Dear all.
Ini tulisan saya setahun yang lalu. You might want to enjoy it.
Salam
Satria

SAKSI JEHOVAH DI RUANG TAMU SAYA

Hari ini saya dapat dua orang tamu istimewa. Istimewa karena mereka adalah misionaris dan lebih istimewa lagi karena mereka masih begitu muda. Salah satunya bernama Kolin masih remaja, atau baru beranjak dewasa dan satunya, yang bernama Andre, bahkan baru berusia 12 tahun.
Baru berusia 12 tahun dan dia sudah dilatih untuk menjadi seorang ‘da;i’! Bukti bahwa kaderisasi da’i di agama Nasrani memang tidak main-main. Mereka berdua adalah ‘witness’, sebutan bagi misionaris dari Saksi Jehovah. Bagi Anda yang awam, Saksi Jehovah adalah pecahan atau aliran dalam agama Nasrani yang berbeda dengan Protestan, Katolik,Advent, Mormon, dan aliran lainnya. Saksi Jehovah sangatlah gigih dalam mewartakan kebenaran ajaran mereka bahkan pada sesama Nasrani. Mereka
telah melatih kader-kader mereka sejak begitu kecil untuk menjadi ‘witnes’, alias ‘saksi’ kebenaran ajaran mereka. Andre yang baru berusia 12 tahun pun telah diminta untuk mencari pengalaman langsung di lapangan. Dan pagi itu mereka datang ke rumah saya.

Dengan sopan mereka membuka pembicaraan dengan mengatakan bahwa mereka bukan ‘sales’ yang hendak menawarkan barang. Dengan mudah saya menebak bahwa mereka tentulah ‘misionaris’ Nasrani, meskipun belum tahu dari aliran apa. Mereka punya ciri khas, penampilannya sopan, kata-katanya halus dan pakaiannya rapi dan bersetrika licin. Saya bahkan bisa mengetahuinya sejak mereka masuk. Itu sudah menjadi ‘brand image’ mereka (bandingkan dengan ‘brand image’ yang melekat pada ‘misionaris’ Islam).
Ketika saya persilakan untuk masuk dan duduk mereka langsung menyodorkan buletin tipis “Sedarlah” dan berkata bahwa mereka ingin berbagai informasi tentang masalah-masalah umum. Saya langsung tahu bahwa mereka dari Saksi Jehovah. Majalah “Sedarlah” adalah versi bahasa Indonesia dari buletin “Awake” terbitan Brooklyn, Newyork dan telah terbit bahkan sebelum saya lahir. Saya tidak tahu sejak kapan buletin tersebut dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia.
Bertemu dengan misionaris yang datang ke rumah sebenarnya suatu kesenangan bagi saya karena saya menikmati berdiskusi dengan mereka. Ahmed Deedat almarhum (semoga Allah merahmatinya) telah mengajarkan bagaimana menghadapi mereka. Sayang sekali saya jarang mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Jadi ini suatu kesempatan yang istimewa bagi saya.
Setelah menerimanya saya langsung bertanya pada mereka apakah mereka tahu bahwa buletin yang mereka tawarkan tersebut aslinya bernama “Awake”? Mereka ternyata tahu karena memang ada penjelasannya di buletin tersebut. Saya kemudian menyampaikan bahwa saya pernah membaca
artikel di buletin “Awake” terbitan tahun 1957. Mereka tentu heran.
Mereka kemudian menjelaskan bahwa buletin “Awake” itu terbitan New York yang saya jawab ‘Ya, di daerah Broolyn.” Mereka menjadi lebih heran.

Saya kemudian masuk ke kamar dan mengambil buku berjudul “The Choice” yang merupakan kumpulan tulisan Ahmed Deedat dan menunjukkan kopi artikel “Awake” pada tanggal 8 September 1957. Judul artikel tersebutadalah “50.000 Errors in Bible” Saya kemudian menjelaskan bahwa pada artikel “Awake” tersebut Saksi Jehovah menyatakan bahwa ada 50.000 kesalahan dalam Alkitab mereka sehingga perlu direvisi. Revisi itu dilakukan pada tahun 1971 oleh lima puluhan sarjana dan ahli AlKitab paling top pada masa itu sehingga muncullah Revised Standard Version 1971 yang merupakan revisi dari RSV 1952. Tapi untuk versi Indonesianya baru diterjemahkan pada tahun 1974
menjadi ALKITAB yang diterima dan diakui oleh Konperensi Waligereja Indonesia. Saya memiliki sebuah AlKitab hadiah dari seorang teman.

Mereka memeriksa Alkitab mereka dan membenarkan.
Kami kemudian ngobrol dan saya lebih banyak mendengar. Saya ingin tahu apa sebenarnya yang hendak disampaikan. Seperti yang saya duga, mereka sangat halus dan tidak main tembak langsung. Mereka hanya ingin menyampaikan buletin dan brosur, hanya itu. Mereka tidak menjawab pertanyaan-pertanya an saya yang bakal menimbulkan adu argumentasi.
Mereka bahkan tidak tertarik ketika saya tunjukkan beberapa kaset video dan buku tentang diskusi antara Islam dan Saksi Jehovah. Nampaknya mereka sudah dilatih untuk tidak meladeni diskusi ataupun pembicaraan yang lebih jauh mengenai kepercayaan mereka.
Tapi mereka akhirnya bercerita banyak tentang kepercayaan mereka dan bedanya dengan aliran lain seperti Protestan dan Katolik. Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, melainkan hanya Nabi, yang artinya sama dengan Islam. Mereka juga tidak minum minuman keras dan makan daging babi, yang sekali lagi sama dengan kepercayaan dalam Islam.
Mereka juga menganggap bahwa 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus dan Natal sebenarnya pada bulan Oktober. Mereka bahkan dengan lancar menjelaskan sejarah tentang terjadinya kekeliruan penetapan Natal tersebut yang merujuk ke tradisi pagan kerajaan Romawi yang menyembah dewa matahari pada waktu itu.
Si Andre yang masih anak-anak tersebut lantas bercerita tentang beberapa anekdot tentang perlawanan dan tentangan terhadap apa yang mereka lakukan tapi kemudian menjadi berbalik menjadi simpati karena mereka mampu meyakinkan orang-orang tersebut. Seorang anak berumur 12
tahun bercerita pada saya tentang nilai-nilai yang diyakini dan perjuangannya! Amazing! Sementara itu anak saya yang berusia sama dengannya sedang bertengkar dengan adiknya karena berebut main game di komputer.

Tidak ada yang baru bagi saya dari apa yang mereka sampaikan dan bagikan karena saya memang pernah membaca tentang kepercayaan mereka.
Tapi saya dengan gembira mendengarkan mereka karena beberapa hal.
Pertama, pagi itu saya kebetulan tidak sibuk dan jarang ada misionaris datang kerumah saya. Kedua, saya salut dan hormat pada mereka yang mampu membuat dua remaja ini bersedia untuk berkeliling menyampaikan ‘dakwah’ mereka. Ketiga, saya juga kagum pada kehalusan dan kesopanan mereka dalam menyampaikan ‘dakwah’ mereka. ‘Da’i’ canggih seperti initentunya tidak mudah dan butuh pelatihan yang hebat untuk mencetaknya.
Militansi seperti ini membuat saya iri. Seandainya saja kita bisa mencetak kader-kader “Saksi Islam” yang bukan hanya berdedikasi tinggi tapi juga memiliki kehalusan, kesopanan, dan kecanggihan dalam menyampaikan pesan dan berdiskusi semacam ini pada usia yang begitu muda. Kita punya ‘produk’ yang jauh lebih baik ( dan kita anggap sempurna) dan universal tapi ‘marketer’ dan ‘human relation staff’ yang payah. Mereka, para ‘marketer’ Islam tersebut kalau boleh disebut begitu, bukannya menjelaskan ‘produk’ mereka, tapi justru meminta-minta sumbangan ‘in the name of Islam’. Jadi sebenarnya kita tidak punya ‘marketer’ seperti mereka yang ‘memasarkan’ ke luar. Da’i kita sibuk
meladeni ‘orang dalam’ dan tidak ada yang bertugas untuk ‘memasarkannya’ ke luar seperti yang dilakukan oleh para misionaris.
Padahal sebenarnya ‘Balighu anni walau ayah’, Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat’ demikian anjuran Rasulullah. Kita terlalu yakin dengan kehebatan ‘produk’ kita sehingga merasa tidak perlu untuk ‘memasarkannya’ . The product speaks for itself, alasan kita.

Apakah kita tidak bisa mencetak kader yang militan? Tentu saja bisa. Islam terkenal dengan militansi kadernya. Sayang sekali bahwa militansi tersebut belum diikuti dengan kecanggihan dalam menjelaskan produk. Sebaliknya justru banyak sekali umat Islam yang mendatangi rumah-rumah
orang Nasrani, bukannya untuk menjelaskan tentang kebenaran Islam tapi justru untuk minta sumbangan! Sebuah ironi. Bisa dibayangkan ‘brand image’ yang muncul dari ‘campaign’ macam begitu.
Saya juga lantas teringat betapa kita menghancurkan sesama Islam karena perbedaan keyakinan seperti yang terjadi pada orang-orang Ahmadiyah. Benarkah Islam mengajarkan hal ini? Bukankah Rasul sendiri pernah menyatakan bahwa Islam akan terpecah menjadi 73 bagian dan hanya 1
bagian yang benar, yaitu yang menegakkan AlQur’an dan hadist. Hanya itu. Tidak ada anjuran ataupun perintah Rasul agar mereka yang merasa sebagai bagian yang benar itu menghantam, menghakimi dan menghabisi 72 golongan lainnya yang salah dan tersesat.
Kepada umat beragama lain kita tidak kurang kerasnya. Semakin hari semakin banyak kita dengar keluhan dari umat lain yang kesulitan untuk mendirikan rumah ibadah maupun yang gerejanya dibongkar karena tidak ada ijinnya. Sebagian dari kita merasa bahwa menghalang-halangi umat
lain untuk beribadah sesuai dengan agamanya adalah suatu kebajikan.
Toleransi seolah bukan ruh atau spirit Islam.

Ironi yang paling menyesakkan dada adalah digunakannya nama Islam oleh para teroris untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Bagaimana mungkin kita bisa bilang pada umat lain bahwa Islam adalah agama yang membawa kebenaran dan keselamatan jika ternyata ada umatnya yang justru melakukan terorisme dan pembunuhan massal pada orang-orang yang tidak bersalah dan menganggapnya sebagai ‘ajaran suci’ agama Islam dan merasa berhak untuk masuk surga dan bertemu dengan para bidadari! Ini bukan hanya ‘bad campaign’ tapi sudah masuk dalam kategori pengkhianatan perjuangan Islam dan pelakunya patut dipancung kepalanya. Bayangkan seandainya pada jaman Rasulullah ada oknum yang mengaku beragama Islam dan membunuhi anak-anak, perempuan, dan orang tua di rumah-rumah mereka bukan pada saat perang dan dengan bangganya mengatakan,”Ya Rasulullah, lihatlah pedangku yang berlumuran darah ini.Saya telah membunuhi mereka yang bukan Islam pada saat mereka lengah di rumah-rumah mereka. Kuhabisi mereka dengan cepat bahkan tanpa mereka sadari. Saya merasa layak untuk masuk ke surga dan patut mendapat pelayanan beberapa bidadari untuk ganjaran perbuatan saya tersebut.” Saya bisa bayangkan betapa marahnya Rasulullah pada oknum yang mencemarkan ajaran Islam seperti ini. Hukum qisas pasti akan dijatuhkan padanya.

Seandainya kita bisa belajar dari ini semua.

Balikpapan, 4 Desember 2005
Satria Dharma

About these ads