Seminar Pendidikan Karakter di Bintuni Part 4 : Transportasi, Listrik dan Telekomunikasi

Tinggalkan komentar

Papua jelas mengalami kemajuan meski tidak sepesat daerah-daerah lain. Saat ini sudah ada Aston dan Swiss Belhotel di Manokwari meski dengan jumlah kamar yg tidak begitu banyak. Itu artinya Manokwari sebagai ibukota Papua Barat sudah menjadi tujuan bisnis dan wisata yg menarik bagi jaringan hotel internasional. Papua sendiri sudah dimekarkan dg Propinsi Papua Barat sehingga sudah terbagi dalam dua propinsi dengan kota Jayapura tetap sbg ibukota Papua. Masalah utama utk kemajuan di Papua agar bisa mengejar propinsi lain masih tetap yaitu transportasi yg masih terbatas. Penerbangan dari dan ke Manokwari masih sangat terbatas dan tentu saja lebih mahal. Sbg contoh, harga tiket Manokwari – Balikpapan masih 1,5 jt lebih. Padahal Jakarta – Balikpapan kadang hanya 400 rb. Jadi mendatangkan tenaga ahli ke Papua bakal mahal di ongkos disamping harga-harga komoditas memang lebih mahal drpd daerah lain. Di distrik Bintuni tertentu harga bensin 10 ribu/liter sehingga biaya transportasi memang menggila. Sewa mobil dr Manokwari ke Bintuni biayanya 3 juta rupiah sekali jalan dan sama dg sewa mobil Avanza sebulan di Surabaya.
Padahal Papua membutuhkan banyak tenaga profesional utk memajukan daerahnya, termasuk guru profesional.
Lagi

Iklan

Seminar Pendidikan Karakter di Bintuni Part 3 : Dogs rule the street

1 Komentar

Salah satu nasihat yg sering saya dengar tentang ‘how to survive in Papua’ adalah agar kita berhati-hati dalam mengendarai kendaraan bermotor agar tidak menabrak binatang piaraan babi. Jika itu terjadi maka itu akan jadi malapetaka karena kita akan didenda sangat besar oleh pemiliknya, bahkan lebih besar berkali-kali lipat daripada harga babi di pasaran. Alasannya babi itu bisa beranak pinak dan dengan kematian babi itu maka hilanglah kesempatan si pemilik utk memiliki keturunan dari almarhum (babi) tersebut. Si almarhum (babi) ini dalam kondisi yg sedang berahi dan subur-suburnya. Bayangkan berapa banyak anak yg bisa dihasilkannya dan berapa banyak cucu-cucunya dalam jangka waktu tidak terlalu lama. Dan semua gambaran indah ttg keluarga besar babi yg berbahagia dg anak dan cucunya tersebut lenyap begitu saja karena ditabrak sampai mati oleh kita the very careless and cruel driver.
Jadi kita harus bayar ganti rugi dari hilangnya kesempatan utk memiliki the pig kingdom tersebut sampai belasan jutaan rupiah agar tidak sampai terjadi sesuatu pada kita. Saya sudah melihat sendiri penduduk asli Papua membawa-bawa busur dan lengkap dg anak panahnya yg ukurannya ekstra besar. Nampaknya kalau busurnya ditarik kencang maka anak panahnya bisa lari dua hari dua malam mencari kita kalau tidak mau bayar ganti rugi. 😀 Tra bisa! Tabrak babi mesti bayar, or else… .
Lagi

Seminar Pendidikan Karakter di Bintuni Part 2: Daun Gatal dan Pelajaran ttg Karakter dari Mesakh

1 Komentar

Daun Gatal. Dok. pribadi

Ada banyak hal menarik yg saya peroleh dari kunjungan ke Bintuni ini. Salah satunya adalah tentang Daun Gatal (foto terlampir). Saya sudah bertanya-tanya tapi tak ada yg tahu nama Latinnya. Nanti akan saya cek di internet kalau sudah sempat. Daun Gatal ini semacam tanaman perdu yg nampaknya hanya tumbuh di Papua tapi sangat populer sebagai obat anti capek. Haah…?! Ya, daun yg memang sesuai dg namanya ini sangat gatal kalau tersentuh kulit kita tapi biasa dipakai untuk menghilangkan capek-capek bagi penduduk Papua.

Bagaimana caranya? Ternyata hanya dengan diusap-usapkan ke bagian tubuh yg capek. Bahkan bisa juga dg sekedar menempelkan dan mengetuk-ngetukkan ke permukaan kulit kita.
Lagi

Seminar Pendidikan Karakter di Bintuni

Tinggalkan komentar

Acara seminar pendidikan karakter di Bintuni kemarin (22/9/11) yg diselenggarakan oleh British Council dimulai pd sekitar pukul 9:30 dan selesai pada pukul 17:00. Peserta yg terdiri dari para kepala sekolah, pengawas, guru, dan komite sekolah bertahan tanpa menunjukkan kelelahan atau pun kebosanan mengikuti acara tsb. Sungguh mengagumkan! Sementara di banyak tempat sy melihat banyak peserta yg sudah gelisah pada sesi setelah makan siang. Nampaknya peserta memang menikmati presentasi demi presentasi yg disampaikan.

Seminar ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni, Drg Alfons Manibui DESS, dan bahkan beliau memberikan materi presentasi yg dibawakannya selama 2 jam lebih! Materinya berisi paparan gambaran lengkap ttg kondisi pendidikan di Teluk Bintuni, masalah, tantangan, visi yg ingin dicapai, strateginya, programnya, mitra kerjanya, progresnya sampai kini, dan apa harapannya setelah beliau digantikan oleh bupati baru nanti. Beliau sudah menjabat dua kali sehingga tidak mungkin menjabat lagi dan beliau sungguh berharap agar apa yg telah dilakukannya dapat dilanjutkan oleh penerusnya dan tidak back to square one. Ini memang penyakit di mana-mana. Ketika kekuasaan berpindah maka kebijakan berubah total dan apa yg telah disusun dan dibangun pada masa sebelumnya ditinggalkan begitu saja sehingga seolah tidak pernah dilakukan. Hal ini tentu akan merugikan daerah dan warga. Tapi itu memang kebijakan politik yg umum di mana-mana. Itu sebabnya beliau memaparkan semua gambaran tsb agar stakeholders pendidikan di Bintuni dapat mempertahankan apa yg telah dicapai dan meneruskannya setelah beliau lengser nantinya. Paparan dan data yg disampaikan sangat menarik dan menurut saya pantas utk dijadikan bahan kajian akademik khususnya bagi yg studi magister di bidang manajemen pendidikan. Saya sendiri terpaku mendengarkan pemaparan beliau yg disampaikan selama dua jam delapan belas menit tsb (direkam oleh Pakde Darsono). Ada banyak hal menarik yg disampaikan oleh beliau dan fakta-fakta yg disampaikan menurut saya SANGAT PERLU dipahami oleh pejabat Kemdiknas di Senayan dalam membuat kebijakan. Saya sudah sering membaca data dan fakta ttg kondisi pendidikan di Papua melalui media tapi ini data langsung yg disampaikan secara terbuka oleh bupatinya langsung. Bagi saya ini adalah informasi yg sangat berharga karena langka. Saya bersyukur bisa hadir di acara yg luar biasa ini. Apa yg telah dicapai oleh beliau selama dua kali menjabat sungguh fenomenal jika dilihat dari kondisi awalnya. (Saya pikir Pak Alfons Manibui ini sangat pantas utk menjadi gubernur Papua Barat. Beliau seorang yg visioner, cerdas, sangat dekat dg warganya dan terbuka).
Lagi

My Travel to Papua

Tinggalkan komentar

Roda pesawat Batavia yg saya tumpangi mendarat di landasan bandara Rendani Manokwari pada pukul 06:45 WIT. Setengah jam terlambat dari jadwal. Hampir semua penerbangan ke Papua dilakukan tengah malam atau sangat pagi. Saya sendiri naik pesawat jam 03:30 WITA dari Bandara Hasanuddin Makassar. Saya meninggalkan hotel sekitar jam 01:00 menuju bandara yg cukup jauh dari kota dan itu artinya saya tidak tidur semalaman! Untungnya saya sempat tertidur sekitar 1 jam di pesawat.

Ini memang perjalanan pertama saya ke Papua. Selama ini berkali-kali saya gagal datang ke Papua meski telah terjadwal. Kali ini saya diundang oleh ‘Pakde’ Sudarsono yg dulu pernah bekerja bersama saya di Sampoerna Foundation. Tak lama kemudian ia keluar dan bekerja di British Council Bintuni, Papua. Ialah yg mengundang saya utk menjadi pembicara seminar ttg Pendidikan Karakter di Bintuni sekarang ini. Bintuni sendiri masih berjarak 1 jam perjalanan pesawat dengan Susi Air dari Manokwari atau kalau suka perjalanan darat bisa ditempuh dalam 8 jam masuk hutan dg kondisi jalan yg buruk. Tapi itu kata Pak Leo, dosen Uncen yg akan jadi pembicara juga dan sudah menginap semalam di Manokwari. Kami berdua yg akan mengisi acara seminar Pendidikan Karakter di Bintuni. Untungnya saya sudah memperoleh banyak materi dari Pak Martadi, dosen Unesa yg memang menangani proyek pendidikan karakter dari Kemdiknas. Right from the first hand and right from the expert!
Lagi