?

      Balas

  43. nurrohman
    Jul 05, 2009 @ 15:33:58

    HEBAT!
    patut di tiru perjuangannya Pak Satria.
    saya pernah ber”mimpi” seperti itu
    tapi baru terwujud sedikit, baru bisa membuka SMK TI Umar Fatah (walaupun bukan milik pribadi), Mohon doa restunya sehingga sy di Rembang bisa mengabdikan ilmu saya. dan obsesi utk merubah nasib generasi bangsa dapat terwujud walau di daerah (kab. Rembang). amiin.

    Balas

  44. sri wahyuni
    Jul 13, 2009 @ 08:31:04

    salam kenal…
    Tulisan2 bapak sangat bagus, dan salah satu tulisan bapak telah memberi inspirasi saya dalam penyusunan tesis saya… saya sedang menyusun tesis tentang “analisis implementasi kebijakan sekolah bertaraf internasional”… Mohon teruskan upload tulisan2 bapak khususnya soal SBI… saya sangat butuh sebagai referensi… Terima kasih….

    Balas

  45. syams
    Des 03, 2009 @ 01:04:56

    assalamu’alaikum mas satria.

    salam kenal dari saya, Alhamdulillah akhirnya bisa juga membaca blog sampeyan (maaf…..biar lebih akrab, bukan sksd = sok kenal sok dekat, tapi membaca tulisan mas satria kok jadi terasa saya sudah dekat).

    sekali lagi salam kenal, sudi kiranya jika ada waktu berkunjung kesekolah kami di IQRO’ pondok gede.

    salam hangat, senyum dan doa untuk mas satria dan keluarga.

    syamsudin

    Balas

    • Satria
      Apr 01, 2010 @ 03:28:26

      Salam kenal juga untuk Kang Syam. Mohon maaf baru bisa balas. Mudah-mudahan kita bisa bertemu suatu sat nanti ya Kang!

      Balas

  46. taufik
    Des 07, 2009 @ 23:12:33

    Good day sir..I’d like to invite you to join my seminar sir…how can I reach you sir for further information? tq sir

    Balas

  47. Muhamad Fajar
    Des 20, 2009 @ 09:24:36

    Assalamualaikum wr wbr.
    Maaf mengganggu.
    Saya adalh salah satu murid Sekolah Menengah Atas di salah satu kota kecil di Jawa barat, kebetulan saat ini sekolah saya dijadikan sebagai sekolah RSKM (Rintisan Sekolah Kategori Mandiri). Saya minta tolong daro pak Satria untuk memberikan penjelasan lebih rinci mengenai yang dimaksud RSKM.
    Terima kasih.
    Wassalam

    Balas

  48. syarifuddinphasa
    Des 27, 2009 @ 14:36:57

    “salut goresan profil,,,, bapak.
    ‘mulai,,,,,pendidikan sampai mengajar,,,dan merantau mencari suasana baru,,,,,,,sungguh perjuangan yang tak gampang dimiliki orang seperti bapak,,,mendirikan ÿayasan sampai “mengendong bekas anaknya x(muridnmya, maaf pak)

    Balas

  49. Habibillah Faqih Arif
    Jan 31, 2010 @ 12:22:47

    Assalamualaikum., salam kenal pak., semoga lancar selalu Usahanya & tetap semangat Cerdaskan bangsa kita..!! 🙂

    Balas

  50. Satria
    Jan 31, 2010 @ 23:56:42

    Salam kenal juga Pak Habib. Terima kasih banyak atas dukungannya.
    Semoga sukses untuk Anda!

    Balas

  51. syahril
    Feb 01, 2010 @ 05:45:39

    semoga Allah selalu memberikan rahmatnya kepada kita semua khususnya bagi mereka yang selalu mencari Ridho-Nya. salam kenal semoga tulisan2 bapak menjadi pencerahan bagi para pendidik. Amin

    Balas

  52. Amzar
    Feb 17, 2010 @ 07:53:01

    Congratulations to you as a very brilliant sight in the world of education, I believe if many people in Indonesia, especially educators who think of education as you will more easily enhanced. Many of the comments in your blog is brilliant and should be taken as guidelines. Although I am in Malaysia, I always read the views and comments in your blog and in my opinion you give opinion based on your own experience and observation and are the best actually. My view education will only be developed if teachers themselves who want to change.

    Amzar,
    Kuala Lumpur,Malaysia

    Balas

    • Satria
      Apr 01, 2010 @ 03:31:31

      Thanks Amzar. I’ve ben travelling to many schools in Malaysia and always envy the seriousness of the Malaysian govt to improve the quality of education there. You are lucky! 🙂

      Balas

  53. atik
    Feb 28, 2010 @ 05:25:43

    assalamualaikum.. salam kenal pak satria, alhamdulillah bs ketemu this wonderful blog ^_^

    Balas

  54. handikas
    Mar 11, 2010 @ 09:14:38

    Salam kenal,
    Silahkan bersilaturahmi ke http://hndika.co.cc 🙂

    Balas

  55. Rabiati
    Apr 01, 2010 @ 02:59:32

    Great!!!! Saluyt banget dengan perjalanan hidup pak Satria, semoga kedepannya aq dpat mengikuti jejak mas Satria. Amin….
    Salam kenal!!! ^_^

    Balas

  56. Satria
    Apr 01, 2010 @ 03:32:15

    Salam kenal juga. Glad to inspire people. 🙂

    Balas

  57. RAMON D.WOWOR.
    Nov 09, 2010 @ 04:06:27

    Kiranya prestasi,amal dan karya bpk Satria utk bangsa Indonesia tetap langgeng.Negara harus bangga punya putra terbaik yg fokus dibidang pendidikan.Saya umat Katolik,yg jarang buka ..Alkitab,tapi seperti mendapat pencerahan saat baca tulisan tulisan bpk.Anda dianggap Gus Dur dunia pendidikan Indonesia.Salam kenal…

    Balas

  58. Shanty
    Jan 19, 2011 @ 17:33:29

    Salam kenal…

    So inspire me….two thumbs up for u Mr. Satria…
    sangat jarang ada org yg seperti bapak…
    melihat dunia pendidikan indonesia mmg sangat menyedihkan
    bahkan saya melihat dgn mata kepala sendiri bagaimana kualitas pendidik saat ini
    ngajar anak TK sambil duduk, gak ada empati benar2 tidak pakai HATI … bener2 pengen nangis melihatnya pak
    bukankah kualitas pendidikan jg ditentukan oleh pendidik itu sendiri??
    Seandainya semua guru seperti anda…bisa dibayangkan kualitas generasi penerus kita…!!!

    Terus berkarya ya pak…jangan pernah lelah berjuang demi kebaikan!!!

    Balas

  59. guntur
    Feb 28, 2011 @ 04:40:39

    salam kenal bapak…..intinya “bagaimana mengajarkan membaca” ane setuju pak. bukankah wahyu pertama yg diberikan muhammad saw juga membaca ya pak.

    Balas

  60. wiwiek afifah
    Jul 09, 2011 @ 16:08:41

    Assalamu’alaikum, salam kenal saya wiwiek Afifah di Jogjakarta, English Teacher.

    thanks

    Balas

  61. Novia purnama sari
    Jul 14, 2011 @ 15:08:57

    Salut.. pertma yg hrs wajib sy ucapkan tuk bpk, bru ini tanpa sengaja sy mnemukan org yg seide dgn misi sy. sy tggl dikota samarinda, sebagai pengajar sekligus ketua LKP yg hanya berfokus mengajarkan mbaca,mnulis dgn bercerita secara sehat untuk usia balita atau anak persiapan SD. saya berkpirah baru 11 thn dgn jumlah murid kurang lebih 4.500an yg menggunakan metode yg saya temukan ditahun ke-4. Saya ingin sekali berbagi ilmu, sekiranya bpk bisa memberi saya waktu. saya akan jelaskan metode saya tersebut. trmksih.

    Balas

  62. Novia purnama sari
    Jul 14, 2011 @ 15:18:23

    Saya berharap dapat membangun kerja sama dgan orng yg satu pemikiran seperti bpak. Ini no hp saya 085250284123.

    Balas

  63. odisumantri
    Des 23, 2011 @ 14:17:07

    Salam kenal Pak Satria Darma,..
    Blog Bapak sangat bagus, banyak mengupas tentang pendidikan di Indonesia.

    Salam silaturahmi, saya bisa sering-sering mampir ke sini pak.

    Balas

  64. ismaya sri hastati
    Feb 02, 2012 @ 09:23:02

    pak, makasih banyak, saya suka sekali membaca tulisan2 Bapak..
    terutama pembahasan tentang SBI. Saya sedang berencana melakukan penelitian untuk skripsi saya. Mudah-mudahan bisa saya ceritakan kepada Bapak setelah selesai. Insya Allah..
    sekian dulu,Pak.. Semoga Pak Dharma dan keluarga senantiasa sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Amiin..

    Balas

  65. ekohs
    Feb 28, 2013 @ 16:40:33

    STMIK STIKOM Balikpapan

    sptnya sy pernah lihat, tp lupa persisnya. daerah gn. pasir bukan? sy dulu pernah tinggal di balikpapan, pindah2 antara kawasan jl sumbawa (prapatan), dam (damai), dsk

    Balas

  66. ekohs
    Feb 28, 2013 @ 16:44:51

    …menjadikan masyarakat memiliki budaya membaca dengan programnya ”A Reading Nation”

    keren sekali, “A reading nation”. really llke it. dari situ lalu lahir “a writing nation” (atau apa ya kalimat yg pas, hehehe). negaranya para penulis. jd tidak perlu bingung menyoal rendahnya tingkat pertumbuhan judul buku baru setiap tahun di negeri ini. 🙂

    Balas

  67. Ganius Eka
    Jul 02, 2013 @ 15:29:27

    Salam hangat… pak Satria, saya suka sekali dengan artikel-artikel islam anda… sungguh sejalan dengan cara berpikir saya yang terus belajar tanpa menutup diri dari perkembangan pemikiran moderen yang semakin kritis. Terimakasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: