Ketertinggalan di berbagai bidang di era globalisasi dibandingkan negara-negara tetangga rupanya menyebabkan pemerintah terdorong untuk memacu diri untuk memiliki standar internasional. Sektor pendidikan termasuk yang didorong untuk berstandar internasional. Dorongan itu bahkan dicantumkan di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. “.
Dengan berbekal keinginan kuat dan ayat itu maka Depdiknas segera mengeluarkan program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang proyek rintisannya saja telah menyertakan ratusan SMP dan SMA di hampir semua Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia dengan menggelontorkan dana ratusan milyar meski peraturan pemerintah yang mengatur pengelolaan seperti itu belum ada. Ini proyek prestisius karena akan dibiayai oleh Pemerintah Pusat 50%, Pemerintah Propinsi 30 %, dan Pemerintah Kabupaten/Kota 20%. Padahal, untuk setiap sekolahnya saja Pemerintah Pusat mengeluarkan 300 juta rupiah setiap tahun paling tidak selama 3 (tiga) tahun dalam masa rintisan tersebut. Siapa saja yang nantinya akan masuk ke sekolah SBI ini? Siswa yang bisa masuk ke sekolah tersebut, adalah mereka yang dianggap sebagai bibit-bibit unggul yang telah diseleksi ketat dan yang akan diperlakukan secara khusus. Jumlah siswa di kelas akan dibatasi antara 24-30 per kelas. Kegiatan belajar mengajarnya akan menggunakan bilingual. Pada tahun pertama bahasa pengantar yang digunakan 25 persen bahasa Inggris 75 persen bahasa Indonesia. Pada tahun kedua bahasa pengantarnya masing-masing 50 persen untuk Inggris dan Indonesia. Pada tahun ketiga bahasa pengantar menggunakan 75 persen bahasa Inggris dan 25 persen bahasa Indonesia. Karena dianggap sebagai bibit unggul maka siswa diprioritaskan untuk belajar ilmu eksakta dan teknologi informasi dan komunikasi (ICT/Information and Communication Technology). Karenanya, siswa kelas khusus ini diberi fasilitas belajar tambahan berupa komputer dengan sambungan internet. Apa kurikulum yang akan diberikan kepada mereka agar ‘berstandar internasional’? Tidak jelas betul karena hanya disebutkan rumusnya adalah SNP + X. SNP adalah Standar Nasional Pendidikan sedangkan X hanya disebutkan sebagai penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, pendalaman, melalui adaptasi atau adopsi terhadap standar pendidikan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional umpamanya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, UNESCO. Berapa dana yang harus dikeluarkan oleh orang tua yang ‘ngebet’ dengan program ini? Masih akan diatur. Tapi yang jelas orang tua harus merogoh koceknya dalam-dalam dan hanya orang tua yang kaya saja yang bisa masuk. Ini adalah program prestisius sehingga biayanya memang harus mahal!
Tapi apakah SBI ini akan membuat kita akan dapat membuat bangsa kita mengejar ketertinggalannya dibandingkan negara-negara lain? Tunggu dulu. Jika kita cermati ternyata program SBI ini mengandung banyak kekurangan mencolok. Alih-alih menghasilkan kualitas bertaraf internasional kualitas pendidikan kita justru akan terjun bebas. Mengapa? Ada beberapa kelemahan mendasar dari program SBI ini.
Pertama, program ini nampaknya tidak didahului dengan riset yang mendalam dan konsepnya lemah. Dengan menyatakan bahwa SBI = SNP + X, maka sebenarnya konsep SBI ini tidak memiliki bentuk dan arah yang jelas. Tidak jelas apa yang diperkuat, diperkaya, dikembangkan, diperdalam, dll tersebut. Jika konsep ini secara jelas menyatakan mengadopsi atau mengadaptasi standar pendidikan internasional seperti Cambridge IGCSE atau IB, umpamanya, maka akan lebih jelas kemana arah dari program ini. Dengan memasukkan TOEFL/TOEIC, ISO dan UNESCO sebagai “X” juga menunjukkan bahwa Dikdasmen juga tidak begitu paham dengan apa yang ia maksud dengan “X” tersebut. Atau mungkin ini sebuah strategi agar target yang hendak dikejar menjadi longgar dan sulit untuk diukur?
Sekolah-sekolah yang mengadopsi atau berkiblat pada standar internasional seperti Cambridge atau International Baccalaureate (IB) adalah sekolah-sekolah yang memang dirancang untuk mempersiapkan siswa-siswa mereka agar dapat melanjutkan ke luar negeri. Dengan sistem kurikulum tersebut siswa mereka memang dipersiapkan untuk dapat belajar di luar negeri. Mereka bahkan tidak perlu mengikuti Ujian Nasional karena mereka memang tidak berencana untuk meneruskan pendidikan mereka di universitas di Indonesia. Nah, dengan demikian, apakah sebenarnya yang hendak dituju dengan program SBI ini? Jika yang hendak dituju adalah peningkatan kualitas pembelajaran dan output pendidikan maka mengadopsi IB ataupun mengikutsertakan siswa dalam ujian Cambridge bukanlah jawabannya. Ujian Cambridge diperuntukkan bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Meski demikian nilai yang tinggi dalam ujian Cambridge juga bukan jaminan bahwa siswa dapat diterima di perguruan tinggi di luar negeri. Nilai ujian Cambridge hanya akan memudahkan siswa untuk dapat diterima di perti LN karena nilai ujian Cambridge diakui oleh beberapa negara. Permasalahannya adalah berapa banyak dari siswa kita sebenarnya yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri? Berapa persenkah dari lulusan sekolah publik kita yang benar-benar ingin dan mampu, baik secara finansial maupun intelektual, untuk melanjutkan studinya ke luar negeri? Jika Depdiknas tidak memiliki data statistik tentang hal ini mengapa tiba-tiba timbul kebijakan untuk mengubah sekolah-sekolah kita menjadi SBI yang berkiblat pada Cambridge? Bukankah ini suatu pengorbanan yang sangat sia-sia yang bakal menelantarkan siswa-siswa lain yang tidak akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri? Untuk apa kita mengerahkan seluruh energi dan kapasitas kita membawa siswa menuju ke sistem Cambridge,umpamanya, jika sebenarnya tujuan yang hendak dituju bukanlah kesana? Ini adalah contoh tujuan pendidikan yang sangat misleading. Jelas sekali bahwa tidak mungkin sekolah harus mengikuti dua kiblat, yaitu UNAS dan Cambridge umpamanya, karena akan sangat menyulitkan bagi sekolah maupun murid untuk mengikuti dua kiblat tersebut. Beberapa sekolah National Plus yang selama ini memang dirancang untuk mengikuti dua kiblat tersebut mengakui bahwa sangat sulit bagi mereka untuk mengikuti dua kiblat tersebut sekaligus.
Kedua, Dikdasmen membuat rumusan 4 model pembinaan SBI tersebut yaitu : (1) Model Sekolah Baru (Newly Developed), (2) Model Pengembangan pada Sekolah yang Telah Ada (Existing School), (3) Model Terpadu, dan (4) Model Kemitraan. Padahal kalau dilihat sebenarnya hanya ada dua model yaitu Model (1) Model Sekolah Baru dan Model (2) Model Sekolah yang Telah Ada. Dua lainnya hanyalah teknis pelaksanaannya saja. Dari dua model tersebut Dikdasmen sebenarnya hanya melakukan satu model rintisan yaitu Model (2) Model Pengembangan pada Sekolah yang Telah Ada (existing School) dan tidak memiliki atau berusaha untuk membuat model (1) Model Sekolah Baru. Anehnya, buku Panduan Penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang dikeluarkan sebenarnya lebih mengacu pada Model (1) padahal yang dikembangkan saat ini semua adalah Model (2). Jelas bahwa sekolah yang ada tidak akan mungkin bisa memenuhi kriteria untuk menjadi sekolah SBI karena acuan yang dikeluarkan sebenarnya ditujukan bagi pendirian sekolah baru atau Model (1). Sebagai contoh, jika sekolah yang ada sekarang ini diminta untuk memiliki guru berkategori hard science seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi (dan nantinya diharapkan kategori soft science-nya juga menyusul) menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, atau memiliki tanah dengan luas minimal 15.000 m, dll persyaratan seperti dalam buku Panduan, maka jelas itu tidak akan mungkin dapat dipenuhi oleh sekolah yang ada. Ini ibarat meminta kereta api untuk berjalan di jalan tol!
Sebagai ilustrasi, sedangkan guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah ‘favorit’ kita saja hanya sedikit yang memiliki TOEFL > 500, apalagi jika itu dipersyaratkan bagi guru-guru mata pelajaran hard science.
Maka itu jelas tidak mungkin. Ini berarti Dikdasmen tidak mampu untuk menerjemahkan model yang ditetapkannya sendiri sehingga membuat Dikdasmen berresiko gagal total dalam mencapai tujuannya.
Ketiga, konsep ini berangkat dari asumsi yang salah tentang penguasaan bhs Inggris sebagai bahasa pengantar dan hubungannya dengan nilai TOEFL. Penggagas mengasumsikan bahwa untuk dapat mengajar hard science dalam pengantar bahasa Inggris maka guru harus memiliki TOEFL> 500. Padahal tidak ada hubungan antara nilai TOEFL dengan kemampuan mengajar hard science dalam bhs Inggris. Skor TOEFL yang tinggi belum menjamin kefasihan dan kemampuan orang dalam menyampaikan gagasan dalam bahasa Inggris. Banyak orang yang memiliki nilai TOEFL<500 yang lebih fasih berbahasa Inggris dibandingkan orang yang memiliki nilai TOEFL > 500 . Singkatnya, menjadikan nilai TOEFL sebagai patokan keberhasilan pengajaran hard science bertaraf internasional adalah asumsi yang keliru. TOEFL lebih cenderung mengukur kompetensi seseorang, padahal yang dibutuhkan guru sekolah bilingual adalah performance- nya, dan performance ini banyak dipengaruhi faktor-faktor non-linguistic. TOEFL bukanlah ukuran kompetensi pedagogic.
Keempat, penyusun konsep ini nampaknya juga tidak paham bahwa tidak semua orang (terutama guru PNS!) bisa ‘dijadikan’ fasih berbahasa Inggris (apalagi mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris) meskipun orang tersebut diminta untuk tinggal dan hidup di negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Sebagai ilustrasi, bahkan masih banyak guru kita di pelbagai daerah yang belum mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan fasih dalam mengajar! Sebagian dari guru kita di tanah air ini masih menggunakan bahasa daerahnya dalam mengajar meski tinggal dan hidup di lingkungan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Hal ini menunjukkan bahwa adalah tidak mungkin ‘menyulap’ para guru hard science agar dapat fasih berbahasa Inggris (apalagi memperoleh nilai TOEFL>500 seperti persyaratan dalam buku Panduan Penyelenggaran Rintisan SBI tersebut) meski mereka dikursuskan di sekolah bahasa Inggris terbaik.
Kelima, dengan penekanan pada penggunaan bahasa Inggris sebagai medium of instruction di kelas oleh guru-guru yang baik kemampuan penguasaan materi, pedagogi, apalagi masih struggling in English jelas akan membuat proses KBM menjadi kacau balau. Program ini jelas merupakan eksperimen yang berresiko tinggi yang belum pernah diteliti dan dikaji secara mendalam dampaknya tapi sudah dilakukan di ratusan sekolah yang sebetulnya merupakan sekolah-sekolah berstandar “A”. Tidak perlu terlalu cerdas untuk melihat betapa beresikonya program ini. Ratusan sekolah-sekolah berstatus Mandiri yang diikutkan program ini berresiko besar untuk mengalami kekacauan dalam proses KBM-nya. Berharap target yang tinggi dari guru yang tidak kompeten (atau kompetensinya merosot karena harus menggunakan bahasa asing) adalah kesalahan yang sangat fatal. Resiko kegagalannya sangat besar untuk ditanggung. Program SBI ini bakal menghancurkan best practices dalam proses KBM yang selama ini telah dimiliki oleh sekolah-sekolah Mandiri yang dianggap telah mencapai standar SNP tersebut.
Keenam, kritik paling mendasar barangkali adalah kesalahan asumsi dari penggagas sekolah ini bahwa Sekolah BERTARAF internasional itu harus diajarkan dalam bhs asing (Inggris khususnya) dengan menggunakan media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD . Padahal negara-negara maju seperti Jepang, Perancis, Finlandia, Jerman, Korea, Italia, dll. tidak perlu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar jika ingin menjadikan sekolah mereka BERTARAF internasional. Sekolah kita pun sebenarnya tidak perlu harus mengajarkan materi hard science dalam bhs Inggris supaya dapat dianggap bertaraf internasional. Kurikulumnyalah yang harus bertaraf internasional atau dalam kata lain tidak dibawah kualitas kurikulum negara lain yang sudah maju. Jadi fokus kita adalah pada penguatan kurikulumnya. Penguatan kemampuan berbahasa Inggris bertaraf internasional bisa dilakukan secara simultan dengan memberi pelatihan terus menerus kepada guru-guru bhs Inggris yang mempunyai beban untuk meingkatkan kompetensi siswa dalam berbahasa Inggris. Selama ini siswa-siswa kita yang melanjutkan pendidikannya di luar negeri tidak pernah diminta untuk mempunyai persyaratan berstandar Cambridge, umpamanya. Jika mereka memiliki tingkat penguasaan yang tinggi dalam bidang studi dan mereka mampu memiliki kompetensi berbahasa Inggris yang baik maka mereka selalu bisa masuk ke perti di luar negeri. Bukankah selama ini mereka tidak pernah ditest masuk dengan menggunakan materi Matematika, Fisika, kimia, Biologi, dll dalam bhs Inggris? Lantas mengapa mereka harus dilatih sejak awal untuk memahami materi bidang studi tersebut dalam bhs Inggris (oleh guru yang tidak memiliki kompetensi memadai untuk itu)? Cara yang lebih mudah sebenarnya adalah mengadopsi GCSE sebagai ujian bagi siswa-yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri tanpa harus mengorbankan begitu banyak sistem yang telah berlaku. Penekanan pada penggunaan piranti media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD juga menyesatkan seolah tanpa itu maka sebuah sekolah tidak bisa bertaraf internasional. Sebagian besar sekolah hebat di Amerika masih menggunakan kapur dan tidak mensyaratkan media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD sebagai prasyarat kualitas pendidikan mereka. Program ini nampaknya lebih mementingkan alat ketimbang proses. Padahal pendidikan adalah lebih ke masalah proses ketimbang alat.
Ketujuh, kesalahan mendasar lain adalah asumsi dan anggapan bahwa Sekolah Bertaraf Internasional hanyalah bagi siswa yang memiliki standar kecerdasan tertentu. Kurikulum yang bertaraf internasional dianggap tidak bisa diterapkan pada siswa yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata. Ini juga mengasumsikan bahwa SNP (Standar Nasional Pendidikan) hanyalah bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan ‘rata-rata’. Ini adalah asumsi yang berbahaya dan secara tidak sadar telah ‘mengkhianati’ SNP itu sendiri karena menganggapnya sebagai ‘tidak layak’ bagi siswa-siswa cerdas Indonesia. Lantas untuk apa Standar Nasional Pendidikan jika dianggap belum mampu untuk memberikan kualitas yang setara dengan standar internasional? Ini juga paham yang diskriminatif dan eksklusif dalam pendidikan dan menganggap kecerdasan intelektual yang menonjol merupakan segala-galanya sehingga perlu mendapat perhatian dan fasilitas lebih daripada siswa yang tidak memilikinya.
Kedelapan, dengan program SBI ini Depdiknas memberikan persepsi yang keliru kepada para orang tua, siswa, dan masyarakat bahwa sekolah-sekolah yang ditunjuknya menjadi sekolah Rintisan tersebut adalah sekolah yang ‘akan’ menjadi Sekolah Bertaraf Internasional dengan berbagai kelebihannya. Padahal kemungkinan tersebut tidak akan dapat dicapai atau bahkan akan menghancurkan kualitas sekolah yang ada. Dan ini adalah sama dengan menanam “bom waktu’. Banyak sekolah yang jelas-jelas hendak memberi persepsi kepada masyarakat bahwa sekolah mereka telah menjadi Sekolah Bertaraf Internasional dan bukan sekedar ‘rintisan’ lagi. Suatu usaha pembodohan dan pengelabuan dari sekolah kepada masyarakat.
Kembali pada pertanyaan filosofis, apa sebenarnya yang hendak dituju dengan program SBI ini? Jika yang hendak dituju adalah peningkatan kualitas pembelajaran dan output pendidikan maka mengadopsi atau berkiblat pada sistem ujian Cambridge ataupun IB bukanlah jawabannya. Bahkan sebenarnya menggerakkan semua potensi terbaik pendidikan di Indonesia untuk berkiblat ke sistem Cambridge adalah sebuah pengkhianatan terhadap tujuan pendidikan nasional itu sendiri. Di negara-negara maju seperti Singapura, Australia dan New Zealand, pemerintah tidak membiarkan sistem pendidikan luar ataupun internasional macam Cambridge ataupun IB masuk dan digunakan dalam kurikulum sekolah mereka. Hanya sekolah yang benar-benar berstatus International School dengan siswa asing saja yang boleh mengadopsi
system pendidikan lain. Sedangkan semua sekolah harus menggunakan kurikulum dan system pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah karena mereka berpendapat bahwa pendidikan dirancang untuk mempersiapkan siswa untuk berbakti kepada negara dan berpedoman atau berkiblat pada system yang tidak dirancang untuk kepentingan bangsa dan negara adalah bertentangan dengan filosofi pendidikan mereka.
Mengingat betapa banyaknya kelemahan yang ada dari program prestisius ini dan besarnya resiko gagal yang dihadapinya, sudah selayaknya Depdiknas mengevaluasi diri dengan lebih membuka diri terhadap masukan dari masyarakat. Lebih baik mundur satu langkah ketimbang harus mengalami kegagalan total yang sudah nampak di depan mata tersebut. Mungkin formulasi kebijakan di Depdiknas (dalam hal seperti SBI ini) perlu melalui proses konsultasi pada publik atau stakeholders berkali-kali dan studi yang lebih mendalam dengan melibatkan lebih banyak publik, dan tidak sekedar memenuhi syarat minimal birokrasi. Perlu diingat bahwa masyarakatlah yang membiayai dan yang akan menjadi end-user dari produk ini.
Lantas bagaimana dengan UU Sisdiknas pasal 50 ayat (3) yang telah ‘terlanjur’ dipersepsikan harus mengadopsi kurikulum Cambridge dan IB tersebut? Ada dua alternatif untuk itu. Pertama, pasal tersebut perlu diamandemen dan disesuaikan bunyinya agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru, atau, kedua, merumuskan kembali apa yang disebut dengan ‘satuan pendidikan bertaraf internasional’ tersebut. Apa yang telah dilakukan oleh Depdiknas dengan program SBI ini harus dihentikan dan dirumuskan ulang. Jika tidak maka arah pendidikan nasonal kita akan semakin melenceng dari tujuan dan amanah bangsa dan negara kita.
Jakarta, 13 Juli 2007
Satria Dharma
Direktur The Centre for the Betterment of Education (CBE)




Mas Satria, saya melihatnya seperti ini:
1. Ini semata-mata masalah bisnis. Istilah kerennya diferensiasi. Ini muncul karena ada demand yang dipicu gencarnya impor pendidikan asing di negeri kita ini. Australia dengan tegas menetapkan Indonesia sebagai pasar eksport pendidikan mereka. Jadi para industrialis pendidikan di Indonesia menangkap peluang ini, dan mereka nampaknya juga berhasil melobi Diknas untuk memasukkan skema SBI ke dalam sistem pendidikan nasional.
2. Kurikulum asing Cambridge dan IB misalnya, menurut saya, tidak jelek pada dirinya. Contohlah IB. IB sangat menekankan pada muatan lokal. Guidence dari IB sendiri adalah panduan umum, yang harus dikembangkan oleh gurunya sendiri. Mereka malah akan sangat concern kalau muatan IB di Indonesia tidak sesuai dengan lokalitas Indonesia.
3. Namun masalahnya bukan di kurikulum, melainkan pemerataan pendidikan yang nampaknya makin tidak merata. SBI membuat kesenjangan yang makin melebar antara yang mampu, dan nanti keluar negeri, dengan yang tidak mampu. Saya sih gak lantas menyuruh melarang SBI, tapi Diknas nampaknya terlalu mudah memberikan label SBI. Apa maksudnya? Gak harus pake SBI kok kalau mau ngebagusin sekolah.
4. Pada akhirnya aku jadi berburuk sangka, kalau SBI itu hanya merek dagang saja, yang menjadi pembenaran untuk mengeruk uang lebih banyak dari orangtua murid.
4. Sangatlah sulit untuk menerapkan secara penuh standar Cambridge dan IB. Setahu saya yang dapat nilai bagus dari IB hanya ada satu sekolah, yaitu Sekolah Pelita Harapan Sentul (saya punya insider di situ). JIS juga mungkin, cuma saya gak tahu itu. Sisanya IB-IB an. Aku terus terang memang pengagum IB.
Tabek
Oleh: Oni Suryaman on September 21, 2007
at 11:27 am
pak, saya ninggal koment aja, mau baca :
panjang banget
Oleh: ILYAS AFSOH on Juli 7, 2009
at 2:04 am
saya baca sedikit, dan mulai ngerti maksudnya
Oleh: ILYAS AFSOH on Juli 7, 2009
at 2:09 am
maf pak mungkin maksud diknas mengadakan program tsb ‘pada mulanya’ utk meningkatkan daya saing output sekolah kita dg sekolah LN tapi….ya mngkin diknas salh strategi….!!!
Oleh: Dadan on Oktober 20, 2009
at 10:26 am
Halo Mas Satria, apa kabar?
Wah…anda memang benar-benar pengamat pendidikan ya. Tulisan-tulisan nya heboh banget lho. Bagus sekali.
Ok, semoga sukses selalu. Salam buat keluarga… Blog anda ini tak link di blog saya.
Wasalam,
Wuryanano
http://wuryanano.com/
Oleh: wuryanano on September 29, 2007
at 7:02 pm
sekolah bertaraf internasional atau sekolah model, ini memang agak riskan. karena telah mengalir berbagai kecemburuan di dalamnya. Mulai dari cemburu pada jatah anggaran, sampai pada kecemburuan terhadap perlakukan untuk para calon muridnya dan para calon guru sekolah bertaraf internasional ini. Dilansir, bahwa sekolah-sekolah unggulan akan menimbulkan efek psikologis tertentu bagi yang sekolah di sana (termasuk guru-gurunya) dan efek diskriminatif terhadap golongan tak mampu yang cerdasnya tak bisa diukur oleh nilai TOEFL. and.. thanks for your inspiration.
Oleh: ayu on Oktober 1, 2007
at 7:04 am
looks like another knee-jerk policy from indonesian policy maker. project (read :money) oriented, simplified, asbun (asal bunyi).
Oleh: redskin on Oktober 1, 2007
at 11:46 am
[...] Sekolah Bertaraf Internasional : Quo Vadiz? [...]
Oleh: http://satriadharma.wordpress.com/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/ « POENYA EKO on November 13, 2007
at 3:13 am
membaca tulisan pak satria, saya jadi ingat kunjungan di sebuah sekolah (Rintisan SBI katanya) di Pare-Pare SulSel baru-baru ini.
Komentar guru-guru emang asli deh. Antara lain, katanya, sebenarnya dengan situasi saat ini, mereka belum siap untuk menjadi sekolah rintisan seperti yang diharap. Wong guru merasa bahwa mereka pada akhirnya harus mengajar in English.
Again, kebijakan yg “irasionalkah namanya?” menjadikan guru yang korban. Saya pun banyak menerima keluhan masalah penyampaian konten matematika (dalam bhs Indonesia loh!), gimana lagi dalam bahasa Inggris.
Tantangan nyata pembelajaran matematika dalam bahasa Indonesia saja sudah cukup berat, gimana dalam bahasa Inggris.
Saya selalu tidak mengerti, kebijakan yang begitu membuang uang banyak dengan dampak negatif, kok diterima? kok dilakukan?????
Atau mungkin sudah banyak dampak positifnya yah?????
Oleh: Sitti Maesuri on November 15, 2007
at 3:13 am
Hallo Pak SatriaDharma. Tulisan anda bagus sekali.
Tapi salah seorang teman saya Budi Harijanto, pengurus SBI SMPN 1 Pandaan Jatim, mengatakan, “Alangkah lebih hebatnya seandainya pak Satria itu mau mengucapkan TERIMA KASIH pada siapapum yang telah mencuatkan ide SBI itu.
Oleh: bambang Harianto on November 24, 2007
at 1:34 pm
Hallo Pak SatriaDharma. Tulisan anda bagus sekali.
Tapi salah seorang teman saya Budi Harijanto, pengurus SBI SMPN 1 Pandaan Jatim, mengatakan, “Alangkah lebih hebatnya seandainya pak Satria itu mau mengucapkan TERIMA KASIH pada siapapum yang telah mencuatkan ide SBI itu. Sebab bagaimanapun mereka telah memikirkan kemajuan Indonesia walaupun menurut anda dari awal konsep nya salah.
Oleh: bambang Harianto on November 24, 2007
at 1:38 pm
Hallo, Pak Bambang Harianto.
Sampaikan pada teman Anda itu bahwa saya ngeri mendengar ‘excuse’ seperti ini. Jadi kita boleh bereksperimen apa pun, dengan konsep yang sesalah apa pun, dengan hasil yang seamburadul apa pun, dengan korban sebesar apa pun, dengan kerusakan separah apa pun, asal yang penting ‘telah memikirkan kemajuan Indonesia’? Itu adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab.
Siapa yang akan bertanggungjawab jika program ini gagal dan benar-benar justru membuat kualitas pendidikan di sekolah SBI merosot? Saya sudah tanyakan kemana-mana dan tak satu pun ada yang berani menyatakan berani bertanggungjawab atas konsep jika gagal ini karena faktanya konsep ini memang amburadul.
Lagipula setiap orang bisa saja mengklaim dirinya ‘memikirkan kemajuan Indonesia’. Sejarahlah yang akan membuktikan nantinya. Sayang sekali bahwa itu sudah terlambat.
Tetapi, bagaimana pun , terima kasih atas tanggapannya.
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on November 24, 2007
at 10:24 pm
Benar sekali Pak Satria. Ini memang masalah pertanggungjawaban. Bukan masalah berterimakasih atau tidak. Konsep SBI yang digagas depdiknas ini mempunyai tingkat kesalahan yang gila-gilaan dan sangat susah sekali dipertanggungjawabkan setelah menghabiskan milyaran uang rakyat untuk memanjakan ide salah kaprah tersebut. Sampai-sampai gak habis pikir kami memikirkannya: Bagaimana mereka itu bisa lulus doktor dan dapat profesor padahal kemampuan membuat kesalahan begitu gila-gilaan? Pendek kata, setelah penggagasnya memperoleh dana milyaran rupiah, uang rakyat itu akan terbuang percuma dan SBI akan tinggal namanya saja, seperti kata Anda, biarlah sejarah yang membuktikan…. Mengenai tulisan Anda, mostly are on the proper track, tapi panjangnya minta ampun karena bisa disingkat menjadi sepertiga saja.
Marilah kita berpikir simple tentang SBI: Bisa mencapai nilai TOEFL 600, itu sudah masuk wilayah internasional. Tapi kalau math, biology, physics, chemistry, sociology sepertinya mereka tak punya alat uji seperti English? Apa saya yang tidak tahu mungkin? TRus gimana ngujinya?
Tapi yang pasti: Agama, PPKN, ORKES, B. Ind. B. Ing. Math, bio, fis, kim, sosio, antro, sejarah, geografi, ekonomi, akutansi, kesenian, TI, = 17 matpel tersebut dijejalkan dan dimasukkan ke otak anak didik tercinta kita, aduh betapa stress-nya mereka, alhasil: sampai kiamatpun tak akan pernah mencapai tingkat internasional, completely irrasional. Jadi yang namanya RSBI atau SBI itu adalah masuk wilayah pembohongan dan pembodohan sistimatis bagi seluruh rakyat Indonesia. Kenapa Pak SBY tak pernah tahu ya?
Oleh: kusumahadi on September 26, 2009
at 1:20 am
Mas,
Again this is Diding. Saya mau tanya apakah teacher training untuk guru-guru di SBI itu penting? Kalau penting teacher training seperti apakah yang memang diperlukan? Setelah saya rantang-runtung ke beberapa sekolah, ada sebuah agen yang menyiaopkan semuanaya, termasuk guru-guru bidang studi yang diajarkan, misalnya matematika, fisika, dan kimia, yang berasal dari bberapa departmen. Mereka rata-rata bertitel PhD atau master dari perguruan tinggi luar negeri. yang ini kurang disukai oleh pihak sekolah karena sekolah selalu bergantung sama agen ini. sekolah maunya guru-guru sekolah diupgrade sehingga suatu saat sekolah SBI itu pada mandiri. Tolong Mas, komentar sampean ana tunggu. Terima kasih (saya akan tetap kontak Mas untuk hal ini dan mudah-mudahan antum tidak keberatan). Syukron.
Diding fahrudin
Oleh: Diding fahrudin on November 26, 2007
at 7:59 am
Kesalahan selalu menghasilkan kesalahan-kesalahan baru yang jumlahnya semakin banyak yang berujung pada yang namanya salah kaprah termasuk Teacher Training on RSBI. Stop doing for the next mistakes.
Oleh: kusumahadi on September 26, 2009
at 1:29 am
Teacher training itu perlu untuk semua guru, Kang!
Apalagi untuk guru program SBI yang katanya mesti paham tentang apa yang disebut ’standar internasional’ itu.
Secara pribadi saya tidak menganjurkan dosen PT yang biasanya mengajar mahasiswa tersebut untuk mengajar di sekolah program SBI karena mereka akan cenderung mengajar siswa sekolah menengah sebagaimana mereka mengajar mahasiswa mereka. Ini juga bukti bahwa program SBI ini memang tidak dipersiapkan dengan baik dan sekedar eksperimen.
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on November 26, 2007
at 8:21 am
Saya guru dengan pengalaman masih hijau. Pertanyaan saya simple aja pak satriya. Sekolah yang bagaimana yang menurut anda paling baik diterapkan di Indonesia? Apkah juga perlu kita punya SBI? Terus seandainya SBI diterapkan terus di Indonesia, training apa yang menurut anda pas untuk guru-gurunya? Terima kasih. (Mohon dijawb lumayan detail ya. mohon cc ke email saya)
Oleh: Firman on Januari 23, 2008
at 3:53 am
Maaf saya bukan Pak Satria, tapi saya tertarik dengan pertanyaan Anda. Sekolah yang cocok untuk diterapkan di Indonesia itu yang fully connected dari TK sampai S3 dengan lesson yang beurutan yang terus bisa di-update per lesson-nya. Mungkin untuk B. Inggris lesson 1 – 1000. Lesson 1 di TK dan lesson 1000 di S3. Terserah kepada peserta didik mau berhenti di lesson berapa, yang penting bahwa negara sudah menyiapkan segalanya bagi warganya. Sedangkan standar Internasionalnya juga sudah dipatenkan di lesson-lesson tersebut. Misalnya anak usia 10 tahun SD kelas 4 dengan IQ 110, standar internasionalnya berada di lesson 25 atau untuk anak usia yang sama tetapi ber-IQ 130, maka standar internasionalnya berada di lesson 50. Begitu pula untuk mata pelajaran yang lain. Jadi semuanya itu begitu jelas, gamblang dan bisa dievaluasi oleh siapa saja akan kepastian benar dan salahnya. Canggih “artinya menjadikan sesuatu yang rumit itu menjadi mudah”, contohnya komputer. Sebalinya: Jahiliah: “Artinya menjadikan sesuatu yang mudah menjadi rumit”. Contohnya: Orang-orang penggagas RSBI suka berpikir: Kalau bisa dibuat rumit kenapa dibuat mudah? Anda tinggal pilih saja. Maaf Pak Satria juga Mas Firman. Thanks.
Oleh: kusumahadi on September 26, 2009
at 1:50 am
SBI memang perlu penanganan yang serius. Karena itu sekolah melewati tahapan rintisan SBI sebelum menjadi benar-benar SBI. Sekolah yang yang semula berada jauh dari standar sekolah nasional sangat sulit melewati tahan rintisan lalu menjadi SBI. SMA tempat saya mengajar juga sedang menuju SBI dan itu membutuhkan kerja keras yang bukan saja masalah sarana tapi juga SDM. Sarana bisa dibeli dan dicari tapi SDM perlu keseriusan dalam pengelolaannya. Seorang guru yang telah mengajar berpuluh tahun dan berganti kurikulum berkali-kali kini harus berganti bahasa pengantar. Mereka telah meghadirkan berpuluh generasi penerus yang sukses dengan cara mengajar mereka. Mengajak mereka untuk belajar bahasa Inggris di sela-sela waktu mengajar yang telah begitu padat bukan hal yang mudah. Kemampuan mereka belajar bahasa asing pada usia lanjut telah menurun. Suatu cerminan kerja keras sekolah yang melaksanakan rintisan SBI adalah mengajar dan meluangkan waktu di luar jam mengajar. Tapi sebagian besar sekolah yang sedang menuju SBI memiliki kebanggaan dan harapan membuat pendidikan di sekolahnya menjadi lebih baik. Kita harus yakin semua yang kita lakukan dengan tujuan baik akan membuahkan hasil yang baik seperti apa pun beratnya kita melangkah.
Oleh: rahmad gunawan on Februari 7, 2008
at 9:35 am
Pak Rahmat, meminta para guru senior tersebut untuk mengajar dalam bahasa Inggris mulai dari nol adalah konsep yang samasekali tidak masuk akal. Ide seperti ini belum pernah ada di dunia dan pengonsepnya jelas tidak punya bukti empirik tentang keberhasilannya. Tapi anehnya program ngawur seperti ini dianggap masuk akal dan bahkan dianggap akan membawa kita menuju ‘Sekolah Bertaraf Internasional’. Quo vadiz…?!
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on Februari 7, 2008
at 9:47 am
Salam Hormat untuk Pak Satria, saya suka dengan tulisan-tulisan Bapak yang kritis tentang pendidikan di Indonesia. Saya salah seorang pendidik yang bekerja di sekolah bertaraf internasional yang menggunakan kurikulum IB. Saya terlibat dalam pergumulan dan permenungan yang cukup lama sebelum memutuskan kurikulum apa yang akan ditambahkan ke dalam kurikulum nasional kita sehingga bisa menggali potensi anak didik dan menjadikan mereka individu yang siap dan mandiri untuk hidup di masyarakat. Kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan kurikulum IB. Banyak tantangan yang kami hadapi terutama cara pandang orang tua murid yang sudah terbentuk untuk selalu memperhatikan nilai test/hasil akhir tanpa menghargai proses. Kami pun perlu mengadakan beberapa kali sesi untuk bisa mengubah cara pandang orang tua tentang pembelajaran yang menempatkan anak sebagai subyek pembelajaran, juga pembelajaran yang melibatkan orang tua berperan aktif.
Tantangan lain yang kami hadapi adalah merekrut pendidik yang tepat untuk kurikulum yang kami tawarkan. Hanya beberapa orang guru saja dari ratusan guru yang melamar di sekolah kami yang benar-benar berkualitas tepat untuk mengajar dengan bahasa Inggris sebagai media komunikasi. Saya juga prihatin dengan kualitas guru-guru yang dihasilkan dari perguruan tinggi/FKIP yang tidak sesuai dengan IP yang ada di sertifikatnya. Bagaimana mungkin seseorang dengan IP lebih dari 3 berpredikat Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris namun setelah di tes dalam seleksi perekrutan menjawab ” Maaf Bahasa Inggris saya belum fasih, makanya saya ingin melancarkan bahasa Inggris saya dengan mengajar.” Langsung si pelamar tersebut kami minta untuk pulang dan memperdalam bahasa Inggrisnya sebelum melamar lagi untuk menjadi guru bahasa Inggris.
Untuk guru-guru yang baru lulus dan bekerja pada sekolah kami, training adalah hal wajib pertama yang harus mereka jalani. Selama 3 minggu penuh mereka mengikuti training awal di sekolah kami sehingga mereka siap untuk memulai hari pertama dan hari-hari selanjutnya mengajar anak-anak didik. Training berkala pun diadakan untuk membuat para guru tahu bagaimana cara pembelajaran terkini yang harus mereka kuasai dan transferkan ke anak didik.
Sejak awal didirikan sekolah kami memang sudah memutuskan untuk menggunakan Bahasa Inggris sebagai media komunikasi selain Bahasa Indonesia. Sehingga Bahasa Inggris adalah syarat mutlak bagi para guru yang kami rekrut.
Dari pengalaman yang saya alami lebih mudah mengajar anak balita berbahasa Inggris daripada mengajar orang dewasa untuk menguasai bahasa Inggris. Susah sekali untuk menjadikan orang dewasa yang tidak berbahasa Inggris sama sekali untuk menguasai bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari apalagi untuk meminta mereka untuk mentransfer konsep pengajaran dalam bahasa Inggris.
Jadi untuk mengubah guru yang tidak berbahasa Inggris untuk mengajar dalam bahasa Inggris dengan mengirimkan mereka ke institusi/kursus bahasa Inggris yang terbaik sekalipun menurut saya adalah HIL yang MUSTAHAL. Ini menyangkut teori otak juga dimana Bahasa akan mudah dipelajari oleh otak dari usia dini 0-6 tahun. Di usia 6-12 untuk mempelajari suatu bahasa akan memakan waktu lebih lama dan sulit, sedangkan diatas 12 tahun lebih sulit lagi untuk menguasai suatu bahasa.
Saya setuju dengan bapak tentang kekhawatiran bapak dengan keberhasilan sekolah rintisan bertaraf internasional karena para pengajarnya yang belum dipersiapkan secara hati-hati.
Sekolah kami memerlukan waktu 5 tahun untuk mendapatkan otorisasi dari International Baccalaureate Organization untuk Primary Years Programme (untuk anak usia 3-12 tahun).
Salam
Yustina Ries
Oleh: Yustina Ries Sunarti on Februari 19, 2008
at 8:06 pm
Sangat kritis Pak Satria. Salut!
Salam,
Ines Setiawan (Homeschool Mom)
Oleh: ines on Maret 4, 2008
at 1:59 pm
Permisi. Saya adalah salah satu siswa Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di tingkat SMP. Mungkin pemerintah memang belum siap menyelenggarakan program ini, karena bila saya tidak salah dengar, siswa-siswi RSBI masih akan menempuh ujian nasional. Kalau memang orientasinya ke kurikulum internasional seharusnya SBI menempuh ujian tersendiri. Beban kami akan lebih berat apabila harus menyelesaikan pelajaran ujian nasional yang tidak sesuai dengan kurikulum SBI.
Oleh: Khairunnisa Mentari Semesta on Maret 13, 2008
at 7:18 am
Saat ini yang mencolok dalam dunia pendidikan kita adalah masalah sarana prasarana sekolah dan metode pembelajaran disekolah. Pergantian kurikulum yang kurang dipikirkan dengan matang telah membuat kebingungan bagi pendidik (guru) diseluruh pelosok daerah. Sekarang muncul sekolah Bertaraf Internasional apa tidak menambah kesenjangan yang semakin jauh? Saya melihat sekolah SBI yang sudah dirancang dan diberi bantuan dana untuk pembelian peralatan seperti komputer, ruang multimedia dsb tidak mecerminkan pengadaan barang SBI, apa ini proyek yang akan menambah korupsi di dunia pendidikan kita?
Oleh: Muhadin on Maret 24, 2008
at 3:48 am
Saya setuju pendapat bapak satria darma, dari tahun ketahun pendidikan kita saya rasakan makin merosot, sekarang ini pendidikan di negara kita di design oleh pakar yang berganti-ganti dan punya ide yang berbeda-beda, menurut pakat yang lagi online sekarang ini SBI bagus, tapi coba buka mata kita lebar-lebar bagaimana cara kita menangani sekolah yang masih tradisional yang banyaaaaaaak tersebar diseluruh pelosok negeri ini yang perlu bantuan pendidikan. Dengan banyaknya blockgrand yang diluncurkan sekarang ini apa sudah tepat guna? saya bekerja di dunia pendidikan yang saya lihat program-program selama ini lebih cendrung membuat proyek baru, tapi nggak jelas hasilnya. nanti berganti lagi pakar yang onlinenya buat proyek baru lagi. Saya ingin sekali mengatakan bagi aktor yang korupsi untuk pendidikan dan kesehatan supaya dimusnahkan saja / gantuuuung , kesal saya dibuatnya
Oleh: Muhadin on Maret 24, 2008
at 4:16 am
Permisi ya, Pak…
Ada baiknya menggunakan bahasa inggris mulai dari sekolah dasar, Pak.
Pengalaman hidup di UK, terbukti bahwa hampir sebagian besar negara di dunia ini memakai bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di negara masing2. Waktu itu kami berkumpul dari berbagai negara, baru sadar hanya saya yang dari Indonesia-lah yang tidak memakai bhs Inggris sbg bahasa kedua di negara saya (even di sekolah..hehehe).
Bila tidak dari sekolah apakah akan membebankannya pada orang tua? tambah repot bukan? Apalagi seperti saya yang dari desa pelosok.
Memang berat pada awalnya bagi sekolah, lembaga pendidikan juga infrastruktur yang diperlukan termasuk juga guru2.
Dengan bekal bahasa Inggris, tenaga kerja ataupun keahlian bangsa Indonesia akan lebih mudah diterima di dunia internasional. Kepintaran dan keahlian bangsa Indonesia sebenarnya berani bersaing kan, tapi apa kendalanya? bahasa. Saya pernah baca bahwa tenaga perawat banyak dibutuhkan di luar negeri, dan bangsa Indonesia tersedia banyak perawat yang menurut saya, jauh lebih sigap dan tangkas serta “sangat bisa membantu dg ramah” dibanding perawat di luar negeri. Yang pasti jjuga butuh kerjaan. Tapi kenapa tidak bisa kerja di luar negeri dg mudah?? salah satu kendalanya waktu saya membacanya adalah BAHASA. Mereka belum bisa bahasa Inggris, demikian pula dengan bahasa asing lain.
Mungkin pemikiran pembentuk peraturan SBI pada UU dan PP tentang Standar Pendidikan Nasional demikian.
Namun tidak dipungkiri pelaksanaan kurikulum dan mekanisme pendidikan memang harus dibenahi. Banyak praktek yang mengadaptasi mekanisme pendidikan di luar negeri yang salah kaprah.
Salam,
Rosita Suwardi Wibawa
Oleh: rosita suwardi wibawa on April 12, 2008
at 4:22 pm
Rasanya kita semua sepakat bahwa bahasa Inggris itu penting dan harus sudah kita mulai sejak anak-anak. Masalahnya bukan apakah bahasa Inggris itu penting atau tidak tapi BAGAIMANA mengajarkannya. Dengan memaksakan guru-guru bidang studi non-bahasa Inggris menggunakan bahasa Ingggris kacau balau di kelas bukannya akan membuat siswa menjadi mahir tapi justru bingung. Sesuatu itu kalau ditangani oleh yang bukan ahlinya pasti akan membuat kekacauan.
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on April 12, 2008
at 10:51 pm
Maksud saya bukan belajar bahasa Inggris,Pak, melainkan menggunkannya untuk sehari2 sebagai bahasa kedua disamping bahasa Indonesia. Nah media paling tepat adalah menggunakan bahasa Inggris di sekolah, menurut saya. Kapan itu bisa dimulai? sekaranglah waktunya.
Seperti saya sendiri sebagai orang tua memang merasa kurang disiplin memakai bahasa Inggris di rumah bersama anak-anak (ngaku nih). Bagaimana dengan orang tua lainnya?
Karena sekolah merupakan lembaga yang terstruktur, menurut saya adalah media paling efektif untuk memulainya.
Namun solusinya bukan dibebankan pada guru2 yang telah lama mengajar dan sudah “sepuh” (yang sudah berat untuk belajar bahasa inggris dari awal). namun tanggung jawab berbahasa Inggris saya kira akan lebih efektif dan efisien bila pada guru2 muda dengan kursus bhs Inggris atau saat seleksi guru baru.
Harus ada solusi kan, Pak untuk memutus lingkaran permasalahan dalam pendidikan kita?
Tapi pada dasarnya, kita satu sisi yang sama Pak, peduli pada pendidikan. Marilah kita diskusi, semoga dari diskusi kita muncul solusi dan pencerahan demi pendidikan kita semua.
Salam,
Rosita Suwardi Wibawa
(silakan berkunjung di situs kami http://www.edukasiindonesia.com)
Oleh: rosita suwardi wibawa on April 14, 2008
at 5:32 am
apresiasi yang sangat menarik.
ini berkaitan dengan penelitian yang akan saya ajukan di kampus, saya mahasiswi psikologi tertarik meneliti individu yang terlibat dalam SBI (masih akan terus meng-interview pada beberapa guru atau siswa) untuk menemukan dampak psikologis akan program yg ‘mengagetkan’ ini, terutama saya akan mengambil sampel di ‘daerah’, tidak di kota besar seperti bandung atau lainnya.
dari uraian pak satria, sepertinya bapak sangat tahu banyak akan seluk beluk (positif-negatif) SBI bagi individu, karna itu saya perlu saran atau masukan dari bapak mengenai hal yang paling urgent bagi ‘individu’ dalam proses SBI ini dan perlu diteliti secara ilmiah.
atau sekiranya bapak juga dapat merekomendasikan rujukan yang bisa saya ambil sebagai bahan penelitian.
thanx for inspiring my mind
Oleh: nita on April 16, 2008
at 8:23 am
banyak yang bisa diteliti dari program RSBI ini. Silakan kontak melalui email saya untuk lebih lanjut.
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on April 16, 2008
at 4:17 pm
maaf,pak
saya dila yang masih sekolah di sekolah yang (katanya) bertaraf internasional.
saya pikir, SBI itu hanya bisa dinikmati oleh orang” yang “berpunya”. Karena kalo sekolahnya kayak sekolah saya yang notabene siswa dan siswinya ada di kelas menengah ke bawah, sekolah nggak akan mampu bayar guru yang kompetensi B.Inggrisnya diatas rata-rata atau malah bisa dibilang diatas rendah. Klo siswa- siswinya orang berpunya kan bisa memfasilitasi buat bikin sekolahnya jadi lebih berkualitas.
Jadi kliatan kan, klo orang kaya itu gampang banget buat jadi pinter. Tapi orang kayak kita” ini, mo jadi pinter harus struggle dulu dengan banyaaaaak sekali saingan.
aduuuuuh, maaf pak. Saya kebanyakan bicara yang nggak penting.
maaf, udah ganggu.
salam.
Oleh: dhilamdr on April 18, 2008
at 11:37 am
OC pak, ane stujuuu banget
Ane bergabung dengan temen-temen yang punya sertifikat IBO dan Victorian, Kita ingin Sekolah-sekolah kampung bisa bertaraf internasional dalam pelaksanaan pembelajarannya.
Tentunya kita mengacu pada deklarasi UNESCO 1996, di situ justru penekanan pelestarian budaya lokal, toleransi, pemecahan masalah tanpa kekerasan, yang semunya berinti pada menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan..
SBI tidak harus mahal kok, Tidak harus pake laptop atau multimedia lainnya.
Tetapi lebih pada membudayakan murid dan guru pada kreatifitas
Kalau yang saya simak yang ada sekarang bukan sekolah Bertaraf Internasional, tetapi Sekolah Bertarif Internasional
Trims,
Trans Consulting Indonesia
Oleh: Mas Hanis on April 30, 2008
at 8:41 am
Salam,
Saya guru, sekolah kami bukan sekolah SBI (walau orangtua terus menanyakan), untuk standar Internasional nya kami mengikuti CIPP, dan seperti mas hanis sampaikan, mengacu pada unesco sekolah mempunyai misi untuk mebangkitkan kreatifitas anak dan sekolah juga menghargai kecerdasan majemuk. Nampaknya orangtua menyambut baik ide tersebut namun orangtua masih sulit menerimanya, mungkin karena kecemasan akan UAN, kreatifitas dan kecerdasan majemuk sulit untuk mendapatkan tempatnya. Membudayakan kreatifitas pada guru dan anak lebih sulit dihargai, walau sebenarnya untuk itu membutuhkan investasi SDM yang tidak sedikit. Nampaknya sekolah akan dianggap berstandar tinggi kalau punya kolam renang dan siswanya membawa laptop. Penggunaan bahasa inggris pun dituntut lebih dari sekolah, tanpa melihat secara berimbang bagaimana pembiasaan bahasa inggris dilakukan di luar sekolah serta kesiapan siswanya sendiri.
Bukan hanya sekolah-sekolah dan guru saja yang perlu disiapkan dengan pengertian yang benar tentang sekolah dan pembelajaran yang baik, orangtua sebagai ‘pemilih’ sekolah sebagai market dari sekolah perlu memiliki pengertian tentang sekolah yang baik atau apakah SBI itu. Memilih sekolah karena gengsi akan menjerumuskan anak-anak dalam kesulitan natinya.
Pak Satria, saya menunggu posting bapak untuk UAN. Saya prihatin, dan menunggu pencerahan dari bapak.
Trims
Oleh: Asiah on Mei 3, 2008
at 1:08 am
Saya punya keponakan yang selama ini di kelasnya ranking 1 atau 2. Mengikuti trend SBI tiba-tiba disekolahnya membuka kelas internasional pada kelas 4,5 dan 6 yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar. Dengan ujian bahasa inggris, keponakan saya termasuk didalamnya (kelas 5), tentunya membuat ibunya jadi bangga. Merencanakan kelanjutan ke kelas 7 (SMP) ibunya dan saya menanyakan ke keponakan saya kemana dia memilih sekolah, ternyata keponakan saya tidak memasukan sebuah sekolah negeri favorit dalam pilihannya, membuat ibunya kaget. Dengan prestasinya selama ini, ibunya mengharapkan anaknya melaju ke sekolah favorit yang merupakan (rintisan) SBI. Awalnya keponakan saya tidak mau memberikan alasannya, setalah saya yakinkan bahwa itu bukan masalah, dia menyampaikan bahwa dia tidak ingin ke SMP tersebut karena SBI.
Sekolah atau kelas internasional yang tiba-tiba diikuti bukan pada kelas awal ternyata membingungkannya. Istilah atau penamaan atau lambang yang tiba-tiba berganti tidak bisa memberikan penertian yang sama pada sebelumnya. Dan sebelum terlambat, saya bangga pada keponakan saya yang menyadari sendiri kebutuhannya. dan walaupun kaget alhamdulillah ibunya menerimanya
Oleh: Bunda syahra on Mei 3, 2008
at 1:29 am
Mbak Asiah,
Ada dua tulisan saya untuk UN, yaitu : “UNAS Jeblok Salah Siapa?” dan “UNAS : Mutu Diharap Bencana Didapat”. silakan baca tulisan saya di
http://satriadharma.wordpress.com/2007/05/31/unas-mutu-diharap-bencana-didapat-2/#more-35
http://satriadharma.wordpress.com/2007/05/31/unas-jeblok-salah-siapa/#more-34
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on Mei 3, 2008
at 8:44 am
Mungkin kita menganut neo-liberalisme, dimana pendidikan berkiblat ke pasar atau sindrom bangsa terjajah
Oleh: oeddin on Juni 11, 2008
at 3:03 am
Kita berharap agar konsep SBI semakin diperbaiki, meskipun perencanaannya sangat kurang. Coba di cek saja, ke siswa atau guru SBI tentang konsep SBI itu apa? yang jelas sedikit banyak telah menimbulkan friksi-friksi baik antar siswa maupun guru. Itu tidak lain karena ada perbedaan perlakuan yang relatif mencolok.
Oleh: Yono on Juli 2, 2008
at 1:22 am
Pak Satria, saya sangat berterima kasih atas pandangan Bapak terhadap keberadaan Ritisan SBI. Saya termasuk orang yang diberi pekerjaan tambahan ngurusi program RSBI di sekolah. Setelah membaca opini Bapak, saya menjadi bingung. Tolong saya diberi saran, apa yang harus kami lakukan di sekolah. Trims!
Oleh: Mulib on Juli 2, 2008
at 4:45 am
Yth. Pak Satria, saya memahami kehawatiran bapak dan banyak teman-teman tentang SBI ini, tetapi program ini sudah digulirkan seperti bola sekarang telah menggelinding. Untuk SMK pada tahun 2008 ini telah diberi bantuan (subsidi) kepada sejumlah SMK sebagai rintisan SBI sebanyak 200 SMK dan 90 SMK rintisan SBI Invest ( Indonesia Vocational Education Strengthening) dan 230 sebagai SMK aliansi. Saya yakin bapak dapat memberikan solusi atu pemikiran bagaimana program SBI ini supaya lebih banyak memberi manfaat kepada bangsa ini. Program ini sangat menantang dan memamg bukan proram yang mudah terutama dari sisi penyiapan tenaga Kependidikan yang membutuhkan kerjasama yang baik antara Dirjen Mendikdasmen dan Dirjen PMPTK dalam program SBI ini. Semoga pemikiran yang baik datang dari berbagai penjuru sehingga bangsa ini bisa keluar dari berbagai keterpurukan .
Hormat saya,
Ni Wayan Suwithi
Oleh: Ni Wayan Suwithi on Juli 20, 2008
at 12:41 pm
Saya kawatir , sbi kok cuma harus berbahasa inggris dan TI aja, meski ada indikator kunci uatama dan tambahan, nanti malah nasionalisme/bahasa Indonesia kita hilang kaya Malaysia tuh. Yang di SBI itu kualitas pembelajaran aja and sarana-fasilitas-layanan. Saya dah keliling SBI tapi, nyatanya masih seperti yang dulu aja, gak ada bedanya, bedanya hanya nama doang, dan sekolah biasanya bingung utk bagaimana menghabiskan anggaran, malah dikawatirkan ada korupsi.
Oleh: Sugiyanta on Juli 23, 2008
at 6:05 am
sekolah bertaraf internasional itu memang baik untuk anak bangsa dimasa akan datang tapi baiknya gimana ya…. supaya sdm kita tidak ketinggalan negara tetangga kami juga rencana membangun sekolah bertaraf internasional, tapi gimana caranya? kami sudah punya lokasi 15000 m tapi kami belum punya dananya untuk membangun adakah jalan
Oleh: Agussalim on Agustus 4, 2008
at 4:29 pm
Pak Satria sangat senang dengan pemikiran Bapak yang sangat kritis. Saya juga berpikir secara nasional aja sekolah -sekolah banyak yang belum menguasai apalagi sudah membuka SBI. Rasanya kok SBI untuk orang-orang yang berduit saja ya . Sekarang anak-anak masuk kelas internasionaltapi kok ujiannya masih mengacu nasional ? Jadi sepertinya tida relevan.
Semoga ini menjadi pemikiran kita bersama dan Pendidikan Indonesia dapat lebih maju kualitasnya. Amin
Oleh: fdzannah on Agustus 22, 2008
at 8:33 am
SBI memang terkadang hanya berfungsi sebagai formalitas semata mata, di SMK salah satu contohnya program seperti SBI menjadi sebuah momok kebanggaan untuk sekedar “show off” goverment saja. Toh justru sekolah negeri harusnya harusnya mempunyai kompetensi Nasional yang di akui secara internasional. Tetapi justru ini malah sebaliknya. Tapi semoga apa yang saya temui hanya bagian kecil. Salam pak Satria. Share blog ya ….
Oleh: Bona Simanjuntak on Agustus 28, 2008
at 11:32 am
Analisis yang baik, begitu kesan saya terhadap Pak Satria Dharma. Sebagai kebijakan pasti mengandung sisi gelap, resiko negatif dan dapat mendatangkan mudarat.
Saya akan mencoba mengomentari dari sisi yang berbeda. Pemikiran ini berangkat dari konsep pengelolaan strategic pendidikan. Kalau tidak salah pandang, Pak Satria menampilkan pose di pinggir sungai di pinggir sungai pusat kota Shanghai di seberang menara, maka saya ingin menyitir paradigma pemerintah China dalam mengelola sistem pendidikannya.
Menurut analisis kelompok kerja pemerintah Amerika tahun 2005 yang dikirim khusus ke China menuliskan laporannya yang disajikan untuk bangsa Amerika (www.uvm.edu/~outreach/06PDFs/EducationinChina.pdf) mengemukakan pandangannya bahwa pemerinatah China sangat kuat perhatiannya pada peningkatan kemampuan bangsanya benchmark poduk bangsa lain, memperhatikan peningkatan bahasa Inggris dan meningkatkan keterampilan guru dalam menguasai dan menggunakan teknologi untuk mendukung pembeharuan pembelajaran.
Jadi yang menetapkan orientasi belajar dari produk bangsa lain untuk melakukan perubahan tidak hanya dilakukan oleh bangsa Indonesia. Malah China sudah berhasil melakukannya. Pendidikan bertaraf internasional idealnya tidak dibiaskan dengan seperti ada keharusan untuk menerapkan ISO, adaptasi adopsi, memperoleh sertifikat Harvard, IBO, dan Cambridge. Idealnya hal itu cukup untuk menjadi acuan baik sebagai pembanding atau adopsi kriteria. Tujuan utamanya harus bagaimana melalui perluasan wawasan itu dapat meningkatkan potensi pribadi siswa dapat hidup di tengah dinamikia kehidupan global.
Jadi sekolah bertaraf internasional baik-baik saja jika ditangani orang-orang yang berkompetensi internasional; tapi ini yang susah…
Oleh: rahmat on Oktober 25, 2008
at 1:08 am
Sekolah saya lagi sibuk dengan ISO. Saya seneng seklai karena saya berharap ISO ini bisa memberikan hasil yang jujur terhadap apa yang baik dan tidak atau belum baik dari sekolah kami. Saya menyadari sekolah kami dihinggapi penyakit yang susah untuk dideteksi sendiri. Makanya kami perlu ‘dokter’ untuk mengidentifikasikan penyakit ini. Semula saya berharap ISO itu berfungsi selayaknya kalau kita merasa tidak enak badan lalu ke rumah sakit untuk general check-up supaya tubuh saya dipetakan bagian mana yang nggalk beres dan perlu disembuhkan. Tentu saja saya berharap petugas medis yang memeriksa saya memberikan informasi yang jujur. Kalau ditubuh saya ada kanker, ya harus diberitahu. Itu harapan saya semula terhadap ISO.
Tetapi hari ini saya menyadari ISO nggak mirip dengan general check up kesehatan.
Tau nggak apa yang kami lakukan untuk mendapatkan sertifikat ini? Kami melakukan permainan sandiwara, baik murid, guru, pegawai adm dll sudah disetir kalo nanti ditanya begini jawabannya harus begitu. Murid-murid sudah disetir dengan dalih mau nggak sekolahnya dapet sertifikat intrenasional, kan keren. Kita kasih tau kadang kejujuran itu berakibat buruk. Kalu mau keliatan cakep harus rada nipu dikit, kayak perempuan yang pake bedak buat nutupin bopeng diwajahnya, gitu. Pada saat rapat persiapan kunjungan dari ISO besok, tidak ada yang protes. Semuanya sangat maklum. Semuanya kepingin kelihatan cantik.
Sampai rumah saya berdoa, “Ya Allah, semoga para assesor ISO secerdas dan sejujur orang-orang KPK”. Amin
Oleh: aleida on November 24, 2008
at 1:00 pm
Bung Satria,
Saya senang dengan analisa anda berkenaan dengan SBI. Di Kalimantan Timur juga sedang demam SBI bahkan placate sekolahnya ditulis besar-besar biar dibaca setiap orang yang lewat. Cuma saya juga tidak yakin kalau bisa bertaraf internasional. Kalau menurut saya itu hanya ikut-ikutan kebijakan politis biar dianggap hebat bukan kebijakan edukatif yang akan mencerdaskan kehidupan bangsa. Singkatnya biar daerahnya diangap hebat tidak kalah dengan daerah lain. Jangankan memaksa guru mengajar hard science dgn bahasa Inggris, kemampuan bahasa Inggris guru Bhs Inggris nya masih sangat substantard. Saya pernah memberikan Toefl Equivalent Test pada guru-guru SMP dan SMA di suatu Pemerintah Kota, ternyata dari 60 an guru Bhs Inggris hanya ada dua yang nilai TOEFLnya diatas 500, dan itu pun 507 dan 513 belum lagi kemampuan lisannya sangat jauh dari cukup. Kalau memang Bhs Inggris hendak dijadikan bahasa pengantar kayaknya kok jauh dari mungkin. Menurut Bung Satria, bagaimana kita menjelaskan kepada atasan kita, rekan guru, orang tua, dan publik agar mereka tidak tersesat oleh propaganda yang menyesatkan ini?
Trims Bung,
Salam dari Kaltim.
Oleh: Achmad Riwayadi on Desember 23, 2008
at 4:22 am
Bagaimana menjelaskan program SBI ini kepada masyarakat luas? Bagi saya ya dengan menulis di blog ini.


Saya juga sudah menulis di harian lokal kok! Tapi orang akan tetap meyakini apa yang ingin mereka yakini.
Saya sendiri biasa bertanya pada sekolah atau pengelola SBI sbb.:
1. Apa kriteria sekolah RSBI itu? Tentunya ada persyaratan bagi sebuah sekolah untuk bisa disebut SBI, baik itu kualitas gurunya, kualitas kurikulumnya/programnya, fasilitas yang dimilikinya, proses KBM-nya, dll. Apakah sekolah Anda dipilih atau sekedar ditunjuk? Kalau dipilih berarti ada seleksi. Bagaimana bentuk seleksinya? Kalau ditunjuk, apa alasan penunjukkannya? dll.
2. Apa tolok ukur keberhasilan program RSBI ini? Artinya bagaimana kita bisa mengukur apakah sebuah sekolah berhasil atau tidak dengan programnya tersebut?
Coba saja tanyakan dan dengar apa jawab mereka.
Salam
Satria
Oleh: Satria on Desember 23, 2008
at 4:39 am
Program SBI gurunya jangan hanya mahir berbahasa Inggris dalam penyampaian materi tapi harus juga mampu mendidik siswa SBI memiliki budi pekerti yang luhur
Oleh: evi maria on Januari 20, 2009
at 9:54 am
Pak Satria,bagaimanapun ttg minusnya SBI di tulisan anda saya menganggap saran untuk perbaikan SBI nantinya.Anak saya waktu masih kelas 1 di semester satu di SD nasional plus bergengsi(begitu kata kepseknya) dikeluarkan dari SD tersebut karena kami menunggak spp selama 3 bulan dan SBI di kota kami yang dipimpin oleh Bpk Drs.Achmad Aviv Nur menerima anak kami dengan tangan terbuka dan gratis bahkan saya juga tahu ada anak dari tukang sapu sekolah dasar negeri juga bersekolah di SBI dengan spp per bulan Rp15000,- saja dan dia sama dengan murid lainnya yaitu mendapatkan hak pendidikan dan fasilitas yang ada.Justru saya tidak bisa tinggal lagi di kota kami tersebut karena suatu lain hal jadi kami pindah ke daerah lain yang terpencil dan kami memutuskan agar ananda kami homeschooling.
Tulisan anda bagus yang pasti karena didasari pemikiran anda yang prihatin pada dunia pendidikan negara kita yang tercinta…Indonesia Raya.
Ananda kami adalah korban bisnis sekolahan dan kami tergilas perekonomian yang mengerikan tapi kami pantang menyerah dan kami tidak khawatir ananda kami cukup bersekolah lewat dunia maya dan belajar bertani serta bermusik langsung pada prakteknya bahkan dia mulai belajar berbisnis serta mulai belajar menulis essay,di usianya yang ke 8 tahun.Saya yakin dia kelak baik-baik saja tanpa mengenyam pendidikan kurikulum Indonesia yang selalu berreformasi.
salam merdeka kagem njenengan…
selalu menulis untuk kemajuan
salam
Bunda Hamzah
Oleh: jessica wicitra on Januari 21, 2009
at 4:37 am
Wah, terimakasih mas atas tulisannya. Mas memang punya analisa yang tajam tentang SBI. Saya senang sekali dengan tulisannya. Saya hanya mau menambahkan saja, SBI itu memang bagus untuk mengejar ketertetinggalan di bidang pendidikan dengan bangsa lain, cuma kesannya jangan samapi dipaksakan seperti “kambing yang buang kotorannya secara sembarangan”. Kalau kesannya seperti itu, hasilnya pun nanti tidak memuaskan. Kan, SBI itu penekanannya ada pada Bahasa Inggris dan ICT. Guru-guru, khususnya MIPA-ENG harus mengajar dalam bahasa Inggris dan segala sesuatu menyangkut ICT di sekolah tersebut sudah harus memadai sebelumnya. Jangankan guru MIPA, guru bahasa Inggris saja pun belum semua fasih berbahasa Inggris. Kalaupun guru-gurunya akan ditraining dalam bahasa Inggris, tapi kan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Secara pribadi saya sangat mendukung program SBI, tetapi saran saya sebaiknya hanya sekolah tertentu saja dulu yang sudah memenuhi persyaratan tersebut sementara sekolah yang lain dipersiapkan.
Oleh: Eduard Tampubolon, M. HUM on Januari 22, 2009
at 2:35 pm
Halo mas Darma,opini yang anda buat tentang SBI cukup tajam.Sebagai pelaku pendidikan sy juga pengagum berat SBI,mudah2an memberi support bagi anak2 kita untuk survive dipersaingan global.Salam saya dari Takalar(Sul-Sel).
Oleh: ilham radi on Januari 29, 2009
at 12:28 am
Kebetulan Anak kami di SBI di Kota Malang….
Ituy pilihan dia…
Tulisan Mas Darma cukup memberikan manfaat bagi kami sekeluarga dan Komunitas Homeschooling yang kami …
Salam.
Lukman Hakim
Malang
Oleh: lukman Hakim (sekolah dolan Malang) on Januari 30, 2009
at 11:53 pm
Salam kenal Pak Dharma,
salut dengan yang bapak tulis, dan saya sepakat bahwa berkontribusi membangun Indonesia juga salah satunya dengan tetap memegang dan menyuarakan selalu idealisme kita.
Pemangku kebijakan boleh berganti, tetapi mereka dalam membuat kebijakan tentu saja perlu masukkan dari berbagai pihak termasuk kita yang notabene mempertanyakan adanya SBI ini. namun memang nampaknya pihak yang mendukung adanya SBI (tanpa mempertimbangkan berbagai aspek) lebih banyak daripada yang menolak.ha..ha..
kalau menurut saya, paling tidak kita sudah menunjukkan siapa kita!
sebenarnya saya berselancar SBI berkaittan dengan niat saya meneliti SBI yang dikelola pemerintah maupun swasta. ternyata saat mencari info di internet, blog Pak Dharma yang sering muncul ketimbang SBI-SBI atau data Diknas misalnya. lha ini jelas membuktikan ada yang tidak beres dengan SBI.
sebagai yang baru belajar meneliti, saya jadi merasa lebih tertantang meskipun saya yakin banyak hal yang harus saya pelajari lebih lanjut. Kiranya Pak Dharma bisa membagikan info lebih lanjut..
sukses slalu!!
Oleh: yesika on Februari 20, 2009
at 2:40 pm
Pak,
sebagai orang tua saya masih bingung sebentar lagi anak I saya mau masuk smp, (Puji Tuhan anak kami selama ini termasuk juara umum dari 4 kelas, dan kami berusaha mengerti jika anak ke 2 kami belum seperti kakaknya namun gambar dan pilihan bahasanya sepertinya lebih baik ), sebagai orang tua kami ingin mendapatkan sekolah yang terbaik dan yang terjangkau pula dengan ekonomi kami, kami sedang mencari smp negeri yang baik, mudah dijangkau kendaraan,…
kreteria baik ini yang susah pak:
1. bingung status SSN, Non SSN dan RSBI 3 sekolah RSBI saya datangi),
saya bertanya ke Ibu guru yang mengajar mata pelajaran yang harus menggunakan pelajaran bahasa Inggris, jawabanya seperti yang sudah ditulis diatas, menyampaikan materi dalam bahasa Idonesia saja, anak-anak belum tentu bisa mengerti, apalagi kami guru-guru yang sudah ’sepuh’ ini harus pula belajar bahasa inggris untuk menyampaikan materi ?
2. Namun pak, sekolah yang memiliki ‘passing grade (?)’ yang tinggi, ternyata RSBI dan daya tampung untuk reguler di kurangi, karena mereka membuka kelas rsbi, dan penerimaan kelas rsbi lebih awal (contohnya maret ini sudah dimulai SMPN 115 jakarta), walau bagaimanapun kami khawatir jika tidak daftar di rsbi dan persaingan yang sangat ketat di reguler.
3. Jika disekolah swasta yang baik biayanya kurang lebih sama dengan sekolah rsbi, maka haruskah kami mendaftar rsbi atau menunggu reguler ?
Yang saya sedih adalah ternyata di negeri tercinta ini, anak ‘cerdas’ jika tidak punya uang pun tidak akan bisa masuk ke sekolah baik sekalipun itu negeri, bukankah begitu pak ?
Oleh: widi on Februari 27, 2009
at 11:48 am
semangat maju terus bapak satria dharma….
isi tulisan bapak sangat memberikan ilustrasi dan inspirasi buat saya pribadi meskipun saya bukan seorang pendidik, akan tetapi saya merasa bingung atas ide Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang ada di indonesia sekarang ini…saya sangat sependapat dengan isi tulisan bapak Satria Dharma bahwa Sekolah bertaraf internasional tidak hanya dalam hal fasilitas gedung dan kelas yang serba modern dan banyak fasilitas ITnya serta penggunaan bilingual tapi bagaimana kurikulum dan sistem pengajarannya kepada anak didik yang tepat yang disesuaikan dengan perkembangan jaman itulah yang bisa minimal disejajarkan sebagai sekolah bertaraf internasional, bagaimana pendidikan di indonesia bisa bertaraf internasional apabila target yang diinginkan hanya out put dengan nilai tertinggi tanpa melihat prosesnya yang tepat.terima kasih
Oleh: andhika on Maret 11, 2009
at 10:09 am
saya sangat tertarik dengan tulisan bapak karena sangat kritis.saya seorang siswa di NTT.saya akan mengikuti lomba debat bahasa inggris tentang SBI,,apa boleh saya minta bukti-bukti yang lebih konkrit lagi.Trims
Oleh: avia on Maret 13, 2009
at 8:15 am
Bukti apa yang dimaksud? Maaf saya tidak faham.
Salam
Satria
Oleh: Satria on Maret 13, 2009
at 1:28 pm
wahy saya sangat terkesan sekali dengan pendapat yang bapak tuliskan di atas.
saya sangat setuju, bahwa konsep SBI yang ada di Indonesia ini sudah salah kaprah, tidak mau menghargai bahasa bangsa sendiri sebagai identitas bangsa.
sebentar lagi kalau ini diteruskan bahasa Indonesia akan tergeser seperti bahasa suku Indian di Amerika.
apalagi orang indonesia sendiri merasa bahasa Indonesia lebih rendah dan tidak layak di mata internasional.
kalau guru saya bilang seh emang banyak orang dah bermental babu dan menghamba pada bangsa lain getoh.
maaph banget kalau kata2 saya gak sopan, tapi emang gitu. jadi saya harap kepada semuanya aja mari kita maju tanpa harus merendahkan diri pada bangsa lain.
Oleh: rudi on Maret 14, 2009
at 7:13 am
bukti bahwa SBI itu memang harus dilaksanakan. . .
Oleh: avia on Maret 26, 2009
at 2:37 am
apa itu SBI?
bagaimana perkembangan SBI di Indonesia
apakah SBI-SBI di Indoneia benar-benar berkualitas SBI? atau hanya sekedar nama belaka.
kesulitan apa saja dalam memuwudkan SBI?
Oleh: sofwan on April 11, 2009
at 4:07 am
saya bersekolah di SBI SMPN 1 PANDAAN. menurut saya SBI di sekolah saya sudah berjalan sangat baik, karena di masing-masing kelas sudah memiliki fasilitas yang sangat memadai, seperti: screen, AC, 4 komputer khusus untuk siswa, meja dan bangku yang dipesan khusus dan sangat nyaman.
^_^
Oleh: teddy on April 17, 2009
at 4:22 am
Salam Revolusi..!!!
Saudaraku Satria, sangat tidak bijak membuat kebingungan dengan mengungkapkan suatu kelemahan thdp sesuatu yang masih debatable,jangan hanya menambah kisruh dan keruh persoalan bangsa ini. Alangkah positifnya saudaraku, jika mampu menghadirkan solusi thdp format pendidikan yang tepat bagi bangsa kita. “Jangan melempar batu sembunyi tangan”, tunjukan konsep pendidikan yang ideal menurut saudaraku…!!!
Ma’afkan saya yang lancang berbicara.
Tapi ini demi kita dan bangsaku tercinta…!
Semoga keselamatan dan kedamaian tercurah keatasmu… Amin.
Oleh: Sangaji-Dompu NTB on April 18, 2009
at 8:05 am
Bung Sangaji,
Apanya yang membuat Anda bingung? Kalau RSBI masih ‘debatable’ kenapa sudah diluncurkan programnya? Mestinya kan diadakan penelitian lebih dahulu agar benar-benar matang programnya. Lagipula, apa keberatan Anda dengan tulisan saya? Silakan debat pendapat saya yang Anda anggap tidak sesuai.
Saya tidak ‘lempar batu sembunyi tangan’ karena tulisan saya ini saya serahkan langsung untuk dibaca oleh Pak Dirjen di kantor beliau dan saya sampaikan di seminar-seminar baik di Jakarta maupun di Surabaya. Saya bahkan bersedia untuk menghadapi siapa saja yang mau mengajak saya debat mengenai masalah ini.
Kenapa Anda mengatakan saya menambah kisruh dan keruh persoalan bangsa? Jelaskan apa maksudnya tuduhan Anda ini. Anda mau lempar batu sembunyi tangankah?
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on April 18, 2009
at 9:48 am
Saya simpatik sekali dengan tulisan ini , Sebagai orang yang bekerja di lingk. pendidikan meskipun saya bukan guru namun konsep ini belumlah jelas .. . mau kemana arah SBI ini …???? mencerdaskan kehidupan bangsa bagi saya termasuk dalam mengembangkan bahasa kita bukan bahasa orang lain …. pendidikan adalah hal yang tidak terlepas dari budaya dan berkembang dimana dia berada bukan malah mengikis budaya yang ada …. apa iya budaya indonesia ( termasuk bahasa Indonesia ) adalah budaya rendah kualitas pendidikan . kenapa kita tidak bangga dengan baasa kita sendiri …????
Ilmu pengetahuan tentunya harus mengangkat derajat manusia sehingga dalam aplikasinya tentu harus sesuai dengan tempat dimana ilmu itu dikembangkan ….. adalah aneh kalo ta terlalu banyak berbicara IT di daerah yang agronmisnya melimpah … untuk apa berbicara IT yang hebat atau menggunakan baasa inggris sementara yang sangat penting dikembangkan adalah teknologi pertaniannya …. buan berarti saya adalah rang yang tidak simpatik dengan penggunaan kedua alat tersebut tapi jika itu yang di fokuskan dalam mencapai predikat sekolah bertaraf internasional akan menyebabkan distorsi dari tujuan ilmu pengetahuan . ……… kalau ada seolah yang mengembangkan pertaniannya dan maju bukan tida mungkin orang luarlah yang datang untuk belajar .
salam
Oleh: batti on April 28, 2009
at 5:58 pm
pak saya ngopi artikel diatas boleh ga??
Oleh: abie on Mei 5, 2009
at 9:37 am
Go ahead! Ambil saja.
Salam
Satria
Oleh: Satria on Mei 6, 2009
at 2:02 pm
Salam Pak Satria…
Saya tidak punya wacana apapun tentang SBI yang sekarang sedang digalakkan di sebagian sekolah Negeri, seakan mereka merasa RENDAH apabila tidak mengikuti program ini.
Tapi memang, program SBI sangat diperlukan dengan wacana Standar Mutu Kurikulumnya yang ditingkatkan dengan mendalam, terutama tentang memberikan bekal ke anak didik dalam memberanikan diri menyampaikan BUAH PIKIRAN mereka dalam bidang suatu ilmu dengan paparan yang benar dan baik, seperti halnya Lomba LIPI, lomba Pidato ataupun lomba-lomba yang lain dengan kerangka buah pikiran seorang siswa yang telah mempunyai standar tinggi dalam membuat suatu karya yang sebenarnya sederhana tetapi berkat bimbingan gurunya (yang tentu saja harus lebih tahu) bisa membuat karya tersebut berstandar Internasional.
Apakah standar Internasional itu hanya berlatar belakang Bahasa Inggris? Jawabnya TIDAK!!!!, banyak SEKOLAH TRADISIONAL yang di Indonesia sudah diterapkan Ratusan Tahun, Yaitu Pondok Pesantren, mereka mempunyai kurikulum yang bisa dikatakan buku-bukunya lebih dari 60 % menggunakan bahasa Arab, akan tetapi apakah mereka semua fasih berbahasa arab? tentu tidak, dan ini tidak diperlukan, karena dalam berbahasa arab dalam buku-bukunya (kitab) justru mempunyai aturan-aturan yang ketat, yang langsung diterapkan dalam kurikulum tersebut setiap hari di pakai dalam pembelajaran dengan membuat penjelasan dalam bahasa Indonesia atau bahkan dalam bahasa daerah setempat, toh dengan metode tersebut terbukti ribuan orang lulusan Pesantren tersebut bisa berkiprah di dunia pendidikan berbasis bahasa Arab bahkan bahasa asing lainnya.
Saya juga salut dengan wacana yang anda sampaikan bahwa yang di perlukan memang KURIKULUM yang harus sama dengan kurikulum Internasional, bahkan sampai pola ajar dan bukunya. Cuma perlu ditambahkan bahwa Pembelajaran bahasa daerah Tetap HARUS DISERTAKAN, cuma mungkin harus tidak dipaksakan dengan teori-teori yang sangat rumit dalam tingkatan berbahasa daerah, yang justru bisa jadi bumerang, seperti yang terjadi saat ini dimana guru bahasa daerah justru dipandang sebelah mata dibandingkan dengan guru bahasa Inggris, miris memang.
Kemampuan Go Internasional dengan bendera Indonesia, ITULAH YANG HARUS DITERAPKAN, Indonesia mempunyai lebih dari 300 bahasa, kalo kita terapkan dalam kemiliteran, tentu bisa sebagai bentuk “SANDI” yang tidak mudah di tembus, dan kalo kita terapkan dalam dunia bisnis, tentu mempunyai BRAND yang cepat dapat diingat, cuma ya jangan asal membuat nama, seperti beberapa kendaraan produk Indonesia yang diberi nama seenaknya, yang akhirnya justru oleh bangsa sendiri dilihat dengan sebelah mata.
Oleh karena itu mutu yang diperlukan dalam dunia pendidikan berbasis Internasional adalah membuat murid mampu menunjukkan KEMAMPUAN INTERNASIONALnya tapi tidak merubah dirinya sebagai orang Indonesia.
Dilema ini telah lama dialami oleh dunia pendidikan kita, “hanya orang kaya” yang bisa! hanya orang dari keturunan bangsawan yang bisa! oleh karena itu sekarang orang banyak yang berusaha membuat dirinya minta dipandang sebagai orang BERTARAF INTERNASIONAL, dengan membuat program-program yang bersifat “KASAT MATA” bahwa Bertaraf Internasional harus ekseklusif, dan mahal.
Sebagai contoh pengadaan Internet, sebagai tambahan pendidikan yang harus diakses, karena itu diperlukan beberapa peralatan yang masih bisa dikatakan mahal. Menyediakan Perangkatnya saja harus mengeluarkan sedikitnya 10 juta (1 juta program windows, 5 juta program office, dan 4 juta computer, + saluran internet yang tidak mudah juga dimiliki). tapi kalau mau contoh program di Negara Cina, dengan sistem menyerap teknologi, dengan tujuan utama Rakyatnya mampu membuat dan menerapkannya secara murah, bukan berarti juga hnya bisa membajak.
Pola Pikiran Bapak yang kritis ini juga tolong bisa juga memberikan masukan bagaimana yang seharusnya kepada Pemerintah, kami tunggu.
Terimakasih
salam
Oleh: akhmadsabbah on Mei 22, 2009
at 3:05 pm
saya sepakat dengan pak akhmads, bahwa yang utama adalah kurikulumnya yang internasional tanpa menghilangkan identitas keindonesiaan.
Yang terjadi sekarang, banyak orang menafsirkan sendiri-sendiri bahkan SDM (pendidik)nya belum siap tapi sudah ngaku internasional.Kebanyakan menafsirkan SBI itu sarananya harus wah, ada lap top, infocus, hotspot dan semua itu mahal,belum ada pembinaan serius dari pemerintah untuk masalah SDM ini.
Oleh: femina on Mei 28, 2009
at 1:52 pm
Pak Satriya, saya membaca kajian bapak serta komentar teman-teman mengenai RSBI, dan saya sangat sepakat dengan bapak maupun teman2. Walaupun sudah kadaluarsa mungkin, saya ingin tanya apakah bapak ada data mengenai RSBI dalam apapun karena saya akan bicara di forum regional Asia mengenai hal ini utamanya yang menyangkut pembelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai medianya. Respon Bapak saya tunggu ya. Terima kasih
Oleh: Itje Chodidjah on Mei 31, 2009
at 4:00 pm
Saya punya data di Jakarta. Kebetulan saya ada di Jakarta sekarang. Sila hubungi saya di 0811-5454-30
Salam
Satria
Oleh: Satria on Juni 1, 2009
at 3:48 am
salam salut buat pak satria darma..
Saya adalah seorang Guru SMK
Dalam banyak hal saya setuju, dengan fikiran pak darma, .. tapi..kadang-kadang kita terperangkap oleh, istilah.jargon, atau simbolis, menurut saya yang penting yang harus dipenuhi dulu oleh sekolah secara kaffah adalah tuntutan Standar Nasional Pendidikan itu dengan delapan Standarnya ( Standar Isi, Standar Proses, Standar Sarana Prasarana, Standar Kelulusan, Standar Pengelolaan, Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Pembiayaan, Standar Penilaian. Kalau itu betul-betul telah dipenuhi dan dilakukan verifikasi serta validasi thd sekolah yang akan ditingkatkan derajatnya.
Kita sangat setuju untuk menjadikan bahasa inggris dan pemanfaatkan ICT disekolah untuk digunakan pada seluruh komponen pendidikan . disekolah, dua hal terakhir ini akan memberikan impact yang besar terhadap mutu lulusan sekolah tersebut. Untuk ICT dan Bahasa inggris itu juga harus diukur juga disertifikasi dengan Lembaga sertifikasi yang diakui secara Internasional, ICT misalnya dengan ICBL, MCP, dll. Bahasa Ingris dengan TOEIC atau TOFEL. Disamping itu seharusnya sekolah SBI juga melakukan sister school atau bermitra dengan sekolah unggulan diluar negeri. misal nya dengan neagra anggota OECD
Untuk menjamin continual improvement dari program ini sebaiknya juga harus menerapkan Sistem Manajemen Mutu, misalnya QMS ISO 9001:2008. Jadi kesimpulannya menurut saya untuk mencapai derajat SBI itu diperkirakan membutuhkan waktu lebih kurang sekitar Lima tahun semenjak mulai dicanangkan, itupun kalau dilakukan dengan komitmen, konsisten, konsekwen, kontiniu, dan Kebijakan yang jelas.
Wasalam
Desnueri
Guru SMK
Oleh: uda on Juni 7, 2009
at 12:40 pm
Assalamualaikum.
Salam kenal Pak Satria,
Dari artikel di atas, saya sependapat dengan pendapat yang telah diuraikan oleh Bapak Satria. Pada dasarnya sekolah bertaraf Internasional merupakan sekolah yang mengejar finansial atau lubung bisnis bagi lembaga yang terkait. Merauk segala apa yang diinginkan, meskipun dengan motif ingin meningkatkan kualitas SDM Indonesia yang berbobot. Sebenarnya, lihat dulu sumber daya manusia yang ada di Indonesia dan latar belakang. Apakah mampu meloloskan atau melahirkan kualitas generasi penerus bangsa yang lebih baik???? Lihat dulu fenomena… fenomena lain…
Meskipun SBI dikhususkan bagi siswa-siswa tertentu ataupun siswa asing itu bagus, Apakah tidak akan terjadi KESENJANGAN????
Pendidikan dilihat dari DIVERSIFIKASI.
Terima kasih, wasalam.
(FBS, Unnes’06)
Oleh: Diah ZN on Juni 8, 2009
at 6:39 am
Salam pak Satria. sy salut dengan tulisan bapak. Sy mhn izin untuk berbagi kebingungan kami mudah2an bpk bisa memberi pencerahan pada kami. Kebetulan anak km baru lulus SD. Sebagai orang tua tentunya ingin agar anak kami bisa melanjutkan kesekolah yang baik. dan didaerah kami sedang gencar2nya SMP SBI tadinya kami ingin agar anak kami bs sekolah disana. Namun ternyata SBI sekolah yang mahal sekali bukan untuk kalangan ekonomi seperti kami. Jadi pertanyaan kami apakah program SBI hanya dibuat untuk orang kaya saja ? Apakah itu tuiuan dari proyek SBI yng lebih mengutamakan bisnis sekolah ? Lantas orang2 biasa sprt kami yang walaupun punya anak berprestasi tetap tidak bisa bersekolah di SBI. Yang kami khawatirkan apakah bila sekolah di sekolah reguler nantinya tidak dianak tirikan? Terima kasih wasalam.
(TI, Orang Tua murid)
Oleh: Tantri on Juni 20, 2009
at 1:01 pm
Saya salah satu dari sekolah yang pada tahun ajaran baru ini mulai menerapkan SBI. Saat ini kami (guru-guru ) yang ada di sekolah akan diikutsertakan dalam kursus kilat bahasa inggeris. Kira-kira mampukah guru-guru yang sudah mulai pikun ini belajar bahasa orang tersebut ? Sedangkan bahasa sendiri saja masih belepotan ( belum lulus UKBI ). Gimana nih Pak ? supaya nanti kalau mengajar bisa nyerocos dalam bahasa inggeris. Ada solusinya nggak ?
Oleh: sri on Juni 28, 2009
at 2:04 pm
Sampai saat ini belum ada resep untuk itu.
Untuk bisa lancar berbahasa Inggris untuk kepentingan mengajar di kelas Anda harus belajar ribuan jam secara intensif pada guru yang tepat. Jadi jelas bahwa sekolah Anda itu menutup mata pada kenyataan bahwa tidak mungkin para guru bakal berhasil berbahasa Inggris dengan baik dengan cara dikursuskan seperti itu.
Seandainya ada metode yang bisa membuat seseorang bisa berbahasa Inggris dan menggunakannya untuk mengajar dalam jangka waktu singkat maka penemuannya itu bisa dijadikan bahan untuk mengusulkannya mendapat penghargaan dunia!
Oleh: Satria Dharma on Juni 28, 2009
at 10:34 pm
Salam Kenal Pak Satria,
Maaf Pak, saya ikutan komentar, boleh ya Pak..?
Saya sebagai seorang Wali Murid anak saya yg baru lulus SD dan sangat awam terhadap Dunia Pendidikan ingin berpendapat sedikit.
Sebetulnya sudah lama saya denger istilah SBI, tetapi karena waktu itu anak saya belum akan melanjutkan ke SMP, maka kami belum konsent untuk mengetahui lebih dalam ttg SBI. Dan kebetulan sekarang ini anak saya baru lulus SD dan gaung ttg SBI di sekolah sangat gencar, bahkan seakan siswa yg nilai UASBN nya rata2 >8,5 (u/ 3 mata pelajaran) berlomba2 ikut mendaftar SBI. Sedang para guru jg sibuk dengan mendorong siswa siswinya u/ ikut mendaftar SBI dengan harapan tentunya jika banyak siswanya yg diterima di SBI maka nama sekolah jg akan terangkat.
Sebetulnya setiap pertemuan wali murid mulai anak saya kelas 3 SD saya selalu aktif hadir sampai sekarang, tetapi sepertinya SOSIALISASI guru terhadap SBI baik terhadap murid ataupun walimurid hampir tidak ada penjelasan selain hanya memberikan image bahwa SBI adalah sekolah dengan mutu yg SANGAT BAGUS. Walaupun dorongan guru thdp SBI ini sudah berlangsung 2 tahun. Sehingga saya sendiri penasaran ingin lebih jauh tahu dan setelah banyak surfing (apalagi setelah membaca banyak tulisan Pak Satria) sekarang saya lebih mengetahui tentang SBI : Trima kasih Pak.
Pada intinya saya sangat sependapat dengan tulisan Pak Satria, dan ini pula didasarkan pada kenyataan yang ada kota saya (Surabaya). Hampir mayoritas Wali Murid di sekolah anak saya belum mengetahui apa itu SBI?, untuk siapa? Kurikulumnya bagaimana? Kalau sudah lulus kemana? Biayanya berapa? dan lain2. Yg intinya mereka yg mendaftarkan ke SBI ya hanya ikut2an aja mumpung nilainya memenuhi dan kalau memang gak diterima kan masih ada kesempatan ke SMP Regular. Bahkan saya pernah tanya ke wali murid : kenapa koq ikut daftar ke SBI? Masa jawabnya karena anaknya pengen dan senang Bahasa Mandarin???…
Ada lagi anak sekelas dengan anak saya ranking 1 (UASBN + Nilai Sekolah) jangankan masuk SBI, untuk masuk Sekolah Reguler saja orang tuanya tidak mampu, dan akhirnya dimasukkan pondok. (sangat miris mendengarnya…)
Ada juga keponakan saya yg sekarang sudah masuk ke SBI kelas 3 SMP (baru naik), dan sudah mengenyam SBI selama 2 tahun, dan saya ngobrol dengan orang tuanya bahwa nanti kalau sudah lulus SMP untuk ke SMUnya gak akan mengarahkan lagi anaknya ke SBI. Lho saya tanya lagi KENAPA?? jawabnya : Ternyata SBI itu untuk anak yg nantinya akan sekolah ke luar negeri. Dan dengan pertimbangan BIAYA yg relatif MAHAL yg harus disediakan orang tuanya. Misalnya untuk masuknya saja dulu (2 th yg lalu) > 3 juta, SPP nya perbulan Rp. 250.000. Belum lagi Buku2 yg nota bene berbasis Bi-Lingual yg tentu relatif lebih mahal lagi. Dan 75% muridnya membawa Laptop dan jika ada murid yg orang tuanya tidak mampu apa mereka gak minder? Trus bagaimana secara psikologis anak jika minder ini berlangsung cukup lama? Disekolah memang dibedakan antara kelas SBI (baru ada 2 kalas SBI) dan Reguler baik jam pelajarannya yg lebih lama, gurunya, fasilitasnya, dan parahnya untuk berteman saja anak SBI tidak mau berteman dengan anak yg Reguler (di sekolah) padahal ini satu sekolah. Lha koq pengaruhnya sudah parah seperti ini?? Dan ini juga pihak orang tua dulu tidak diberikan penjelasan tentang SBI oleh gurunya, dan guru juga asal menunjuk untuk ikut tes SBI. Semoga ini hanya terjadi di sekolah itu saja.
Memang sepertinya Pihak Depdiknas, dan yg berkompeten di bidang SBI ini sangat kurang dalam persiapan dan dampak negatifnya untuk meluncurkan program yg prestisius ini.
Pada waktu saya sekolah di SMA dulu, istilah SEKOLAH FAFORIT saja sudah menimbulkan kecemburuan sosial yg tinggi dan membuat minder siswa. Lha sekarang koq Depdiknas malah justru meluncurkan GAP antara sekolah SBI dan Reguler???
Jika saya nanti jadi Mentri Pendidikan (he.. he..) :
1). Sebelum melaksanakan UASBN murni, Depdiknas harus mensetarakan dulu mutu pendidikan minimum setingkat profinsi. Caranya? Jika suatu sekolah sudah memperolah standard mutu diatas rata2, maka sekolah itu pantas dapat penghargaan (misalnya diberikan PIALA), trus guru senior dari sekolah tsb. sebagian gelintir dipindahkan ke sekolah yg masih relatif rendah tingkat mutu pendikannya. Dan Dana untuk membiayai sekolah yg masih rendah fasilitasnya ditambah dan lebih besar dari sekolah yg sudah maju. Dan masing2 sekolah harus diberikan motifasi untuk terus bisa berkompetisi, sehingga mutu pendidikan di Indonesia tumbuh lebih maju dan cepat setara.
2). Jika tingkat mutu dan fasilitas pada sekolah sudah merata, baru Depdiknas menerapkan UASBN sehingga keadilan dan kesetaraan dapat dinikmati oleh semua anak2 bangsa.
3). SBI diserahkan (dikelola) pihak Swasta tetapi tetap kurikulum harus dari pemerintah. SBI ini diperuntukkan bagi orang tua yg ingin & mampu melanjutkan anaknya sekolah ke luar negeri.
Mohon Maaf bila ada yg berbeda pendapat, dan Terima kasih Pak Satria. Salut dan hormat buat Bapak.
Salam,
Eppy KTS (Surabaya)
Oleh: Eppy KTS on Juni 29, 2009
at 5:09 pm
yah, Itulah indonesia.
disatu sisi kita ingin memajukan dunia pendidikan dengan merubah performance dengan sebutan SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL tepai sumberdaya yang ada belum mendukung. malah yang terjadi di lapangan menjadi SEKOLAH BERTARIF INTERNSIONSL.
Oleh: farhan on Juni 30, 2009
at 7:38 am
Sebenarnya fenomena kemampuan bahasa inggris yang kelas ayam sayur bukan hal yang baru karena pada tahun 2005 saya pernah memberikan kursus kepada guru-guru di salah satu SMAN terpandang di kotaku yang katanya “kota pendidikan”. Katanya sih SMAN ini RSBI menggunakan Cambridge atau O level. Kemampuan bahasa inggris para guru tersebut betul-betul membuat saya nelongso. Meskipun ada satu atau dua yang lumayan itupun minoritas.Saya ingin mengkritik namun kata orang jawa ora ilok nanti kuwalat (yang ikut kursus para guru senior). Lha wong mengucapkan “teeth” (gigi) seringkali yang keluar adalah “tit” (payudara) apalagi mengajar di kelas dalam bahasa inggris. Begitu pula pada saat saya ngoceh dalam bahasa inggris (karena kebijakan lembaga tidak membolehkan menggunakan L1 selama pelajaran) yang ada semuanya “ngowoh berat” (bengong). Pada saat yang sama saya juga memberikan kursus pada anak didik (siswa RSBI) para guru tersebut. Levelnya anak-anak tersebut lebih
tinggi dari para gurunya meskipun tidak begitu signifikan.
sering saya tercenung… lha kalau pelajaran IPA/science utamanya biologi yang membutuhkan banyak penjelasan bagaimana pelajaran berlangsung, karena kemampuan (sangat) minim guru menyampaikan materi dalam bahasa inggris begitu pula kemampuan bahasa inggris siswa sedangkan buku yang digunakan dari cambridge atau singapura. Apa yang didapat siswa? Tetapi sekali lagi masyarakat kita masih senang yang berbau internasional meskipun dalamnya mbelgedes telek bedhes.
Kalau bapak-ibu tidak percaya cari course booknya Cambridge dan minta guru-guru RSBI/SBI di tingkat SMP, SMA dan SMK (negeri) untuk ngajar di kelas dalam bahasa inggris dari awal sampai akhir pelajaran. Kira-kira ada berani mengatakan sampai 50% dari semua jumlah guru RSBI/SBI (negeri) mampu melakukannya?
Saya terus terang prihatin dan nelongso atas keadaan ini. Kalau tidak percaya tanya kepada bapak-bapak ibu-ibu dari Sampoerna Foundation. Mereka menerapkan program RSBI/SBI di beberapa SMAN tetapi dengan menerjunkan guru-guru binaan mereka sendiri bukan guru-guru yang sudah ada disekolah. Karena mereka mereka tahu kualitas guru-guru tersebut (RSBI/SBI) meskipun sudah banyak yang punya gelar MPd atau MSi. Coba minta pemilik MPd atau MSi ngajar dalam bahasa inggris.
Yang terakhir dan sampai sekarang belum saya mengerti (Barangkali saya termasuk “lemot” alias lemah otak) adalah anggapan bahwa kursus bahasa inggris 6 bulan akan menjadikan para guru RSBI/SBI di semua tingkatan, mahir berbahasa inggris dan bahkan mampu mengajar sains dan matematika dalam bahasa inggris. Mas Satria kata wong suroboyo masiyo ngawur cek nemene.
I think it’s about time that we do something about it. Whaddaya say?
Oleh: Indra Raharto on Juni 30, 2009
at 10:21 pm
komentar terakhir :
…
saya kagum terhadap perhatian bapak, mendidik masyarakat tentang SBI dengan menulis di Blog Yang Super ini.
===
saya mendapat info ini dari Googling
—
salam Hormat
ILYAS AFSOH| 088 1296 3105
Oleh: ILYAS AFSOH on Juli 7, 2009
at 2:16 am
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya setuju sekali dengan semua komentar Agung. Menggunakan bahasa asing untuk belajar ilmu2 yang bisa dikatakan cukup berat di sekolah adalah suatu tindakan yang sangat bodoh.
Seharusnya Diknas (kalau peduli pada pendidikan) membaca hasil riset dari manca negara, khususnya riset tentang program bilingual, di mana anak terpaksa belajar beberapa mata pelajaran dalam bahasa asing (atau hampir semua pelajaran, kalau pakai sistem immersion). Hasilnya sudah banyak, data sangat banyak. Seringkali, walaupun menggunakan sistem immersion, banyak sekolah tidak memberikan pelajaran matematika dalam bahasa asing dan tetap dalam bahasa ibu karena dinilai akan terlalu berat untuk mempelajari 2 skil pada saat yang sama (bahasa asing, dan matematika).
Kebanyakan murid yang belajar dalam bahasa asing mengalami berbagai macam kesulitan. Ada sebagian yang bisa berhasil. Tetapi cukup banyak perlu kelas2 khusus untuk memperkuat bahasanya yang kurang, dan tingkat drop-out bisa cukup tinggi, dengan berbagai macam alasan.
Dan itu yang terjadi di negara barat, di mana tingkat pendidikan gurunya jauh lebih baik dari sini, dan setiap sekolah punya guru yang ahli dalam pendidikan bahasa, dan juga punya guru yang sanggup mengajar dalam bahasa asing. Bagaimana kalau dilakukan di sini, dengan kualitas guru yang cukup rendah, tanpa menghadirkan ahli bahasa, tanpa kelas khusus atau dukungan yang dibutuhkan dari sekolah untuk membantu anak2 yang mengalami kesulitan?
Bisa dijamin hasilnya akan sangat kacau. Dan walaupun Malaysia berstatus negara maju, mereka sudah mengakui bahwa ini memang menjadi suatu masalah, dan mereka sudah bertindak untuk melakukan perubahan.
Indonesia? Jangan berharap! Masa ada Menteri Pendidikan dan petugas tinggi di Diknas yang mau mengaku bersalah, dan mengubah struktur dan cara mengajar dalam SBI?
Malu dong. Lebih baik membiarkan anak gagal dalam pelajaran matematika dan sains, biar anak bisa disalahkan (bukan sistemnya). Dan kegagalan anak itu yang bakalan muncul nanti juga akan membuka peluang untuk menciptakan berbagai macam kesempatan emas bagi petugas Diknas untuk membentuk program2 pelatihan baru untuk guru, untuk anak, untuk kepsek, dan sebagainya.
Semua program itu akan makan uang dari pemerintah, dan tentu saja, akan ada peluang korupsi yang baik bagi semua. Program2 itu akan dibentuk setelah jelas ada nilai2 yang rendah dalam pelajaran matematika dan sains yang diajarkan oleh guru yang tidak lancar dalam bahasa asing, pelajaran yang tidak dipahami oleh murid, yang juga tidak lancar dalam bahasa asingnya.
Semuanya akan berjalan terus. Kesempatan untuk korupsi dan usaha menjaga diri dari pengakuan yang memalukan akan selalu diutamakan di atas kebutuhan anak bangsa untuk mendapatkan sistem pendidikan yang berkualitas.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto
Oleh: Satria Dharma on Juli 15, 2009
at 1:00 pm
Apa yg bpk tulis adalah kenyataan di lapangan memang seperti itu, sy adalah salah satu guru IPA di skh rintisan SBI. melihat kenyataan bahwa dari sisi SDM belum memenuhi persyaratan yg diinginkan. mungkin solusinya perekrutan guru yg memenuhi syarat jd guru di kls SBI. namun demikian kita hanyalah pelaksana dari suatu program, jd yaa dijalani aja sambil belajar membiasakan menggunakan bhs inggris. kejadiannya tidak beda dg Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK). Waktu itu skh kami jg merupakan skh mini piloting KBK. Hasilnya, kurang memuaskan krn pelaksanaannya belum dipersiapkan dg matang, % soal UN nya relatif lebih sulit 50% dari soal skh yg reguler (bkn piloting). seiring dg itu kurikulum disempurnakan terus sekarang bernama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sy berharap program SBI inipun disempurnakan terus sesuai dg pengalaman bahkan harus dari hasil penelitian di lapangan agar apa yg menjadi tujuan dari program ini tercapai sesuai tujuan, yaitu meningkatkan mutu pendidikan. pertamakali sy masuk kls,sy minta anak2 menuliskan alasan mengapa mereka masuk kls SBI bukan kls reguler. sy rekap alasan mereka :
1. karna ingin skh di luar negeri
2. karna fasilitasnya lebih baik
3. ingin berpotensi lebih dr yg lain
4. memperlancar bhs Inggris dan komputer
5. membuat bangga orang tua
6. bergaul dan berbaur dg dunia internasional
7. takut nilai UN kecil, walaupun sy tdk bisa bhs Inggris. melihat alasan2 mereka seperti itu mdh2an tercapai apa yg mereka inginkan, walaupun kenyataannya yg unggul dalam IT dan masuk seleksi Olimpiade tingkat sekolah adalah muncul dari anak2 kelas reguler. nah bgmn sekarang qt berusaha agar muncul anak2 yg lebih unggul dr sisi IT, bhs inggris dan kemampuan yg bertaraf internasional itu dari anak2 SBI. Bukankah mereka mengeluarkan biaya yg tdk sedikit utk itu??? Mari qt tingkatkan mutu pendidikan Indonesia dg cara apaun terutama dari proses pembelajarannya yaitu pembiasaan berfikir, bkn menghafal. Cerio…
Oleh: Rina Farida on Juli 19, 2009
at 1:24 am
oia pa… I never teach my pupils; I only attempt to provide the conditions in which they can learn. begitu kata einstein.
Oleh: Rina Farida on Juli 19, 2009
at 1:32 am
sya sangat kagum dengan bapak….. tapi sayang bapak melihat sisi negatifnya dulu, cobalah lihat sisi positifnya……
Oleh: syafridon on Juli 30, 2009
at 12:28 pm
Jika menurut Anda ada sisi positifnya, silakan sampaikan pendapat Anda agar bsa kita analisis bersama.
Oleh: Satria on Juli 31, 2009
at 12:45 am
Salam. I don’t want to write ‘Ass.’(abbreviation of assalammualaikum in arabic) because it won’t sound so polite if you know the meaning in English (pls consult your dictionary). To tell the truth, the whole truth and nothing but the truth, I felt like crying when I came upon this blog. I’m a mommy of a kid who goes to the so-called IB school.I can feel the confusion and the chaos of trying to implement the so-called universal values that one must adapt to create not only a better nation but a better world to live in for all mankind in the only one earth we share with now. The noble mission of the IB school at the end is sharing our planet. That I believe truly with all my heart … for in the end our mission on earth as a human being is spreading love, not hatred, to the universe (it’s rahmatan lil alamin in Arabic). For what are we? We are khalifah (in Arabic), meaning master of our own faith, on this world that we live in. That we have universal rules to fulfill if we want to have peace in our life. That we must be able to organize ourself first before organizing others, and that whether one would like it or not, has the obligation to master the ability to organize others too, cause we cannot live alone on this one earth. That’s why we share (but not as ’sharinger’ coz it’s incorrect grammatically).Education is not about teaching only. It’s about being. Being can only be implemented through habit. The habit of positive thinking is no joke nor garbage to be argued. If we want to have progress, yes, we must be a risk-taker. I am able to speak and write in English cause I use it. Use it or lose it. Make a habit of doing things over and over again til you master it. Never give up. There are always obstacles along the way. But, hey … let’s face it. To conquer thy enemy, you must know your enemy. If it’s yourself, or the negative values inside yourself, change it. Never give up. Face the world and try to understand. Share and give. But giving up we must not!!! It’s sad (I almost cried) to see the truth, but if we can adopt positive values, increase our expertise and create positive environment and not worsen it, eliminate our bad habits … insya Allah we will get there. The secret (as Kungfu Panda said) is believe. Have faith. We can have a better world. If not, we can have a better nation. If not, we can be a better person. By becoming a community of learners, not moaners!There is no limit to the human brain. Use it or lose it, no matter how old you are.My father in law is struggling to be able to use Arabic dictionary.He’s 71!Yes, I have my worries. The failure of secular education, which is busy looking for ways to overcome the financial crisis, but forgetting moral standards.But giving up or closing the door from windows of the world we must not.The infrastructure (hardwares)of the IB school is excellent.I praised Allah for the privilege to be able to use it. The software? Let’s work it out together! Start now for better tomorrow.Easier said then done. But giving up we must not. Those seeds will insya Allah be strong trees if nurtured well in positive environments. May Allah bless us all. Thankyou for sharing your points of view. I see what you mean, but it’s a start.
Oleh: Edna on Agustus 13, 2009
at 5:17 am
Hi Mr. Satria. I’m interested reading your article about RSBI because I’m recently writing my thesis about RSBI . I agree with your statement that RSBI is the program that waste of time and waste of money because there is no clear concept given by the government in implementing RSBI. The use of English in teaching subject matters in other countries is called immersion program, content-based instruction or bilingual program. However, the implementation of RSBI does not refer to one of the programs. If the government give the clear concept, guidance, and model in implementing RSBI, I think it’s possible that RSBI can be implemented effectively. Furthermore, each school is not easily claimed as the school with international standard that burden the students or the parents with the high cost
Oleh: Anwar on Agustus 18, 2009
at 9:42 am
Hi, too. Glad to know that someone is doing research on this program. Can you share more? Are you interested to publish your research? I know somebody who is interested to publish this kind of research.
Your research will help others to do same research from different perspective.
Oleh: Satria Dharma on Agustus 18, 2009
at 10:11 am
Saya ada pertanyaan sedikit nih pak, saya suka dengan pendapat bapak. Saatnya kita untuk memandang sesuatu dengan lebih kritis, sehingga jalan keluar dapat tercapai. Sekolah bertaraf dan bertarif international sekarang memang lagi jadi topik yang hangat dibicarakan. Saya pernah dengar di sebuah seminar mengenai SBI dan atau RSBI bahwa di Malaysia beberapa tahun yang lalu menerapkan pengajaran pelajaran2 sains dalam bahasa Inggris, tetapi sekarang sudah enggak lagi. Apa bapak ada info mengenai itu? Kemungkinan sudah ada penelitian yang diadakan di Malaysia yang membuktikan bahwa metode itu gagal, sehingga sekarang mereka kembali mengajar dengan Bahasa Melayu. Trims atas waktunya.
Oleh: Dina on Agustus 21, 2009
at 9:52 am
Dear Pak Satria,
saya adalah seorang ibu yang bekerja dibidang broadcast , tim kreatif dan ingin banting stir ke dunia pendidikan anak anak, simplenya menjadi “GURU” adalah impian saya, saya berniat untuk focus pada dunia pendidikan, bahkan saya ingin memulai karir “GURU” ini dari nol, saya memulai untuk browsing apa persyaratan untuk menjadi guru yang profesioanal. kemudian terbacalah artikel tentang SBI yang banyak mengundang komentar pro dan kontra.
Mohon petunjuknya, apa yang harus saya lakukan untuk menjadi guru yang baik dan berkualitas tentunya, sehingga saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk ikut serta mewujudkan mimpi mimpi anak Indonesia, laptop, dan gadget lainnya bukan menjadi penghalang buat anak negeri ini bersaing di dunia International.
Jujur ada rasa kekhawatiran saya dan beberapa orangtua diluar sana dengan sistem sekolah taraf Internasional yang menggunakan bahasa Inggris pengantarnya (jujur saya juga bukan pengguna bahasa Inggris aktif), yang mana untuk pelajaran agama amat minim dan tidak ada pelajaran PMP atau PPKN saat ini, yang artinya generasi penerus ini akan luntur rasa nasionalis…lalu bagaimana kabarnya Tari Pendet, angklung, rasa sayange dan lainnya jika generasi hijau ini tidak dibekali entah mata pelajaran apalah itu,
Bahasa Inggris perlu, saya setuju dimulai sedini mungkin disekolah maupun dirumah, tapi ada beberapa negara, seperti Jepang, Cina, Korea, Ceko, Prancis yang mana mereka juga tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa keseharian mereka, tapi mereka bisa maju dan survive.
Sering kali mendengar orang bilang “klo pake bahasa Inggris tuh enak ya…coba kalo di translate ke bahasa Indonesia kok jadi nggak asik” waduh menurut saya, kenapa orang tsb mempermasalahkan Bahasa Indonesia ya ? padahal saat dilahirkan sang ibu, bahasa yang ia pakai juga Bahasa Indonesia kan ?
Terus Terang, saya sangat khawatir jika kelak saya melamar sebagai guru dan ternyata di tolak karena kemampuan bahasa yang kurang mahir misalnya. Agak miris juga ya pak ?
untuk itu mohon sumbang saran untuk saya bisa mempersiapkan jadi guru (preschool/kindergarten) yang berkualitas tentunya, atau apakah ad training yang bermanfaat untuk hal tsb ?
Terima Kasih
Oleh: JDK on September 5, 2009
at 3:17 pm
Jika Anda tidak pernah memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengajar maka Anda harus mengikuti pendidikan dan pelatihan lebih dahulu. Saat ini syarat untuk menjadi guru cukup ketat dan bahkan mereka yang lulusan sekolah keguruan pun tidak bisa langsung menjadi guru.
ari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional”. Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Grasindo dan Anda bisa membelinya di toko buku Gramedia.
Tapi jika Anda tetap ingin menjadi guru maka sebaiknya Anda mengikuti magang dulu di sebuah sekolah yang bagus dengan guru yang hebat agar Anda mendapatkan pengetahuand an pengalaman dalam mengelola kelas.
Saya dan dua orang teman ada menulis buku dengan judul
Salam
Satria
Oleh: Satria Dharma on September 5, 2009
at 10:25 pm
Baik …Terima Kasih atas infonya, mungkin saya bisa dapatkan buku tsb di Gramedia …doakan saya pak untuk dapat menemukan jalan menjadi seorang Guru yang berkualitas tentunya.
Oleh: JDK on September 6, 2009
at 1:57 pm
Dear all pengelola sekolah RSBI (atau SBI),
Berikut ini saya kirimkan sebuah e-mail dari Bambang S. PhD, dosen di
Univeristas Johor Malaysia yang baru saja mengikuti seminar tentang penggunaan
bahasa Inggris di sekolah.
Tolong dibaca baik-baik dan resapkan. Jangan sampai kita ikut terjerumus hanya
karena tidak berani berkata tidak.
Semoga kita tidak mengalami kehancuran hanya karena latah dan tidak mau belajar
dari kesalahan.
salam
Satria
Kepada semuanya, kebetulan sore tadi saya ikut seminar tentang pengajaran sains
dan matematik di sekolah-sekolah di Malaysia [disini disebut PPSMI] yang akan
dihentikan pada 2012 nanti. Dari berbagai paparan dijelaskan bahwa
dimunculkannya itu memang terlebih sebagai ide dari seorang saja, yaitu Mahatir,
di ujung pemerintahannya dulu, tahun 2002. Ibaratnya, untuk menumbuhkan hal yang
baru maka perlu membinasakan yang lama [model yang kerap dipakai beliau saat
menjalankan pemerintahannya] . Para hardliner penentangnya dari awal memang
sudah ramai-ramai menunjukkan berbagai dampak yang bakalan terjadi (tergerusnya
identitas bahasa dan bangsa, penurunan pemahaman pelajaran sains dan matematik,
menurunya prestasi pendidikan, ketidaksiapan guru dll). Tapi bukan Mahatir kalau
tidak keukeuh-peteukueh (Sunda: keras kepala), yang ternyata kebijakan itu
ditetapkan tanpa merubah berbagai regulasi yang berhubungan dengan politik
bahasa nasional seperti mengenai
bahasa pengantar di sekolah, buku teks dan ujian dll, singkatnya ini syndrome
Malaysia Boleh-ness (Melayu: boleh = bisa).
Dari satu hasil riset skala besar yang diterangkan (melibatkan pakar dari
sembilan universitas negeri disini dan lebih dari 15 ribu siswa), PPSMI ini
memang tidak menghasilkan apa yang diharapkan pendetusnya. Yang bisa survive
hanya sekolah yang berada di kota besar dan sekolah berasrama di kota; jenis
sekolah lainnya nyaris tanpa ampun terjadi degradasi penurunan mutu. Misalnya
disebutkan jumlah siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian nasional
Malaysia (UPSR di tingkat SD dan SPM di tingkat SMA) [disini ujian nasional ada
juga, tapi penyelenggaraannya sangat ketat dan tidak ada yang berani main mata
seperti di kita], populasinya menurun [yang mendapat nilai A, sekitar 90%
menjawab benar]; yang meningkat hanya populasi yang mendapat nilai C. Jurang
prestasi antara siswa di kota besar dan daerah lain (kota kecil, desa dan
pedalaman) pun makin besar. Yang mencemaskan bagi puak Melayu adalah, populasi
siswa di kota besar yang berprestasi bagus
itu mayoritas justru keturunan Cina bukannya bumiputera. Praktek yang terjadi
di kelas pun bukan menggunakan Inggris sebagai bahasa komunikasi, namun lebih
pada menggunakan kata Inggris dalam kalimat dan konteks Bahasa Melayu. Tidak
aneh bahwa ini dianggap sebagai model kebijakan kontoversial yang sekaligus
membasmi kemampuan Berbahasa Ibu (bahasa Melayu), Bahasa Inggris dan juga
pemahaman terhadap sains dan matematik.
Dijelaskan juga fakta yang ada bahwa guru-guru di Malaysia pada saat program ini
dimulai, tahun 2003, memang tidak didisain untuk mengajarkan sains dan matematik
dalam English, sehingga ‘akrobat’ penggunaan English setiap hari terjadi di
kelas sains dan matematik; yang tentunya membawa dampak membekas bagi siswa
bahwa sains dan matematik sebagai pelajaran menakutkan dan susah dipahami. Hal
yang wajar berhubung ketidakpahaman semantik memang berlanjut pada kegagalan
syntax.
Gejala di Indonesia adalah justru sedang ke arah yang sebaliknya, khususnya
.
dalam program RSBI; dimana guru MIPA diarahkan untuk berkomunikasi dalam
English, menyiapkan administrasi pelajaran dalam English dan bahkan mengevalusi
belajar siswanya pun dengan English. Kalau dengar cerita kegagalan PPSMI di
Malaysia yang memang didukung dana mencukupi dan training intesif saja begitu,
apalagi di RSBI yang cuman dapat tambahan ‘modal usaha’ Rp 0,5 M per tahun? tapi
siapa tahu kita kan penuh akal, modal nekat dan tentu berani
wassalam,
Bambang
Oleh: Satria on September 12, 2009
at 2:16 am
Kalau mau baca lengkap dengan bukti penelitiannya bisa dilihat di sini.
Pengajaran dan Pembelajaran Sains dan Matematik dalam Bahasa Inggeris
Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Pengajaran_dan_Pembelajaran_Sains_dan_Matematik_dal
am_Bahasa_Inggeris#Hasil_dan_reaksi
Oleh: Satria on September 12, 2009
at 2:18 am
Ass.wr.ww. Selamat hari Raya Idulfitri , pak. Tulisan bapak okee banget. Saya kebetulan masih aktif di widyaiswara LPMP Kal-SEl. Pengalaman mengajar saya di SMP dan SMA sejak 1969 sampai 1993. Mulai dari meningkatkan prestasi belajar siswa dari ujian sekolah sampai pencapaian nilai ebtanas murni (NEM) dan sekarang UAN. Saya melihat RSBI sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Terutama dalam pemenuhan 8 standar nasional pendidikan (PP 19 /2005). Dengan adanya konsep-konsep tersebut sekolah berupaya untuk melakukan peningkatan baik dalam hal akademik maupun non akademik. memang awal-awal konsep RSBI dicanangkan masih banyak salah langkah dalam pelaksanaannya, terutama dalam pembiayaan yang dimintakan dari para ortu. Akan tetapi sekarang keadaannya sudah lebih baik lagi.
saya masih ingat waktu saya masih jadi guru dulu, tidak ada yang mendorong untuk bisa berbahasa inggris, bisa komputer, apalagi kuliah untuk peningkatan kualifikasi. saya mengajar apa adanya, kurang kreatif, kurang upaya untuk bisa mengeluarkan ide-ide atau gagasan apalagi melihat kurikulum dari luar negeri. saya jadi guru seperti katak dalam tempurung. Sekarang zamannya lain , guru dituntut untuk mengembangkan dirinya, bisa belajar lewat internet, kuliah lagi, berkomunikasi bahasa inggris, mau melihat kurikulum luar dan menganalisanya, membandingkan dengan kurikulum nasional, dan bisa mengintervensi kurikulum nasional dengan kurikulum luar, saya anggap itu suatu peningkatan yang luar biasa bagi guru, pak. Dalam sarana prasarana sekolah, peningkatan dilakukan menuju standar nasional. Sekarang siswa dapat akses internet di sekolah, mengambil materi pelajaran dan soal-soal ujian dari berbagai sumber, apakah itu bukan peningkatan? Kalau pembiayaan yah itu kan ada subsidi silang untuk yang kurang mampu tetapi memiliki potensi dan prestasi baik untuk dikembangkan, kenapa tidak. Jadi saya mengganggap konsep RSBI oke-oke aja cuma teknis pelaksanaan dilapangan memang perlu untuk menjadi perhatian kita semua. trims pak kesempatannya.
Tulisan bapak ditahun 2007, sekarng sudah 2009, sudah banyak perbaikan dalam konsep-konsep RSBI. Thanks
Oleh: zahra chairani on September 23, 2009
at 10:06 am
Bravo! Saya sungguh senang mendengar bahwa program RSBI ini dapat membuat para guru untuk keluar dari ‘tempurung’nya dan mulai berinisiatif untuk memajukan sendiri proses pembelajarannya. Saya sepakat bahwa salah satu pengaruh positif dari program ini adalah kemampuannya untuk memunculkan inisiatif dari para guru untuk mencari sendiri program-program yang akan dapat membuat mereka melakukan pembelajaran dengan lebih baik. Saya juga mendengar hal-hal positif seperti ini di berbagai sekolah RSBI. Ini tentu saja sangat baik bagi sekolah-sekolah ersebut.
Jika saja pemerintah mau melakukan riset yang sungguh-sungguh untuk mencari pola peningkatan kualitas pembelajaran yang sesuai dengan kondisi Indonesia maka saya yakin kita akan dapat menggapai kemajuan lebih baik ketimbang sekarang.
Saya akan menantikan saat-saat itu.
Oleh: Satria Dharma on September 23, 2009
at 10:17 pm
ya pak setuju, kita punya pendapat yang sama untuk peningkatan mutu dan kualitas pendidkan di Indonesia. Perbaikan pendidikan di Indonesia nampaknya seperti memperbaiki pesawat yang sedang terbang, dilakukan sambil jalan, bisa juga asal jalan. Itulah adanya.
Tapi saya melihat adanya hal-hal positif dari konsep RSBI, terutama dengan adanya tanggung jawab dan perhatian Pemkab/Pemprop/ dan Pemerintah pusat dalam pelaksanaan RSBI. Seperti juga budaya bangsa kita yang selalu perlu diawasi dalam segala hal, maka pelaksanaan RSBI pun perlu pengawasan, pembinaan, dan evaluasi ketercapaiannya. semoga tulisan ini bermanfaat ya pak. thanks
Oleh: zahra chairani on September 24, 2009
at 1:43 am
Pak Satria, apakah bapak punya cara untuk menghentikan program yang “dungu” ini..? Saya pengajar Bahasa Inggris, tapi saya sama sekali tidak bisa menalar urgensi bilangual teaching, penggunaan Lap top atau lain2 alat yang tidak tepat unt anak2 karena jauh dari azas manfaat perlunya menggunakan semua itu di RSBI. Dengan bilangual teaching bisnis saya memang jadi kebanjiran order mengajar para guru itu, dari situ sekaligus saya tahu bahwa saat ini masih lebih banyak siswa yang bisa berbahasa inggris dari pada gurunya, tapi persoalan tidak berhenti disitu, pelajaran yang diterangkan dengan pengantar bahasa Indonesia saja masih sulit atau tidak setta merta langsung bisa paham terhadap pelajaran tersebut, nah ini dua-duanya, gurunya bahasa inggrisnya payah, anak ya anak, suruh belajar masih ada yang bermain dst. Kalau mau oraang / anak Indonesia bisa berbicara bahasa Inggris lancar, nggak begitu kan caranya? ini malah merusak semua, pelajarannya rusak, bahasa Inggrisnya tetap tidak bisa. Mestinya yang dirubah adalah kurikulumnya.Khusus kurikulum Bhs.Inggris jangan menggunakan pendekatan “Generative” yg berorientasi pada “Accurate and Perfect English”. kalau beringgris tidak tepat disalahkn oleh kurikulumnya. Mestinya ada pendekatan yang lebih bersifat fitrah bahasa yaitu “habit skill approach”yang orientasinya efektif dan efisien dlm berkomunikasi (komunikatif). Tidak ada satupun bangsa yang menggunakan bahasa tulis sebagai alat komunikasi lisan, tdk jg orang inggris. ini yg harus dibenahi.Bapak coba deh terapkan berbicara dlm bhs Indonesia sj dengan menggunakan konsep bahasa tulis, maka pasti segera tahu yang perlu diperbaiki adalah kurikulum mt.pelajaran Bahasa inggris mulai SD sd PT yang non fakultas Inggris. Mdh2an Bpk bisa menggalang peyelamatan negeri ini.
Oleh: agus S on Oktober 5, 2009
at 5:51 am
sy akan mengadakan penelitian ttg ini. bisa kasih saran???
Oleh: SHIRA on Oktober 7, 2009
at 3:24 am
Silahkan kalau mau neliti. Teliti dulu konsep RSBI dan SBI itu, konsepnya bener nggak? Kalau salah beri saran kepada penggagasnya untuk menghentikan program itu ….
Oleh: Kusuma Hadi on Oktober 11, 2009
at 10:00 am
maaf, bapak/ibu/sdr yang belum dapat menerima konsep RSBI, saya masih memiliki optimisme, bahwa program RSBI adalah program peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah yang selama ini cukup sulit untuk dilakukan. Dengan pengawasan, dan evalusi yang kontinu dilakukan bagi para pelaksana program terutama dalam pengelolaan dana guna program-program peningkatan SDM khususnya, sarana prasarana, dan fisik sekolah. Sedangkan bilingual dan TI adalah salah satu alat untuk meningkatkan kemampuan guru, sehingga mau mengakses sumber belajar , dan tidak asing dengan penggunaan teknologi. Guru memang dilatih untuk berbilingual sejauh mana tidak menghambat pemahaman konsep yang diajarkan.
Kalau muridnya lebih mahir berbahasa inggris dari guru saya menganggap wajar saja, malahan bisa jadi motivasi bagi guru untuk meningkatkan dirinya. Saya merasa akan lebih parah lagi kalau guru tidak bisa sama sekali berbahasa inggris dan menggunakan TI.
Oleh karena itu pengembangan diri bagi guru sangat perlu, karena guru profesional sudah dicanangkan (UU guru dan dosen no.14/2005)
Oleh: zahra chairani on Oktober 11, 2009
at 10:29 am
wahhh….knapa sy baru baca artikel bagus kyk gini skr yah…hehe
Pak satria, saya kebetulan sedang melakukan penelitian kecil tentang RSBI dan saya melihat bapak bnr2 paham mengenai the so called RSBI dan SBI…
saya minta bantuannya pak agar diberikan rekomendasi link, web, atau buku-buku yang bisa saya jadikan referensi mengenai hal tersebut diatas.
thx
Oleh: Dimas on November 1, 2009
at 3:24 am